SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Gaya Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang menetapkan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Azwar Anas sebagai pasangan Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018, menjadi perbincangan. Pasalnya, penetapan Bupati Banyuwangi sebagai Cawagub disebut-sebut tanpa dikomunikasikan lebih dulu dengan Gus Ipul. Ini berbeda dengan yang dilakukan Khofifah Indar Parawansa. Meski parpol pendukung menyerahkan pilihan pendamping (Cawagub) kepada Khofifah, tetapi wanita yang masih menjabat Menteri Sosial (Mensos) ini tetap berkomunikasi dengan pimpinan parpol maupun kiai-kiai Nahdhatul Ulama (NU). Apa ini berarti Megawati bersikap otoriter?
---------------
Laporan : Ibnu F Wibowo – Riko Abdiono, Editor : Ali Mahfud
---------------
Pengamat politik asal Universitas Airlangga (Unair) Ucu Martanto berpendapat sikap Mega yang menentukan Azwar Anas sebagai Cawagub Gus Ipul bukan tanpa alasan. Sebab, Azwar Anas merupakan satu dari beberapa tokoh yang memang mendaftarkan diri sebagai Cawagub di DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. "Kenapa tanpa meminta pertimbangan Gus Ipul? Karena PKB sudah menyerahkan ke PDIP secara total untuk memilih Cawagubnya. Jadi bukan menjadi masalah," terang Ucu kepada Surabaya Pagi, Selasa (17/10/2017).
Selain itu, lanjut Ucu, Gus Ipul dan Azwar Anas juga sudah melakukan komunikasi secara personal. Ini terlihat dari pertemuan keduanya di Banyuwangi sebelum ditetapkan sebagai pasangan Cagub dan Cawagub. "Mereka berdua juga sudah saling mengenal. Bahkan, dalam beberapa pemberitaan juga sudah pernah saling sanjung," papar Ucu.
Senada, diungkapkan pakar komunikasi politik asal Universitas Trunojoyo, Surokim Abdussalam. Menurutnya, hak menunjuk Cawagub tersebut diberikan PKB kepada PDIP agar partai berlogo banteng tersebut mau bersama-sama mengusung Gus Ipul. "Sebenarnya antara Gus Ipul dan Anas itu juga sama-sama memiliki kedekatan sejarah dengan Mega. Jadi mereka itu ibarat anak sendiri bagi Mega. Karena pasrah total itu maka sebenarnya itu tidak bisa dibaca sebagai langkah otoriter. Sekaligus hal ini memberi pesan kepada Gus Ipul dan juga yang lain bahwa posisi ketum PDIP absolut atas siapa saja yang mendapat rekom," terang Rokim.
Lebih lanjut, Rokim juga berpendapat langkah Megawati tersebut bisa juga dibaca sebagai unjuk kekuatan. "Sebagai penguasa tunggal atas kebijakan PDIP. Di sisi lain, koalisi PKB-PDIP jelas unik, kendati PDIP dapat jatah Cawagub, tapi daya tawar PDIP terhadap PKB cukup tinggi. Bahkan posisi PDIP jauh lebih dominan dibanding PKB, apalagi dalam koalisi nasional posisi PKB juga kalah kelas dibandingkan PDIP," unglapnya.
Yang berbahaya, menurut Rokim, justru style Azwar Anas. Sebab, sebagai bupati dua periode, Anas terbiasa menjadi Pemimpin utama. “Ini yang patut jadi perhatian,” tandas Rokim.
Anas Ingin PDIP Solid
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar langsung gerak pasca-penetapan dirinya sebagai calon wakil gubernur (Cawagub) Jawa Timur mendampingi Saifullah Yusuf oleh PDIP. Seakan Anas ingin menclearkan soal keraguan di internal partai berlambang banteng moncong putih itu.
Anas langsung menemui Ketua DPD PDIP Jawa Timur, Kusnadi di kantornya, Jalan Kendangsari Industri, Surabaya. "Ini silaturahim ke Pak Kusnadi. Kami berbicara tentang banyak hal," terang Anas usai bertemu Kusnadi, kemarin (17/10).
Untuk pemetaan dan menentukan langkah-langkah politiknya ke depan, Anas menganggap perlu meminta saran Kusnadi selaku ketua DPD PDIP Jawa Timur. "Kami meminta saran kepada beliau, karena Pak Kusnadi kan punya pengalaman segudang dalam melihat Jawa Timur, apalagi beliau juga wakil ketua DPRD Jatim," ucapnya.
Dalam pertemuan itu, Anas mengaku mendapat masukan bagaimana mempertajam program-program kerakyatan. "Saya mendapat banyak insight baru. Ini kami kolaborasikan untuk mengembangkan daerah dan menyukseskan agenda Nawacita Presiden Joko Widodo yang sudah terbukti menjawab problem-problem rakyat," papar Anas.
Sementara Kusnadi mengaku, pasca-pengumuman rekomendasi DPP PDIP pada Minggu (15/10) lalu di Jakarta, pihaknya langsung bergerak, mengawal duet Saifullah Yusuf- Abdullah Azwar Anas di Pilgub 2018. "Ketua umum sudah membuat keputusan, maka kami segera bergerak. Pasangan ini bukan hanya harus terwujud sebagai calon, tapi juga harus terpilih untuk mewujudkan program-program kerakyatan," tegas Kusnadi.
Saat ini, lanjutnya, pihaknya telah menugaskan tim untuk bergerak mengonsolidasikan kader di seluruh daerah. "Saya sudah tugaskan tim yang nanti fokus membantu Gus Ipul (Saifullah Yusuf) dan Mas Anas di seluruh daerah,” terangnya.
