SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Kompetisi sepak bola usia dini kembali membuktikan perannya sebagai ruang tumbuh bagi talenta-talenta muda. Dari lapangan lokal di Jawa Timur, tiga pemain kelahiran 2016 kini mendapat kesempatan merasakan atmosfer kompetisi internasional di Singapura.
Ketiganya akan memperkuat Fluxnesia Soccer Academy Jakarta pada ajang Singa Cup 2026 kategori U10 yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di The Rainforest Sports Hub, Singapura.
Tiga pemain muda asal Jawa Timur tersebut adalah Muhammad Zhafif Ad Yoca (Muzha) dari PANGGRES FA Gresik, Muhammad Iqbal Arsakha Rihardhikho (Arsakha) dari SSB El Faza Surabaya, serta Rajendra Ardhan Suhailin (Ardhan) yang merupakan pemain binaan ASIFA (Aji Santoso International Football Academy) Malang.
Di Singa Cup 2026, mereka tergabung dalam Grup F bersama Fortaleza Juniors dari Singapura, Bay Savanh FC dari Laos, dan Sunstrikers FC dari Filipina.
Bagi ketiganya, tampil di Singapura bukan sekadar kesempatan bertanding. Turnamen tersebut menjadi pengalaman penting untuk mengukur kemampuan mereka menghadapi pemain-pemain seusia dari berbagai negara.
Singa Cup sendiri menjadi salah satu turnamen sepak bola usia muda yang mempertemukan akademi dan sekolah sepak bola dari berbagai penjuru dunia. Selain Indonesia dan tuan rumah Singapura, peserta datang dari Malaysia, Thailand, Filipina, Laos, India, Mongolia, Australia hingga Kanada.
Sejumlah akademi yang ambil bagian antara lain Lion City Sailors, Invictus International School, Chonburi FC Soccer School Thailand, TSS Darul Ta'zim Malaysia, Bhaichung Bhutia Football Schools India dan Hishigten FC Mongolia.
Untuk kategori U10, Indonesia tercatat diwakili tiga akademi, yakni Neo Gen Football Academy, Fluxnesia Soccer Academy dan Denpasar City FC.
Perjalanan tiga pemain Jawa Timur tersebut menunjukkan bahwa panggung internasional tidak selalu dimulai dari kompetisi besar. Pengalaman bertanding di level lokal justru dapat menjadi bagian penting dalam membangun mental dan kemampuan pemain muda.
Muzha, misalnya, tercatat tampil pada Liga Surabaya U10 2026 bersama PANGGRES FA. Ia kemudian melanjutkan pengalamannya di Liga Surabaya U11 2026 bersama Haggana Surabaya.
Pemain muda asal Gresik itu juga pernah mengikuti International Youth Football Tournament Bali7s 2026 bersama WCP Pasopati Gresik.
Sementara Arsakha yang memperkuat SSB El Faza Surabaya juga mendapatkan pengalaman melalui Liga Surabaya U10 2026. Ia kemudian kembali merasakan kompetisi internasional melalui International Youth Football Tournament Bali7s U10 2026.
Adapun Ardhan merupakan pemain binaan ASIFA Malang, akademi sepak bola yang didirikan dan dibina oleh mantan pemain sekaligus legenda Timnas Indonesia, Aji Santoso.
Jejak ketiganya memperlihatkan bagaimana kompetisi lokal, festival sepak bola nasional maupun internasional, serta pembinaan yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi tahapan menuju level yang lebih tinggi.
Di antara ketiga pemain tersebut, perjalanan Muzha memiliki pengalaman tersendiri. Selain aktif mengikuti berbagai kompetisi usia dini, pemain muda kelahiran 2016 itu juga beberapa kali mendapat kesempatan menjadi player escort dalam pertandingan resmi Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).
Bagi pemain seusianya, kesempatan berjalan bersama pemain profesional menuju lapangan pertandingan tentu menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
Momen tersebut bukan hanya memberikan pengalaman berada di tengah atmosfer sepak bola profesional, tetapi juga dapat menjadi suntikan motivasi bagi pemain muda untuk terus berlatih dan menikmati proses pembinaan.
Kini, pengalaman dari berbagai lapangan di Jawa Timur tersebut membawanya bersama dua pemain muda lainnya ke Singapura.
Di usia yang masih sangat belia, target utama mereka bukan semata-mata soal gelar juara. Lebih dari itu, Singa Cup 2026 menjadi kesempatan untuk belajar, menambah jam terbang, membangun keberanian bertanding, serta mengenal atmosfer sepak bola internasional.
Dari Liga Surabaya menuju Singapura, perjalanan tiga putra Jawa Timur kelahiran 2016 ini menjadi gambaran bahwa mimpi besar dalam sepak bola dapat tumbuh dari proses kecil yang dijalani secara konsisten. did
Editor : Redaksi