Tidak Semua Bagian Vaksin Bermanfaat bagi Tubuh yang di Vaksin

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Prof dr. Chairul Anwar Nidom
Prof dr. Chairul Anwar Nidom

i

 

Wawancara Ekslusif dengan Prof Nidom, Guru Besar Biologi Molekuler Unair

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Pemerintah Indonesia telah melakukan finalisasi pembelian vaksin untuk Covid-19 dari tiga perusahaan produsen vaksin, yaitu CanSino, G42 atau Sinopharm, dan Sinovac. Sementara, yang baru datang di Indonesia, yakni 1,2 juta dosis vaksin Sinovac asal China. Namun, Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof. dr. Chairul Anwar Nidom menjelaskan ada efek bahaya vaksin Covid-19 yang berpotensi menimbulkan fenomena ADE (Antibody-dependent enhancement) terkait temuan susunan asam amino virus corona SARS-CoV-2 alias Covid-19. Wartawati Surabaya Pagi, Byta Indrawati, menghubungi dan mengklarifikasi kepada pria yang juga Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin Covid-19, Selasa (15/12/2020).

Prof Nidom, sapaan akrabnya saat dihubungi wartawan harian kita secara daring, menjelaskan, bahwa vaksin sendiri dibuat dari bahan yang menginfeksi. Artinya suatu penyakit di infeksi oleh virus.  "Awalnya tidak ada obat, atau bahan-bahan yang bisa menetralisir virus itu. Oleh karena itu diambil bagian dari virus itu. Jadi vaksin itu adalah virus itu sendiri," kata Prof Nidom kepada Surabaya Pagi, Selasa (15/12/20).

Perkembangan keilmuan kemudian bisa dilanjutkan bahwa vaksin tersebut dibuat dari bahan atau keseluruhan dari virus. "Jadi ada yang namanya inaktif, ada virus aktif yang dari alam yang di inaktifkan, dengan bahan dasar seperti formalin setelah itu di inaktifkan itu sudah bisa disuntikan," ujarnya.

Harapannya ialah menunjukkan timbulnya antibodi, dimana nanti antibodi tersebut ada, virus berikutnya yang datang atau yang mirip dengan yang dibuat untuk vaksin,  maka antibodi bisa menetralisir virus yang masuk.

Tetapi vaksin yang inaktif menurut Prof Nidom, bisa menimbulkan suatu masalah, sebab tidak semua bagian dari vaksin bisa bermanfaat kepada tubuh yang di vaksin. "Oleh karena itu, perkembangan teknologi itu ada namanya bermacam-macam. Seperti saat ini yang sedang di buat untuk Covid ini ada sekitar 6-7 model vaksin," tuturnya.

Prof Nidom kemudian menjelaskan beberapa bagian dari vaksin yang sedang di di teliti dan di kembangkan untuk Covid - 19. Seperti, In activity cul vaksin seperti sinovac dan sinovam. Kemudian RNA vaksin, yaitu bagian dari virus tersebut, RNA nya diambil kemudian dibuat vaksin.

Lalu DNA vaksin, DNA vaksin diambil dan di suntikkan sebagai vaksin. Serta, Subunit vaksin yaitu vaksin protein yang di ambil sebagian dan di suntikkan. "Teknologi-teknologi itu untuk mengeliminasi atau mendeteksi sains efek. Virus yang sudah di olah tadi, masuk dalam industri vaksin dan di lakukan formulasi," terangnya.

Formulasi tersebut nantinya bisa ditambahkan macam-macam sesuai dengan ke khas an dari industri tersebut. Salah satunya penambahan yang namanya adjuvant "Adjuvant ini berfungsi meningkatkan bahan dari virus itu kalau masuk ke dalam tubuh bisa meningkatkan respon antibodi yang lebih baik lagi," jelasnya.

 

Efek Keracunan

Tetapi, Prof Nidom mengingatkan bahwa penambahan formulasi tersebut terdapat bahan-bahan kimia, maka bisa menimbulkan efek toxic atau keracunan. "Di dalam konsep vaksin, kalau kita sudah sekali menyuntikkan, kalau keliru kita tidak punya alat atau mekanisme untuk menarik kekeliruan itu dan tidak ada cara untuk mengeluarkan. Oleh karena itu prinsip kehati-hatian sangat penting, minimal ada 2 tahap. Pertama tahap preklinik yang di lakukan pengujian dari berbagai macam hewan dan tidak menimbulkan keracunan, baik jangka pendek maupun jangka panjang," jelasnya.

Maka vaksin tersebut bisa direkomendasikan untuk uji klinis pada manusia. Hal ini juga tidak bisa dilakukan bila di uji hewan tidak lolos. Hal tersebut menurut Prof Nidom yang menunjukkan betapa sulit dan reportnya membuat vaksin.

