Vaksin Covid Rusia Hadapi Politisasi Ilmiahnya

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Jurnalis Muda SP, Raditya Mohammar Khadaffi
Jurnalis Muda SP, Raditya Mohammar Khadaffi

i

Catatan Covid & Vaksinnya  (2)

 


SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Membayangkan, gimana penggunaan vaksin saat dewasa. Saya teringat sebelum berangkat umrah, harus menjalani vaksin. Namanya vaksin meningitis.

Calon jemaah umroh Surabaya, misalnya direkomendasi untuk mendatangi rumah sakit PHC Tanjung Perak, Poliklinik Juanda atau klinik yang ditunjuk.
Vaksin meningitis yang disuntikan ke lengan calon Jemaah umroh dan haji mengandung antigen, yaitu zat yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi dan melawan bakteri penyebab meningitis.
Bagi kalangan medis, vaksinasi meningitis penting dilakukan oleh semua orang untuk meminimalkan risiko penyakit meningitis. Penyakit ini bisa menular melalui bersin, batuk, atau ciuman. Terutama dengan orang-orang yang terinfeksi bakteri Neisseria meningitidis.

***

Saat ini sejumlah tenaga medis di dunia menyebut penularan virus Covid-19  terjadi melalui benda di sekitar kita yang tercemar virus Covid-19 yang kita sentuh, lalu menyentuh mulut, hidung, dan mata. Prosesnya hampir sama.

Pencegahan virus Covid-19 malah lebih tegas lagi yaitu setiap manusia disarankan menggunakan masker, jaga jarak dan sering cuci tangan. Ini semua untuk meminimalkan resiko tertular Covid-19.

Nah, kebutuhan vaksin Covid-19,  pada tubuh manusia tak ubahnya seperti suntik vaksin meningitis. Bedanya, vaksin meningitis sudah dikenal sejak tahun 1999 (meningitis C), satu tahun setelah ditemukan oleh ilmuwan Amerika Serikat dan Inggris.

Sementara vaksin Covid-19, sampai kini belum ada yang nyata-nyata dinyatakan aman oleh WHO.

Termasuk Vaksin  covid-19 asal Rusia, Sputnik. Vaksin ini telah diluncurkan sejak 11 Agustus 2020 lalu. Tapi keamanan dan efektivitas vaksin ini masih tanya tanya.
Padahal vaksin ini telah diumumkan sendiri oleh presiden Rusia Vladimir Putin. Vaksin yang dikembangkan oleh sejumlah ilmuwan Rusia telah disetujui untuk digunakan oleh regulator, setidaknya di Rusia.
Meski demikian, sampai Oktober ini vaksin Sputnik masih mendatangkan kekhawatiran di antara ilmuwan dan dokter di seluruh dunia.

Pertimbangannya, uji coba manusia untuk vaksin Sputnik V, baru berjalan beberapa bulan sebelum pengumuman Putin.
Hasil dari uji coba vaksin fase satu dan dua, juga baru saja diterbitkan di The Lancet. Apa yang telah kita pelajari dari situ?
Pertama, jenis vaksinnya. “Platform” vaksin yang digunakan dalam penelitian ini adalah adenovirus.

Virus flu biasa yang dinamakan Ad5 dan Ad26, bisa dibuat aman dan tidak mampu tumbuh di dalam tubuh oleh vaksin berbahan adenovirus.

Proses vaksin ini hanya berfungsi untuk mengirimkan kode genetik dari salah satu protein virus corona jenis baru, yakni protein spike (protein S), ke dalam sel.
Mekanisme kerjanya dengan menyuntikkan adenovirus yang telah dimodifikasi, sistem imun akan dirangsang untuk merespons protein paku pada saat imunisasi. Hasil penelitian ilmuwan Rusia,  dapat direspons sampai bertahun-tahun ke depan.