"Semua kader merespons positif dan tegak lurus menyukseskan duet ini sebagai satu kesatuan kepemimpinan yang solid dan mampu mewujudkan masa depan Jatim yang lebih baik lagi," tandas Kusnadi.
Cawagub Khofifah
Sementara itu, Khofifah Indar Parawansa enggan buka-bukaan soal pencalonannya di Pilgub Jatim 2018. Padahal, Partai Golkar, Nasdem dan Hanura, sudah menyatakan dukungan ke Khofifah. Partai Demokrat juga mengisyaratkan mendukung Ketum PP Muslimat NU itu. Terbaru DPP PAN mengisyaratkan akan ikut mengusung Khofifah di Pilgub Jatim.
Meski begitu, Khofifah masih menunggu semuanya clear. Baik dukungan parpol maupun soal Cawagub yang akan mendampingi dirinya. "Saya menyampaikan bahwa semua ini on proses. Ini on proses dengan partai-partai yang sedang berjalan," kata Khofifah di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta Selatan, Selasa (17/10) kemarin.
Khofifah menjelaskan, sejauh ini para kiai dan tetua agama lainnya masih berunding untuk pencalonannya. Khofifah pun masih meminta arahan dari tim sembilan yang berisikan sejumlah tetua agama dari seluruh Indonesia. "Saya menyampaikan kepada partai izinkan saya meminta pertimbangan dengan para kiai dan para sepuh dulu," terang Khofifah.
Khofifah menyebut, untuk memilih wakil, dia meminta masukan para kiai yang tergabung dalam tim 9. Khofifah menyebut tim 9 itu merupakan gabungan dari 18 kiai. Tim 9 dipimpin Kiai Salahuddin Wahid (Gos Sholah), Kiai Asep Saiful Halim, Kiai Suyudin, Kiai Isam Safaat, Kiai Mukhtar-Mukhtar, dan Kiai Yazir. "Intinya adalah kalau mau mencari calon wakil itu diminta oleh para kiai, santri nasionalis," katanya.
Para kiai ini meminta Khofifah memilih wakil dari santri nasionalis. Namun Khofifah tidak menjelaskan detail kriteria santri nasionalis yang dimaksud. "Mereka-mereka itu jangan dianggap sesuatu fix pertama. Tapi makruhnya mereka menyampaikan, kalau mau memilih wakil dipikirkan bahwa ini jadi aliansi santri nasionalis. Itu bahasa mereka," jelas Khofifah.
Lantas, seperti apa yang dimaksud santri nasionalis? "Waduh entar dulu itu," katanya sambil tersenyum. Dia pun menyebut saat ini masih dalam proses menyiapkan diri. Jika semuanya sudah siap, dia akan segera melapor ke Presiden untuk maju ke Pilgub Jatim.
Sikap Pendukung Khofifah
Menanggapi statement Khofifah yang akan memilih Cawagub dari kalangan santri nasionalis, Ketua Bappilu DPW Partai Nasdem Jawa Timur Muzammil Syafii mengatakan pihaknya tetap memasrahkan nama final Cawagub kepada Khofifah. Nasdem hanya akan menyerahkan nama Hasan Aminuddin untuk dijadikan pilihan bagi Khofifah.
"Insya Allah masih Pak Hasan yang akan kita sodorkan. Apakah Pak Hasan masuk dari kalangan santri nasionalis? Silahkan diterjemahkan sendiri," kata Muzammil. Hasan Aminuddin, mantan Bupati Probolinggo dua periode dan saat ini anggota DPR dari Nasdem.
Sebelumnya, Partai Demokrat Jatim mengusulkan Wakil Bupati Ngawi dua periode Ony Anwar Harsono sebagai Cawagub Khofifah. Sekertaris DPD Partai Demokrat Jatim, Renville Antonio menyebut selain menjabat Wabup Ngawi, Ony juga merupakan pengurus DPD Demokrat Jatim. Ia menganggap Ony cocok menjadi cawagub Khofifah, karena berasal dari kelompok nasionalis, khususnya kaum muda di wilayah Mataraman.
"Mas Ony muncul dalam radar kami. Seandainya cagub kami berasal dari golongan hijau (NU), maka akan lebih tepat kalau wakilnya berasal dari nasionalis dari Mataraman. Nah, mas Ony ini adalah Wabup dua periode, beliau asli Ngawi, masih berumur 37 tahun. Jadi saat menjadi wakil bupati, beliau masih berumur 30 tahun, potensial untuk jadi cawagub," ujarnya.
PAN Pilih Khofifah
DPP PAN mengisyaratkan akan mengabaikan duet tersebut dan memilih mengusung Khofifah Indar Parawansa. "Kalau DPP saya Khofifah. Kita ada pertimbangan-pertimbangan yang objektif," ujar Ketua DPP PAN Yandri Susanto di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (17/10).
Yandri mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Dia menjabarkan beberapa faktor yang membuat PAN tendensi ke Khofifah. "Saya lihat kesungguhan Khofifah untuk menjadi gubernur sudah teruji. Ini kan yang ketiga kali maju kan, insyaallah ini dia bisa memenangkan pertarungan," sebut Yandri.
Ada alasan lain PAN kemungkinan meninggalkan begitu saja duet Gus Ipul-Anas. Duet yang sepertinya sudah tak bisa dirombak tersebut menjadi pertimbangan PAN. "Ya itu yang menjadi masalah memang (tak bisa menyodorkan nama cawagub). Coba nanti dalam minggu ini kita mau panggil DPW PAN Jatim, kita perdalam dulu sebaiknya gimana Jatim ini," pungkas dia. n
Editor : Redaksi