SURABAYAPAGI.com, Banyuwangi - Berkat berbagai program pengentasan kemiskinan yang dijalankan, seperti Banyuwangi Berbagi dan Rantang Kasih, Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi, mencatat angka kemiskinan di Banyuwangi di penghujung 2026 turun menjadi 5,6 persen dari sebelumnya 6,13 persen pada 2025.
Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam mengatakan, jika dalam lima tahun terakhir, angka kemiskinan Banyuwangi konsisten menurun, pada 2021 di angka 8,07 persen turun menjadi 7,51 persen (2022), 7,34 persen (2023), 6,54 persen (2024), 6,13 persen (2025), hingga 5,6 persen pada 2026.
"Penurunan kemiskinan tidak hanya terlihat dari berkurangnya persentase dan jumlah penduduk miskin, tetapi juga diikuti penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), dan ini menunjukkan perbaikan kondisi kemiskinan, baik dari sisi rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan maupun ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin," jelasnya, Rabu (04/11/2026).
Ia memaparkan dinamika kemiskinan berkaitan dengan berbagai faktor, antara lain perkembangan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, aktivitas ekonomi, serta perubahan harga kebutuhan pokok, khususnya pangan.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan capaian tersebut merupakan hasil gotong royong dan kolaborasi seluruh pihak, termasuk dukungan masyarakat dalam menyukseskan berbagai program pengentasan kemiskinan. Salah satunya melalui program Banyuwangi Berbagi, yang melibatkan ASN dan masyarakat untuk menyalurkan bantuan sembako serta bahan pangan berprotein kepada warga miskin desil 1 dan 2.
"Ada juga Rantang Kasih, yakni pemberian makanan bergizi setiap hari bagi lansia miskin yang hidup sebatang kara. Selain itu, bantuan sosial dari pemerintah pusat maupun daerah juga terus disalurkan untuk meringankan beban masyarakat," kata Ipuk. by-01/dsy
Editor : Redaksi