Pemahamannya bila orang yang diimunisasi tersebut terpapar virus corona penyebab Covid-19 yang dikenal dengan SARS-CoV-2.
Sejumlah ilmuwan Inggris menyebut platform vaksin yang digunakan ilmuwan Rusia bukan hal baru. Beberapa vaksin COVID-19 terkemuka juga menggunakan adenovirus, seperti vaksin Universitas Oxford dan vaksin Ad26 yang dikembangkan Johnson and Johnson.

Saat ini vaksin tersebut telah di uji coba pada hewan dan berhasil. Dan  sekarang sedang diuji pada manusia. Hasilnya belum diumumkan.

Sementara CanSino Biologicals, perusahaan Cina, juga telah menunjukkan bahwa vaksin Ad5 ciptaannya aman dan memberikan kekebalan terhadap virus korona pada manusia.
Namun, grup Rusia menunjukkan bahwa vaksin yang mereka siapkan lewat proses pengeringan beku dan stabil, akan mampu bekerja pada tingkat yang sama seperti vaksin cair yang dibekukan. Hal ini penting dalam pengiriman dan penyebaran vaksin.
Laporan The Lancet, salah satu jurnal pengobatan paling dikenal dan tertua di dunia  menguraikan data keamanan yang dapat diterima, bahkan dengan dosis tinggi yang digunakan.
Hasil keamanan ini oleh sejumlah ilmuwan dianggap tidak mengejutkan. Mengingat  keamanan beberapa vaksin berbasis adenovirus untuk berbagai penyakit telah dibuktikan dalam penelitian sebelumnya.

***

Jadi vaksin ini terbukti aman, setidaknya untuk masyarakat sehat di rentang usia 18-60 tahun. Tapi apakah ini dapat melindungi manusia dari rentan usia sebelum 18 tahun atau setelah usia 60 tahun dari COVID-19?

Tim peneliti obat dari Rusia menunjukkan bahwa vaksin mereka menghasilkan tingkat antibodi tinggi yang dapat mengikat protein paku. Namun, hal yang lebih penting adalah apakah tingkatan antibodinya berguna?. Dapatkah antibodi ini mencegah atau menetralkan infeksi virus ke dalam sel?

Ada peneliti global yang menilai tingkat penetralan antibodi dalam studi ini cukup rendah jika dibandingkan dengan uji coba vaksin lain. Begitu juga dengan respons sel T (lengan lain dari respons adaptif sistem kekebalan).

Salah satu interpretasi dari hal ini adalah vaksin ini tidak menghasilkan perlindungan penetral yang baik. Atau, bisa jadi metode yang digunakan untuk mengukur respons imun belum optimal.

Dengan tidak adanya standar referensi internasional, WHO tidak yakin apakah vaksin buatan Rusia lebih baik atau lebih buruk dibanding vaksin serupa yang diproduksi China.
Ada pemikiran dari peneliti medis, terlepas dari hasil positif fase satu uji coba vaksin Sputnik V, vaksin dari Rusia ini masih perlu diuji pada kelompok yang lebih besar sebelum dapat digunakan seluruh populasi dengan yakin.

Menurut sebuah jurnal pengobatan, semua vaksin masih perlu diuji pada jumlah kelompok yang lebih besar yaitu dari kelompok umur dan etnisitas yang berbeda.

Bahkan dalam fase ketiga uji kliniknya. Dan fase uji ketiga penting untuk menentukan apakah vaksin ini dapat melindungi dari infeksi Corona atau tidak?.

Fase ini juga penting untuk memperlihatkan efek samping yang jarang yang mungkin tidak terlihat pada kelompok kecil yang sebelumnya diuji. Menurut beberapa ilmuwan Amerika Serikat, fase terakhir dari uji coba ini bukan sesuatu yang bisa atau harus ditinggalkan.
Polemik vaksin Sputnik ini ada yang mengatakan telah memasuki fase politisasi  ilmiah dan medis dalam pengembangan vaksin pencegah COVID-19.

