Allah SWT
Allah tidak pernah melampaui batas dan tidak pernah berbuat aniaya (zalim) kepada siapa pun. Keadilan-Nya meliputi balasan amal perbuatan manusia di hari kiamat.
Allah SWT mengajak hakim hakim terutama muslim mengadili berdasarkan Al-Qur’an.
Kisah teladan keadilan dalam Islam ada di surat ke-95 dalam Al Quran yaitu, surat At Tin. Bahkan dalam surat ini menyinggung tentang sosok hakim yang paling adil.
Surat ini dinamakan At Tin karena Surat At Tin diawali dengan kata At Tin pada ayat pertamanya. Kata At Tin tersebut mengandung makna buah tin
Meskipun memiliki arti buah Tin, Surat At Tin tidak serta-merta hanya membahas yang berkaitan dengan buah Tin.
Salah satu kandungan dari Surat At Tin adalah membahas tentang kebesaran Allah SWT dalam penciptaan surga dan neraka. Hingga penciptaan makhluknya yang paling sempurna, yaitu manusia.
Menurut tafsir Ibnu Katsir, yang dimaksud keadilan Allah dari surat ini adalah Allah tidak pernah melampaui batas dan tidak melakukan aniaya terhadap siapa pun.
Artinya, Allah menciptakan neraka Jahannam hingga hari pembalasan hanya untuk orang-orang yang melanggar perintah-Nya. Sebagai hakim yang paling adil, Allah tidak akan mengadili orang-orang taat kepada-Nya dan meneladani rasul-Nya.
Sebab itulah sebagai umat muslim, sudah sebaiknya kita berlomba-lomba untuk menyiapkan bekal kita masing-masing di akhirat kelak.
Al-Quran Surat an-Nisa’ ayat 58, juga tercantum perintah Allah antara lain: ”Dan apabila menghukum di antara manusia, hendaklah menghukum dengan adil.”
Menghukum di sini berarti mentafsirkan/melaksanakan/mendudukan hukum, sehingga hukum dan keadilan (yang menjadi maksud dari hukum itu) dapat ditegakkan sebagaimana mestinya.
Dalam menegakkan keadilan tidak boleh dilupakan firman Allah di dalam al-Quran Surat ar-Rahman ayat 9, artinya: ”Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil, dan janganlah kamu mengurangi timbangan.”
Apalagi untuk hakim Islam, maka berlakulah perintah Allah seperti termuat dalam al-Quran Surat al-An’aam ayat 153, artinya: ”Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka turutlah! Dan janganlah kamu turutkan jalan-jalan (yang lain), karena nanti kamu terpisah dari jalan Allah. Itulah yang diperintahkan Allah kepada kamu, mudah-mudahan kamu bertakwa (terpelihara dari kejahatan).”
Dengan tegas Allah memerintahkan kepada semua manusia, apalagi para hakim, untuk mengadili atas dasar al-Quran, seperti terbaca pada Surat an-Nisaa’ ayat 105, artinya: ”Sesungguhnya Kami (Allah) menurunkan Kitab kepada engkau dengan sebenarnya, supaya engkau dapat mengadili manusia menurut yang telah diperlihatkan Allah kepada engkau. Janganlah engkau menjadi pembela orang-orang yang khianat.” Adapun yang dimaksud dengan ”khianat” ini terutama sekali ialah khianat kepada al- Quran. Khianat terhadap Sunnah Rasul. Dan juga jangan berkhianat kepada amanat yang dipercayakan kepada kamu, sedangkan kamu mengetahuinya
Juga surat ke-95 dalam Al Quran yaitu, surat At Tin. Bahkan dalam surat ini menyinggung tentang sosok hakim yang paling adil.
Rasulullah bersabda: Sesungguhnya orang-orang yang adil kelak di sisi Allah berada di tempat-tempat yang tinggi (mimbar) yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Zat Yang Maha Pengasih. Kedua tangannya merupakan tangan kanan orang-orang yang adil dalam keputusan mereka, keluarga mereka dan apa-apa yang dikuasakan kepada mereka.” (HR. Muslim dan Nasai).
Bahkan berbuat adil lebih utama dari amalan sunah seperti shalat malam dan puasa sunah puluhan tahun. Kenapa? Karena ketika seseorang mampu adil dalam urusannya, atau adil dalam memutuskan satu perkara dampaknya akan begitu besar terhadap kehidupan.
Maka dari itu seseorang hakim harus adil. Jangan sampai karena kepentingan sekelompok orang lalu memutuskan suatu perkara secara sepihak. Maka ketidak adilan akan mengantarkannya pada neraka. ([email protected])
Editor : Redaksi