SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang membentuk poros tengah di kontestasi Pilgub Jatim 2018, mulai serius mengusung pasangan Cagub dan Cawagub. Bahkan mereka sudah mulai berani otak atik pasangan calon yang hendak diusung untuk diviralkan ke media sosial.
Salah satu pasangan cagub dan cawagub yang diviralkan lengkap dengan background lambang partai pengusung adalah Emil Elistianto Dardak (Bupati Trenggalek) dan Anwar Sadad (sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim) dengan jargon “Jatim Emas”.
Bendahara DPW PAN Jatim, Agus Maimun membenarkan jika ketiga partai memang serius dalam satu barisan menghadapi Pilgub Jatim 2018, termasuk berusaha membentuk koalisi poros tengah dan mengusung pasangan calon alternatif di Pilgub Jatim mendatang.
“Semua partai telah mengajukan calon baik dari kader maupun non kader untuk diusung menjadi cagub atau cawagub. Tapi untuk kepastian siapa pasangan calon yang akan diusung belum diputuskan,” ujar ketua FPAN DPRD Jatim ini, kemarin (2/11).
Senada, Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad mengaku tidak tahu siapa yang membuat gambar dan memviralkan ke media sosial. Namun soal pertemuan Partai Gerindra Jatim dengan Emil Dardak memang benar adanya. “Partai poros tengah memang sepakat satu barisan di Pilgub Jatim. Tapi siapa nantinya yang akan diusung, Wallahu a’lam,” beber anggota DPRD Jatim ini.
Tantangan Poros Tengah
Terpisah, pengamat politik dari Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo menilai munculnya pasangan Emil-Sadad bisa menjadi pasangan yang mengejutkan benar-benar terealisasi, karena memiliki potensi daya ledak jika desain pemenangnya mampu membaca konteks dan momentum politik yang tengah berkembang.
“Keduanya bisa menjadi perpaduan yang komplementer. Karena merepresentasikan generasi x dan y, perpaduan Nasionalis-NU, Mataraman – Tapal Kuda, intelektual – kultural, kepala daerah (eksekutif) – anggota dewan (legislatif), dan alumnus sekolah luar negeri – ponpes,” jelas dosen FISIP Universitas Trunojoyo Madura ini.
Sedangkan tantangan yang harus dihadapi oleh pasangan alternatif dari partai poros tengah adalah makin santernya arus wacana Gubernur Jatim harus NU. Kemudian harus mampu memberi warna alternatif pada warga nahdliyin yang sebelumnya telah didominasi wacana Gus Ipul (GI) atau Khofifah Indar Parawansa (KIP).
“Pasangan alternatif ini sama-sama masih muda sehingga harus memiliki kemampuan belajar dengan cepat atau harus mampu merangkul kekuatan-kekuatan politik utama terutama pada tokoh-tokoh yang lebih kenyang dan teruji pengalaman politiknya serta harus mampu menyelesaikan konsolidasi dengan PAN dan PKS sebab kedua partai itu juga memiliki calon sendiri,” kata Mochtar.
Cawagub Khofifah
Sementara itu, Khofifah Indar Parawansa sudah mengantongi tiket untuk Pilgub Jatim 2018. Mensos RI ini sudah didukung oleh Partai Golkar, NasDem, dan Partai Demokrat (PD). Hanya saja, ia belum melakukan deklarasi. Saat ini Khofifah sedang menimbang-nimbang 10 nama cawagub yang akan mendampinginya di Pilgub Jatim, melawan seteru lamanya. Yakni, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang berpasangan dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
"Saya rasa tidak untuk dirilis, hanya dijadikan referensi bagi forum Kiai yang memang memandatkan kepada saya untuk melihat bagaimana sebetulnya kalau nama-nama ini diserving," kata Khofifah ditanya soal nama-nama cawagub.
Ditemui di kantor Kemenko PMK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakpus, Kamis (2/11), Khofifah enggan membocorkan 10 nama cawagub yang sudah dikantonginya. Ia akan mengkomunikasikan nama-nama tersebut ke parpol pendukung. "Tugas saya mengkomunikasikan pada partai pengusung, ini kan perlu musyawarah bersama," jelas Khofifah.
Dalam waktu dekat, Khofifah akan melaporkan soal Pilgub Jatim ke Presiden Jokowi. Ia akan bertemu Jokowi seusai survei internal digelar. "Saya akan melapor (Jokowi) setelah survei selesai nanti," kata dia. n rko/jk
Editor : Redaksi