Jelang Reshuffle, Nadiem Cari Dukungan Politik ke Mega

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat bertemu dengan Ketua Umum PDI-Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat bertemu dengan Ketua Umum PDI-Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri

i

 

Pendapat ketua bidang Pendidikan PBNU Dr. Hanif Saha Ghafur, Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, Maulina Pia Wulandari, Ph.D, Pengamat Politik Universitas Brawijaya Wawan Sobari, S.IP., MA., Ph.D. dan pengamat Politik Adi Prayitno

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Di tengah ombak resuffle yang sedang naik, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim,  mendadak bertemu dengan Ketua Umum PDI-Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri. Sowannya Nadiem ke Bu Mega ini diunggah bos driver online di akun Instagram pribadinya pada Selasa (20/4/2021) malam.

"Ngobrol dua jam sama Bu Mega, diskusi strategi mempercepat Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila. Saya banyak belajar dari pengalaman beliau," tulis Nadiem dalam akun instagramnya

Unggahan Nadiem ini pun mendapat banyak komentar satire dari netizen Indonesia. Banyak yang berspekulasi bahwa tindakan Naadiem sebagai bentuk lobi politik Nadiem agar terbebas dari isu resuffle. Karena sebelumnya nama Nadiem digadang-gadang masuk dalam 5 menteri yang akan diganti ole Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Alhamdulillah sudah silahturahmi dengan ibu, dijamin lolos dari resuffle," tulis akun @tomyhaji123_boz

Surabaya Pagi mengkonfirmasi spekulasi yang muncul di masyarakat ke beberapa pakar politik dan komunikasi. Diantaranya, ketua bidang Pendidikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr. Hanif Saha Ghafur, Maulina Pia Wulandari, Ph.D selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, Pengamat Politik Universitas Brawijaya Wawan Sobari, S.IP., MA., Ph.D. dan pengamat Politik Adi Prayitno.

Menurut Dr. Hanif Saha Ghafur, dengan pertemuannya Nadiem dengan Megawati, sosok Nadiem Makarim dianggap sangat tepat untuk memimpin Kemendikbud-Ristek. Apalagi dengan terobosan selama ini serta upaya Nadiem menunjukkan kinerja kepada Ketua PDIP Megawati Soekarno Putri.

Jadi, dengan digabungkan dua Lembaga ini, akan membawa manfaat penting bagi pendidikan dan riset kedepan. “Penggabungan ini dipercaya akan sukses dan memberikan manfaat yang sangat penting bagi pendidikan dan riset,” ujar Dr. Hanif.

Dr. Hanif Saha Ghafur menambahkan, Nadiem Makarim dinilai memiliki pengalaman dalam mengurus manajemen dengan baik.

“Saya percaya Mas Nadiem mampu melaksanakan integrasi Kemendikbud dan Kemenristek. Tinggal bagaimana lahir kebijakan-kebijakan dari Presiden terimplementasi ke Kementerian,” tuturnya.

 

Lakukan Lobi Simbolik

Sedangkan, menurut Wawan Sobari, pertemuan Bu Mega dan Nadiem sangat spekulatif. Spekulatif yang dimaksudkan adalah pertemuan tersebut merupakan suatu langkah lobi politik dari Nadiem untuk mengamankan posisi atau jabatannya sebagai menteri

"Tapi memang kalau kita baca opini publik, opini yang diarahkan ke pak menteri tidak baik. Apakah langkah pak Nadim bertemu bu mega untuk lobi politik? Dalam konteks politik, ini memang salah satu bentuk lobi," kata Wawan Sobari kepada Surabaya Pagi, Rabu (21/04/2021).

Lobi politik sendiri kata Wawan, terbagi menjadi dua bagian. Pertama adalah lobi yang dilakukan secara langsung atau terang-terangan, dan berikutnya adalah lobi secara simbolik.

Secara konteks, pertemuan Nadiem dan Bu Mega berdasarkan unggahan Nadiem adalah untuk mendiskusikan sekaligus menjelaskan program merdeka belajar kepada Bu Mega yang juga adalah ketua umum dari partai penguasa yakni PDIP. Secara simbolik, Nadiem ingin menunjukan bahwa selama ini dia bekerja dengan baik dan memiliki pragrom yang bagus untuk dunia pendidikan, sehingga sudah sepatutnya ia di dukung dan tak harus digantikan.

"Nah jadi, kalau saya itu melihatnya ini bisa lobi simbolik. Tidak to the point dan langsung katakan ke bu Mega, ibu mega ayo selamatkan saya," kata Wawan.

Tindakan yang seperti ini kemudian mendatangkan spekulasi. Dalam kajian politik katanya, ada kajian makna penginterpretasi.

"Upload beliau itu di tengah isu yang saat ini, bisa disimbolkan sebagai lobi simbolik," ucapnya

 

Hak Prerogratif Presiden Vs Parpol

Kendati begitu, Wawan pun ragu apakah pertemuan Nadiem dan Bu Mega akan menjauhkan ombak resuffle dari Nadiem atau sebaliknya. Namun bila spekulasi publik benar, bahwa pertemuan tersebut adalah untuk mengamankan posisi Nadiem maka yang terjadi bisa saja ia terselamatkan.

"Nah ini yang saya terus terang susah prediksi. Tapi ini kalau sebagai salah satu simbolik bisa iya," ucapnya

Dalam konstitusi lanjutnya, presiden sebagai kepala negara memiliki hak prerogatif. Dimana segala keputusan presiden tidak dapat dicampuri oleh siapapun.

"Semua usaha bisa dilakukan oleh siapapun untuk mengamankan jabatan. Tetap keputusan terakhir di tangan Presiden," katanya

Ia pun mengingatkan resuffle kabinet yang sebelumnya pernah dilakukan. Nama-nama menteri seperti Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama yang dianggap aman justru tergantikan oleh Sandiaga Uno.

"Karena sampai sekarang ini, ada nama yang tidak terduga seperti menteri ekonomi kreatif kena diresuffle. Jadi spekulasi tidak pas juga, karena presiden punya pertimbangan lain," ucapnya

Celakanya wajah partai politik (parpol) di Indonesia kebanyakan sangat oportunis. Segala keputusan yang dibuat oleh para pengurus partai adalah demi kepentingan dan kemajuan partai dimana ia bernaung.

"Partai itu sangat oportunis, kalau pengganti Nadiem dari PDIP ya gak ada masalah dengan PDIP. Atau calon lain yangg disetujui oleh bu mega, di luar PDIP gak ada soal. Spekulasi ini bisa beredar apapun. Itu susahnya kita belum dapat berita A1," katanya

 

Nadiem Butuh Dukungan Elit Politik

Sementara itu Maulina Pia Wulandari menyebut, kunjungan Nadiem dengan Bu Mega adalah untuk mencari dukungan politik.

Berbeda dengan spekulasi netizen, wanita yang akrab disapa Pia ini menjelaskan, dukungan politik yang dimaksudkan adalah berkaitan dengan program merdeka belajar ala Nadiem dan bukan soal isu resuffle.

Komunikasi Nadiem soal program merdeka belajar selama ini kata Pia, hanya diapresiasi oleh publik khususnya perguruan tinggi. Celakanya, secara politik masih banyak elite politik yang menolak ide tersebut.

 

Komunikasi Nadiem, Merah

Secara komunikasi politik khususnya kepada elite politik, Pia memberikan catatan merah. Karena selama ini yang dilakukan oleh Nadiem adalah komunikasi ala generasi milenial.

"Menurut saya dia mencari dukungan politik untuk ini (merdeka belajar, red) bisa deal di DPR. Kalau untuk resuffle jokowi unpredictable," kata Pia.

"Kalau komunikasi ke publik, cukup populer. Dia selalu menyampaikan melalui instagramnya hampir sama dengan Sandiaga Uno. Okelah dari 1-5 saya kasih nilai 4," ucapnya lagi.

Meski begitu, Pia secara sadar mengakui program tersebut belum bisa diterapkan di lingkungan pendidikan khususnya perguruan tinggi. Hal ikhwal yang mendasarinya adalah kesiapan kurikulum, kapasitas dosen serta materi pembelaran.

"Kalau kita bilang, saya adalah Tim MBKM di fakultas, itu tidak mudah untuk mengimplentasi skema merdeka belajar. Kita tidak mudah mempersiapkan kurikulum, materi, kualitas dosennya. Jadi butuh persiapan yang besar," ucapnya

"Tapi secara ide ini bagus, di luar negeri sudah terbiasa dengan itu," tambahnya lagi

Tak hanya itu, Pia juga mengomentari cara berpakaian Nadiem yang selalu terlihat santai disetiap pertemuan tak terkecuali pertemuan negara. Menurutnya, tidak selamanya harus berpakaian santai dengan sneakers atau kaos untuk menunjukan jiwa milenial. Setiap pertemuan khususnya pertemuan resmi kenegaraan harus juga disesuaikan cara berpakaian. Karena dengan begitu, orang yang hadir akan merasa dihargai dan dihormati.

"Dia harus menghormati lagi tata cara protokol kenegaraan. Pakaian yang dipakai juga harus disesuaikan dengan momen dimana dia berada. Kalau acaranya resmi gunakanlah pakaian yang resmi," katanya.

 

Suaka Politik

Sedangkan pengamat politik Adi Prayitno menilai Nadiem sedang mencari suaka politik ke partai penguasa di pemerintahan Jokowi saat ini.

"Dugaan Nadiem mencari suaka politik cukup menguat dengan menghadap Ketum PDIP. Setidaknya itu bisa diukur dari respons publik dan komentar di media sosial," kata Adi Prayitno, Rabu (21/4/2021).

Belakangan ini, sebelum isu reshuffle menguat, Kemendikbud yang dipimpin Nadiem beberapa kali dikritik. Nadiem, kata Adi, dinilai salah satu menteri yang layak dievaluasi.

"Publik itu sangat pintar membaca gerak-gerik elite karena sudah terbiasa dengan suasana politik semacam itu. Apa lagi belakangan ini Nadiem kerap diserang-serang menteri yang layak dievaluasi," ujar Adi.

Pertemuan Nadiem Makarim dengan Megawati dinilai tak mungkin lepas dari manuver politik. Sebab, pertemuan itu diungkapkan di tengah derasnya kritik kepada Nadiem.

"Tak mungkin ada asap kalau tak ada api. Nadiem menghadap Megawati tak lahir dari ruang hampa. Tapi terjadi di tengah derasnya kritik publik yang mengarah pada dirinya yang diberi rapor merah sama publik," ucap Adi.

Menurut Adi, tak perlu seorang ahli untuk menjelaskan makna Nadiem menghadap Megawati. Adi mengatakan tak menutup kemungkinan Nadiem juga meminta petuah kepada Megawati.

"Bahwa Nadiem niat silaturahmi atau minta petuah Mbak Mega mungkin saja itu ada. Tapi, jika membaca konteks, sukar jika tak dikaitkan dengan derasnya kritik yang setiap saat mengarah pada dirinya," sebut Adi. na/sem/cr2/rmc

Berita Terbaru

MilkLife Kickers Runner-up Singa Cup 2026, Misi Cetak Talenta Timnas Jadi Target Berikutnya

MilkLife Kickers Runner-up Singa Cup 2026, Misi Cetak Talenta Timnas Jadi Target Berikutnya

Sabtu, 07 Nov 2026 17:09 WIB

Sabtu, 07 Nov 2026 17:09 WIB

SurabayaPagi, Singapura – MilkLife Kickers harus mengubur ambisi meraih gelar juara Singa Cup 2026 kategori Girls U14. Meski mengoleksi sembilan poin dari tiga …

Disbudpar Jatim Gelar Business Matching Penguatan Desa Wisata di Sidoarjo

Disbudpar Jatim Gelar Business Matching Penguatan Desa Wisata di Sidoarjo

Sabtu, 07 Nov 2026 16:09 WIB

Sabtu, 07 Nov 2026 16:09 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim mendorong serta memperkuat pengembangan desa wisata di wilayah Kabupaten Sidoarjo dengan…

Akses KUR Dipermudah, DPR RI Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Surabaya Naik Kelas

Akses KUR Dipermudah, DPR RI Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Surabaya Naik Kelas

Sabtu, 07 Nov 2026 14:39 WIB

Sabtu, 07 Nov 2026 14:39 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Akses permodalan menjadi salah satu tantangan yang harus dijawab untuk mempercepat pertumbuhan usaha ekonomi kreatif, terutama bagi p…

Fraksi PDI perjuangan DPRD Jatim Singgung Majadigi, Aduan Rakyat Harus Tuntas

Fraksi PDI perjuangan DPRD Jatim Singgung Majadigi, Aduan Rakyat Harus Tuntas

Sabtu, 07 Nov 2026 10:20 WIB

Sabtu, 07 Nov 2026 10:20 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Aplikasi Majapahit Digital (Majadigi) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur didorong naik kelas menjadi platform…

Bupati Yuhronur Efendi Berangkatkan Peserta Ziarah Wali Songo Penerima Voucher Jalan Sehat HSN PCNU Lamongan

Bupati Yuhronur Efendi Berangkatkan Peserta Ziarah Wali Songo Penerima Voucher Jalan Sehat HSN PCNU Lamongan

Jumat, 06 Nov 2026 22:38 WIB

Jumat, 06 Nov 2026 22:38 WIB

SURABAYAPAGI COM, Lamongan – Bupati Lamongan Yuhronur Efendi memberangkatkan peserta ziarah Wali Songo, penerima voucher dalam rangkaian kegiatan Jalan Sehat H…

Waduk Karangkates Disulap Jadi Pembangkit Energi Surya 133 MWp, PLN Kawal Percepatan Proyek

Waduk Karangkates Disulap Jadi Pembangkit Energi Surya 133 MWp, PLN Kawal Percepatan Proyek

Jumat, 06 Nov 2026 19:04 WIB

Jumat, 06 Nov 2026 19:04 WIB

SurabayaPagi, Malang – Permukaan Waduk Karangkates di Kabupaten Malang, Jawa Timur, disiapkan menjadi sumber energi listrik bersih melalui pembangunan P…