Hadir Daring Dalam Anual Meeting Unesco Di Bulgaria, Ponorogo Soroti Keberlanjutan Reog di Tengah Gempuran AI

surabayapagi.com
Moderator Unesco saat memimpin jalannya dialog dalam 2026 UNESCO Creative Cities Network (UCCN) Crafts and Folk Art Subnetwork Annual Meeting yang berlangsung di Gabrovo, Bulgaria. 

Foto: 

 

 

 

 

SURABAYA PAGI, Ponorogo– Ketika kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat dan mengubah lanskap kreativitas, Ponorogo membawa persoalan keberlanjutan Reog ke panggung jejaring kota kreatif dunia.

 

Hal itu mengemuka dalam 2026 UNESCO Creative Cities Network (UCCN) Crafts and Folk Art Subnetwork Annual Meeting yang berlangsung di Gabrovo, Bulgaria, 16–20 September 2026. 

 

Forum internasional tersebut mempertemukan perwakilan kota-kota kreatif dari berbagai negara untuk membahas masa depan budaya, kerajinan tradisional, dan seni rakyat di tengah perubahan teknologi serta berbagai tantangan global. 

 

Pertemuan yang mengusung tema “Crafting Human Creativity for a Peaceful World” atau “Membangun Dunia Damai melalui Kreativitas Manusia” itu diikuti jejaring Crafts and Folk Art yang kini beranggotakan 80 kota dari 55 negara. Forum ini menjadi ruang pertukaran pengalaman dan praktik baik tentang bagaimana budaya dan kreativitas dapat menjadi penggerak masyarakat yang berkelanjutan dan damai. 

 

Ponorogo hadir daring dalam forum tersebut melalui Ketua Focal Point UNESCO untuk Ponorogo, Very Setiawan. Kehadiran Ponorogo menjadi penting karena kota ini tidak hanya membawa identitas Reog sebagai kekayaan budaya daerah, tetapi Ponorogo saat ini juga menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan kesenian tersebut tetap hidup dan diwariskan di tengah gempuran AI saat ini. 

 

Isu tersebut beririsan langsung dengan agenda yang dibahas dalam pertemuan di Gabrovo, terutama mengenai hubungan antara keterampilan tradisional dan bentuk-bentuk kreativitas baru. Penyelenggara menyebut forum ini memang memberi perhatian pada peran budaya, kerajinan, dan seni rakyat di tengah perubahan teknologi serta tantangan global. 

 

Bagi Ponorogo, tantangan itu memiliki konteks yang konkret. UNESCO sebelumnya pada 2024 memasukkan Reog Ponorogo Performing Art ke dalam List of Intangible Cultural Heritage (ICH) in Need of Urgent Safeguarding atau Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Membutuhkan Pelindungan Mendesak.

 

Dalam keputusannya, UNESCO mencatat pertunjukan Reog menghadapi penurunan karena masyarakat semakin memilih pertunjukan musik modern yang dinilai lebih praktis dan murah. 

 

UNESCO juga saat itu menyoroti semakin sulitnya menemukan maestro Reog serta berkurangnya ketertarikan generasi muda untuk mempelajari kesenian tersebut. Kondisi itu dinilai mengancam keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan Reog beserta kriya yang terkait dengannya. 

 

Persoalan tersebut kini berada dalam konteks baru, hadirnya AI yang semakin memengaruhi cara manusia mencipta, memproduksi, mendokumentasikan, dan menyebarkan karya kreatif.

 

Di satu sisi, teknologi membuka peluang bagi pelestarian budaya melalui dokumentasi digital, pengarsipan pengetahuan, pendidikan, promosi, hingga perluasan akses generasi muda terhadap Reog. Namun di sisi lain, keberadaan teknologi juga memunculkan pertanyaan mengenai posisi manusia sebagai pelaku utama kebudayaan.

 

Pertanyaan itulah yang relevan bagi Reog. Sebab, keberlanjutan kesenian tradisional tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak dokumentasi digital yang tersedia, tetapi juga oleh ada tidaknya generasi yang mau mempelajari gerak tari, musik, cerita, tata pertunjukan, pembuatan topeng, hingga berbagai keterampilan yang membentuk ekosistem Reog.

 

Dengan kata lain, teknologi dapat membantu mendokumentasikan Reog, tetapi keberlangsungan Reog tetap bergantung pada manusia yang mempraktikkan dan mewariskannya.

 

Posisi Ponorogo di forum Gabrovo juga memperkuat diplomasi budaya yang selama ini dibangun melalui jejaring UCCN. Dalam Creative Cities Connect 2025, Very Setiawan sebelumnya menyebut jejaring kota kreatif sebagai momentum untuk memperkuat koneksi Ponorogo dengan jejaring kota kreatif dunia.

 

“Tidak hanya memberikan paparan mengenai potensi dan strategi daerah, kami membawa misi agar jejaring kota kreatif yang ada terkoneksi kuat sebagai upaya membangun Ponorogo yang lebih maju,” kata Very . 

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keanggotaan Ponorogo dalam jejaring kota kreatif UNESCO tidak berhenti pada pengakuan internasional. Jejaring tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus mencari kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dengan kota-kota lain.

 

Dalam konteks Reog, ruang kolaborasi itu menjadi semakin penting. UNESCO mencatat ancaman terhadap Reog bukan hanya menyangkut pertunjukan, tetapi juga keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan yang melekat pada kesenian tersebut. 

 

Karena itu, kehadiran Ponorogo di Gabrovo membawa persoalan Reog ke dalam percakapan yang lebih luas: bagaimana warisan budaya tetap berakar pada kreativitas manusia ketika teknologi berkembang begitu cepat.

 

Forum Gabrovo sendiri menempatkan manusia dan kreativitasnya sebagai titik sentral. Tema “Crafting Human Creativity for a Peaceful World” menegaskan pentingnya keterampilan manusia, budaya, dan kreativitas dalam menghadapi perubahan teknologi dan berbagai tantangan global. 

 

Bagi Ponorogo, percakapan itu menjadi relevan dengan kondisi Reog saat ini. Setelah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya yang membutuhkan pelindungan mendesak, pekerjaan berikutnya bukan sekadar membuat Reog semakin dikenal dunia, tetapi memastikan pengetahuan dan keterampilan di baliknya tetap dipelajari dan dipraktikkan.

 

Di tengah gempuran AI, tantangan Reog bukan hanya bagaimana memanfaatkan teknologi, tetapi bagaimana memastikan teknologi tetap menjadi alat bagi manusia—bukan menggantikan manusia sebagai pewaris, pelaku, dan pencipta kebudayaan.

 

Dari Gabrovo, persoalan keberlanjutan Reog dengan demikian tidak lagi hanya menjadi urusan Ponorogo. Ia menjadi bagian dari percakapan global mengenai masa depan kreativitas manusia dan bagaimana warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman. roh

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru