SURABAYAPAGI.com – Gejolak di Timur Tengah telah mengguncang pasar minyak, dengan para pedagang minyak memperkirakan harga akan kembali naik pada Senin (14/9) menyusul serangan terhadap jaringan pipa minyak Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia. Beberapa hari terakhir, harga minyak menembus angka US$ 100 per barel.
Membahas konflik dengan Iran yang berlarut-larut, Trump mengatakan bahwa dirinya hanya akan menyepakati “kesepakatan yang tepat” dan tidak akan menyetujui kesepakatan yang “buruk”.
Baca juga: TRUMP INGIN PIMPIN CHINA DALAM AI
Dia juga kembali mengklaim bahwa Teheran “terus-menerus menghubungi” Washington untuk melakukan perundingan damai. Klaim tersebut sebelumnya telah dibantah keras oleh Iran.
Namun, Presiden AS itu juga mengemukakan sebuah opsi lain, yakni tetap terlibat dengan Iran. Dia membandingkan gagasan ini dengan kesepakatan yang telah dicapai AS dengan Venezuela, yang diumumkan pada Agustus lalu.
“Pada akhirnya kita akan keluar (dari Iran), kecuali jika kita memutuskan untuk tetap bertahan dan menguasai minyaknya seperti di Venezuela,” ucap Trump, sembari menambahkan bahwa pendapatan AS dari minyak Venezuela “telah membiayai perang berkali-kali lipat”.
Baca juga: AS Setujui Arab Saudi Bikin Energi Nuklir
Dalam pernyataannya, Trump juga menegaskan kembali harapannya soal perang melawan Iran akan berakhir tahun ini, kemungkinan tak lama setelah pemilu sela AS yang dijadwalkan pada November mendatang.
Dia juga menambahkan bahwa harga bensin akan “anjlok drastis” begitu perang dengan Iran berakhir.
Komentar serupa telah dilontarkan Trump sebelumnya. Dia sempat mengatakan bahwa perang melawan Iran akan berakhir sesaat usai pemilu sela digelar, sebelum kemudian menyebut bahwa perang bisa saja berakhir lebih cepat atau sebelum pemilu sela pada November mendatang.
Baca juga: Waspada! Harga Minyak Mentah Naik
Mengenai langkah AS menguasai cadangan minyak Venezuela, seperti dilansir The Hill, pemerintahan Trump telah mencapai kesepakatan dengan Caracas agar Washington membeli 20 persen minyak dari North American Blue Energy Partners -- perusahaan swasta yang merupakan produsen minyak terbesar kedua di Venezuela -- dengan harga sebesar biaya produksinya.
Minyak itu kemudian dapat digunakan oleh mengisi Cadangan Minyak Strategis AS, yang telah dimanfaatkan oleh pemerintahan Trump dan pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden dalam beberapa tahun terakhir, untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar yang melonjak tajam menyusul perang Iran dan invasi Rusia ke Ukraina. afp, rtr
Editor : Redaksi