SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Terbaru, lanskap rimbun hutan mangrove yang berada di kawasan pesisir timur Surabaya terlihat penuh dengan tumpukan sampah seiring semakin mendekati laut. Bahkan, aliran anak sungainya sudah tampak bak pembuangan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA), di mana kedua kaki saya sempat terpelosok dan separuh tubuh terhisap ke dalamnya.
Padahal, keberadaan mangrove sangat vital, karena tanpanya, tambak-tambak di belakangnya dipastikan tidak akan bisa bertahan dari hantaman ombak. Dan buruknya kualitas lingkungan, terutama kondisi tanah berlumpur di lokasi penanaman yang benar-benar sudah tercampur oleh tumpukan sampah, menyebabkan sekitar 2.000 bibit mangrove dilaporkan mati hanya dalam waktu kurang lebih dua bulan.
Mantan lurah setempat, Ari mengatakan, penanganan sampah 'kiriman' dan ancaman pendangkalan akibat tingginya volume sedimen di mulut sungai perlu intervensi di tingkat nasional. Aksi membersihkan sampah melibatkan di atas seribu orang, yang terdiri dari unsur pemerintahan, warga setempat, petani tambak, sampai nelayan. Namun, karena sulitnya medan perairan, relawan menggunakan perahu-perahu kecil dan jaring untuk mengumpulkan sampah langsung dari badan sungai.
Sedangkan alat berat berupa ekskavator (bego) dikerahkan di pinggiran sungai untuk mengangkut tumpukan sampah ke dalam truk. Sedangkan untuk dampak aksi pembersihan sungai tidak bertahan lama. Dalam waktu sekitar satu minggu, sampah-sampah baru kembali berdatangan dan mengotori sungai. "Memang harus melibatkan dari nasional juga ya. Bukan hanya normalisasi yang di sini (sungai yang sempat dibersihkan), tapi alirannya ke laut itu juga. Karena muaranya enggak tersentuh ya," tutur Ari, Minggu (11/10/2026). sb-05/dsy
Editor : Redaksi