Maklum, Sputnik adalah satelit buatan manusia pertama yang berhasil diorbitkan. Satelit itu diluncurkan oleh Uni Sovyet pada 1957, di tengah Perang Dingin dengan Amerika Serikat.

Dalam beberapa jurnal medis, ada yang mengatakan “Nasionalisme vaksin” ini dianggap sumber keprihatinan bagi semua orang di bidang vaksin.

Sejumlah peneliti diluar Rusia bahkan ada yang setuju  bahwa vaksin memiliki kekuatan untuk memberantas penyakit, tapi ini hanya bisa  diterima atau dilakukan jika masyarakat terbuka menerima vaksin tersebut. Nah, Indonesia apakah siap menerima vaksin dari Rusia ini. Atau kelak akan membuat vaksin nasional Indonesia sendiri?. Kita Tunggu saja guys. ([email protected])

Berita Terbaru

MilkLife Kickers Runner-up Singa Cup 2026, Misi Cetak Talenta Timnas Jadi Target Berikutnya

MilkLife Kickers Runner-up Singa Cup 2026, Misi Cetak Talenta Timnas Jadi Target Berikutnya

Sabtu, 07 Nov 2026 17:09 WIB

Sabtu, 07 Nov 2026 17:09 WIB

SurabayaPagi, Singapura – MilkLife Kickers harus mengubur ambisi meraih gelar juara Singa Cup 2026 kategori Girls U14. Meski mengoleksi sembilan poin dari tiga …

Disbudpar Jatim Gelar Business Matching Penguatan Desa Wisata di Sidoarjo

Disbudpar Jatim Gelar Business Matching Penguatan Desa Wisata di Sidoarjo

Sabtu, 07 Nov 2026 16:09 WIB

Sabtu, 07 Nov 2026 16:09 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim mendorong serta memperkuat pengembangan desa wisata di wilayah Kabupaten Sidoarjo dengan…

Akses KUR Dipermudah, DPR RI Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Surabaya Naik Kelas

Akses KUR Dipermudah, DPR RI Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Surabaya Naik Kelas

Sabtu, 07 Nov 2026 14:39 WIB

Sabtu, 07 Nov 2026 14:39 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Akses permodalan menjadi salah satu tantangan yang harus dijawab untuk mempercepat pertumbuhan usaha ekonomi kreatif, terutama bagi p…

Fraksi PDI perjuangan DPRD Jatim Singgung Majadigi, Aduan Rakyat Harus Tuntas

Fraksi PDI perjuangan DPRD Jatim Singgung Majadigi, Aduan Rakyat Harus Tuntas

Sabtu, 07 Nov 2026 10:20 WIB

Sabtu, 07 Nov 2026 10:20 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Aplikasi Majapahit Digital (Majadigi) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur didorong naik kelas menjadi platform…

Bupati Yuhronur Efendi Berangkatkan Peserta Ziarah Wali Songo Penerima Voucher Jalan Sehat HSN PCNU Lamongan

Bupati Yuhronur Efendi Berangkatkan Peserta Ziarah Wali Songo Penerima Voucher Jalan Sehat HSN PCNU Lamongan

Jumat, 06 Nov 2026 22:38 WIB

Jumat, 06 Nov 2026 22:38 WIB

SURABAYAPAGI COM, Lamongan – Bupati Lamongan Yuhronur Efendi memberangkatkan peserta ziarah Wali Songo, penerima voucher dalam rangkaian kegiatan Jalan Sehat H…

Waduk Karangkates Disulap Jadi Pembangkit Energi Surya 133 MWp, PLN Kawal Percepatan Proyek

Waduk Karangkates Disulap Jadi Pembangkit Energi Surya 133 MWp, PLN Kawal Percepatan Proyek

Jumat, 06 Nov 2026 19:04 WIB

Jumat, 06 Nov 2026 19:04 WIB

SurabayaPagi, Malang – Permukaan Waduk Karangkates di Kabupaten Malang, Jawa Timur, disiapkan menjadi sumber energi listrik bersih melalui pembangunan P…