SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Isu soal agama dan kombinasi partai politik diharapkan tidak muncul dalam proses pemilihan gubernur Jawa Timur 2018. Termasuk soal isu PDI-P yang dituduh tidak punya hubungan baik dengan Agama Islam.
Abdullah Azwar Anas, Calon Wakil Gubernur Jatim dari PDI-P berpendapat Azwar Anas menyampaikan rasa prihatinnya atas tuduhan lawan politik PDI Perjuangan dan Megawati yang mencoba membenturkan PDI Perjuangan dan Islam. ''Itu tidak akan pernah berhasil, karena sejak dulu kaum nasionalis dan kaum religius selalu bahu-membahu membangun bangsa ini,'' ujar Anas, saat dihubungi kemarin (31/10).
Menurut Bupati Banyuwangi ini, masyarakat bisa belajar dari kasus Saracen. Masyarakat juga makin dewasa dan tidak mudah menerima informasi yang belum jelas kebenarannya. Masyarakat perlu juga tahu bagaimana Bung Karno, Ibu Megawati dan PDI Perjuangan bersama Islam, namun kesemuanya tetap ditempatkan dalam semangat kebangsaan. Bahkan banyak masyarakat yang tidak tahu, tanpa Bung Karno tidak akan pernah ditemukan makam peramu Hadist Nabi tersohor, Imam Al Buchori. Tahun 1961 Bung Karno tak mau ketemu Presiden Uni Soviet Nikita Kruschev sebelum makam Imam Al Buchori ditemukan. Tak hanya itu, Tanpa Bung Karno tidak akan pernah ada Masjid Biru yang berdiri megah di Soviet. "Jadi seperti itu kedekatan bung Karno ayah Ibu Mega terhadap Islam," kata Anas.
Demikian halnya tanpa Ibu Mega, hanya sedikit pemimpin yang berani membela Irak dan mengutuk aksi unilateral Amerika Serikat atas serangan terhadap Irak. "Bahkan Ibu Mega juga melanjutkan tradisi Bung Karno, membangun Masjid di belahan bumi paling selatan, Afrika Selatan,'' imbuh Anas.
Anas menambahkan, seluruh umat Muslim perlu mewaspadai berbagai manuver politik yang mengatasnamakan agama. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, berkali-kali momen-momen kritis hanya bisa dilampaui dengan bersatu-padunya kekuatan nasionalis dan santri. ”Jadi upaya mengadu domba kaum nasionalis di PDI Perjuangan dengan kalangan muslim tidak akan pernah berhasil,” tegas Anas.
Anas menambahkan, di awal berdirinya negeri ini, publik tidak akan pernah lupa bahwa Bung Karno bertanya tentang hukum membela negara kepada KH Hasyim Asyari. Pendiri NU itu dengan sepenuh hati menyatakan, perjuangan membela Tanah Air adalah jihad fii sabilillah. Ijtihad itu kemudian dalam sejarah dikenal sebagai Resolusi Jihad, yang menunjukkan keterpaduan kaum nasionalis dan kaum santri dalam membela republik.
”Itulah manifestasi komitmen kebangsaan yang utuh secara ideologis dan keimanan yang datang dari ketulusan Bung Karno dan Mbah Hasyim. Patut diingat pula bahwa Bung Karno adalah presiden pertama yang mengutip ayat Alquran di forum PBB yang menjadi perhatian seluruh dunia pada 1960,” kata Anas yang merupakan ketua umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). rko
Editor : Redaksi