Prof Nidom kemudian memberikan klarifikasi terhadap pernyataannya sendiri yang ditayangkan di CNN Indonesia TV pada Oktober 2020 lalu, mengenai adanya bahaya dari vaksin yang sedang di teliti, maka ia mengingatkan bahwa penyakit virus utamanya adalah menggunakan vaksin, tetapi tidak semua virus sampai saat ini bisa didekati oleh vaksin.

"Saya ingin mengingatkan bahwa tidak semua virus di intervensi atau di dekati dengan vaksin. Karena sifat virusnya atau karena teknologinya belum ditemukan," ungkapnya.

Beberapa contoh virus yang belum mendapat penanganan dari vaksin, seperti demam berdarah, padahal virus demam berdarah ini tidak kalah dengan Covid - 19. Lalu SARS, Mers, Ebola, dan HIV.

"Kami menganalisis virus Covid - 19 Indonesia, mempunyai efek atau motif Antibody-Dependent Enhancement/ADE alat virus ini untuk mengelabuhi atau berkelit dari antibodi yang ada di dalam tubuh. Saya mohon penelitian dari biofarma terhadap sinovac bisa ditambahi dengan riset ini. Juga harus ada laporan terbuka," imbuhnya.

 

Efek Bisnis

Prof Nidom sendiri memaklumi bahwa bagaimana pun, vaksin yang sedang digaungkan tidak bisa disembunyikan bahwa vaksin tersebut memiliki efek bisnis. "Jangan sampai mengutamakan bisnisnya, lalu aspek keselamatan dan lain-lain diabaikan dengan alasan bahwa penyakit ini berbahaya," keluhnya.

Ia juga mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa jangan sampai melakukan euforia bahwa vaksin tersebut ada dan membuat masyarakat terlena sehingga melupakan budaya menggunakan masker, yang bisa mengantisipasi dan mengurangi penularan Covid - 19.

"Sebetulnya ada hal yang paling sederhana dengan menutup hidung dan mulut saja dengan masker. Masyarakat tinggal disiplin saja maka aktivitas ekonomi bisa kembali dijalankan. Yang penting menjaga mulut dan hidung," pungkasnya. byt/cr3/ds/rmc

Berita Terbaru

Menteri Haji Ungkap Kendala Biaya Haji 2027, Tarif Penerbangan Saudia Airlines Masih Lebih Mahal 

Menteri Haji Ungkap Kendala Biaya Haji 2027, Tarif Penerbangan Saudia Airlines Masih Lebih Mahal 

Jumat, 25 Sep 2026 22:11 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 22:11 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengungkapkan pembahasan biaya penyelenggaraan ibadah haji 2027 masih berlangsung. S…

UNS Rebut Gelar Juara Beregu Campus League Badminton 2026 Usai Drama Tiga Set Lawan BINUS

UNS Rebut Gelar Juara Beregu Campus League Badminton 2026 Usai Drama Tiga Set Lawan BINUS

Jumat, 25 Sep 2026 21:11 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 21:11 WIB

SurabayaPagi, Bandung — Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta merebut gelar juara beregu Campus League Badminton 2026 - The Nationals setelah m…

Beredar Beras Bantuan Pangan Berubah Warna, Bulog Pastikan Tidak ada Beras Oplosan Seperti yang Diisukan

Beredar Beras Bantuan Pangan Berubah Warna, Bulog Pastikan Tidak ada Beras Oplosan Seperti yang Diisukan

Jumat, 25 Sep 2026 21:08 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 21:08 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Adanya peredaran beras bantuan pangan yang berubah warna di wilayah Semanding Tuban, langsung ditanggapi oleh Bulog Cabang B…

Pupuk Bersubsidi Jatim Masih Tersisa 557 Ribu Ton, Fraksi PDIP Dorong Pengawasan Ketat

Pupuk Bersubsidi Jatim Masih Tersisa 557 Ribu Ton, Fraksi PDIP Dorong Pengawasan Ketat

Jumat, 25 Sep 2026 20:44 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 20:44 WIB

SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA - Penyaluran pupuk bersubsidi di Jawa Timur hingga 21 September 2026 baru mencapai 73,64 persen. Dari total alokasi 2.115.951 ton,…

Karyawan PT SPS di 5 Pabrik Gelar Doa Bersama Untuk para Korban Kecelakaan Kerja

Karyawan PT SPS di 5 Pabrik Gelar Doa Bersama Untuk para Korban Kecelakaan Kerja

Jumat, 25 Sep 2026 19:42 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 19:42 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Sebagai bagian dari duka atas tragedi kecelakaan pekerjaan yang menewaskan 4 karyawan dan 3 lainya masih perawatan, semua karyawan…

Empat Raperda Masuk DPRD, Aturan CSR Juga Ikut Diubah 

Empat Raperda Masuk DPRD, Aturan CSR Juga Ikut Diubah 

Jumat, 25 Sep 2026 19:21 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 19:21 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Pemkot Madiun ingin memperjelas peran forum yang mengoordinasikan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Untuk itu, Pemkot m…