SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Jawa Timur menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2026. Pemerintah daerah didesak memperkuat pengendalian pencemaran udara dan kesiapan fasilitas kesehatan untuk melindungi masyarakat dari risiko gangguan pernapasan.
Wakil Ketua DPRD Jatim dari Fraksi PDI Perjuangan, Deni Wicaksono, mengatakan rata-rata kasus ISPA sepanjang 2026 mencapai 151.750 kasus per bulan. Angka tersebut meningkat sekitar 36,2 persen dibandingkan rata-rata bulanan 2025 yang tercatat sebanyak 111.393 kasus.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jatim yang disampaikan dalam keterangannya, kasus ISPA pada Agustus 2026 mencapai 212.914 kasus, tertinggi sepanjang Januari–September tahun ini. Lima daerah dengan laporan kasus tertinggi meliputi Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Lamongan, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Deni meminta wilayah tersebut menjadi prioritas dalam upaya pencegahan dan pengawasan kualitas udara.
“Lonjakan kasus ISPA ini harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Penanganannya tidak bisa hanya bertumpu pada rumah sakit dan pengobatan. Pencegahan harus diperkuat, termasuk pengendalian pencemaran udara, pengawasan sumber emisi, serta perlindungan masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan,” tegas Deni, Minggu (18/10).
Menurut Deni, kondisi kemarau yang relatif kering juga perlu diantisipasi. BMKG memprediksi 56 dari 74 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 75,7 persen, mengalami curah hujan di bawah normal. Minimnya hujan dapat mengurangi pencucian polutan dari atmosfer dan meningkatkan paparan debu, sementara emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, konstruksi, dan pembakaran terbuka perlu mendapat perhatian. "Tiga hari terakhir ini bahkan kita melihat index kualitas udara di Surabaya dan sekitarnya sudah masuk kategori bahaya, maka Dinkes perlu melakukan langkah-langkah antisipatif," pinta anggota DPRD Jatim 2 periode ini.
Deni mendorong Pemprov Jatim bersama pemerintah kabupaten/kota memperluas pemantauan kualitas udara, khususnya partikel halus PM2.5 dan PM10. Ia juga meminta data kualitas udara dibuka kepada publik dan dikaitkan dengan tren kasus ISPA agar pemerintah dapat menentukan langkah intervensi secara lebih tepat. Meski demikian, ia mengingatkan peningkatan kasus ISPA tidak bisa langsung disimpulkan sepenuhnya akibat polusi karena faktor infeksi, cuaca, kepadatan penduduk, dan paparan lingkungan juga perlu dianalisis.
Selain pencegahan, kesiapan layanan kesehatan menjadi perhatian setelah RSUD dr Darsono di Kabupaten Pacitan dilaporkan mencatat tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) sebesar 88 persen pada Oktober 2026, dari total kapasitas 196 tempat tidur. Angka itu setara sekitar 172 tempat tidur terisi, lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada pada kisaran 55–60 persen.
Direktur RSUD dr Darsono, dr Johan Tri Putranto, menyebut peningkatan kunjungan terjadi di poliklinik, rawat jalan, instalasi gawat darurat (IGD), hingga rawat inap. Meski pelayanan disebut masih berjalan normal, Deni menilai data tersebut perlu menjadi pengingat agar pemerintah memantau kapasitas rumah sakit, ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, dan kesiapan IGD. Namun, kondisi satu rumah sakit belum cukup untuk menggambarkan tekanan layanan kesehatan di seluruh Jawa Timur.
Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim juga mendorong pengembangan sistem peringatan dini yang mengintegrasikan data kualitas udara, cuaca, titik panas, dan perkembangan kasus ISPA. Sistem tersebut diharapkan membantu pemerintah memberikan peringatan serta panduan perlindungan kepada masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan. Dinas Kesehatan Jatim juga diminta memperkuat surveilans penyakit pernapasan di daerah dengan laporan kasus tertinggi.
“Jangan sampai kita hanya sibuk menangani dampak ketika masyarakat sudah jatuh sakit. Pemerintah harus hadir melalui kebijakan pencegahan yang nyata, data yang terbuka, dan layanan kesehatan yang siap. Keselamatan serta kesehatan warga harus menjadi prioritas,” pungkas Deni.
Editor : Redaksi