SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya saat ini tengah mengupayakan penataan kawasan Balai Pemuda yang nantinya dinilai sebagai upaya menghadirkan ruang kebudayaan yang lebih terbuka, inklusif, dan bisa diakses seluruh pelaku seni di Kota Pahlawan. Lebih dari itu, langkah tersebut disebut sebagai bagian dari komitmen Pemkot Surabaya dalam memperkuat ekosistem kebudayaan kota.
Pengamat kebijakan sosial dan kebudayaan, M. Isa Ansori mengungkap, fasilitas publik seperti Balai Pemuda seharusnya menjadi ruang bersama, bukan hanya digunakan kelompok tertentu. Pasalnya, dalam kota yang terus berkembang, keteraturan dan transparansi pengelolaan aset publik merupakan hal yang penting. Pemkot, kata dia, memiliki tanggung jawab memastikan pusat kesenian dikelola secara sehat demi keberlanjutan aktivitas seni dan budaya.
Baca juga: 819 Petugas Parkir Surabaya Terapkan Parkir Digital, Pemkot Perluas Pembayaran Non Tunai
“Penataan yang disampaikan Wali Kota Eri Cahyadi pada dasarnya ingin menghadirkan ruang kebudayaan yang lebih terbuka dan adil. Ruang publik harus bisa diakses seluruh talenta kreatif Surabaya,” kata Isa, Senin (11/05/2026).
Baca juga: Momentum HJKS Jadi Magnet Wisata, Ribuan Warga Antusias Serbu Festival Rujak Uleg 2026
Lebih lanjut, Isa juga menyinggung dinamika yang sempat muncul antara Pemkot Surabaya dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Namun menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari proses komunikasi dalam membangun ekosistem kebudayaan yang lebih matang.
DIketahui, Penataan Balai Pemuda juga dinilai sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pembangunan kota, menurut Isa, tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik, tetapi juga harus memberi ruang ekspresi yang sehat bagi masyarakat kreatif.
Baca juga: Peringati Hari Jadi ke-733, Bayar Parkir Pakai QRIS di Surabaya hanya Rp733
Pihaknya juga berharap polemik yang terjadi bisa menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan kebudayaan di Surabaya untuk mengurangi ego sektoral dan kembali fokus membangun ruang seni yang inklusif. “Balai Pemuda harus kembali menjadi rumah bersama bagi seniman Surabaya. Kebudayaan tumbuh bukan dari kemenangan satu pihak, tetapi dari kesediaan untuk hidup berdampingan,” jelasnya. sb-03/dsy
Editor : Redaksi