SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Baru-baru ini, iPol Indonesia merilis hasil riset atas analisis media yang mereka lakukan. Penelitian tersebut dilakukan dalam rangka menyambut Pilgub Jawa Timur 2018.
Pada hasil riset tersebut, ekspos pemberitaan dari media dalam 1 bulan terakhir terhadap Khofifah sebagai Cagub Jatim 2018 memuncaki hasil riset pada skala nasional. Khofifah mengalahkan Gus Ipul yang sudah secara resmi mendeklarasikan diri dan memiliki Cawagub sebagai pasangan.
"Khofifah memuncaki ekspos pemberitaan di media dengan 2804 poin. Kemudian baru Gus Ipul yang mendapatkan 2558 poin," jelas Petrus Hariyanto, CEO iPOL Indonesia.
Di posisi ketiga dan keempat, secara berturut-turut ditempati oleh Bupati Banyuwangi Emil Dardak dan Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mattalitti. "Emil mendapatkan 555 poin dan La Nyalla 501 poin," ujar Petrus.
Hasil riset yang sama juga menganalisis terkait kemungkinan Cawagub yang bakal dipilih oleh Khofifah. Analisis tersebut, berdasarkan pada sosok yang sering diasosiasikan dengan Menteri Sosial Kabinet Kerja Presiden Jokowi tersebut.
"Hasilnya adalah Emil Dardak, Risma, dan Nurwiyatno adalah sosok yang paling sering diasosiasikan dengan Khofifah. Mereka berturut-turut mendapatkan 320, 291, dan 217 poin," jelas Petrus lebih lanjut.
Pada kesempatan yang sama, Petrus juga memaparkan hasil analisis lain dari riset yang mereka lakukan. "Gus Ipul disini memiliki tantangan besar untuk mematahkan mitos bahwa Wagub petahana memiliki kemungkinan menang yang kecil. Itu kan sudah terbukti di Pilgub Aceh dan Banten sebelumnya. Khofifah juga demikian. Kekalahan 2 kali berturut-turut harus menjadikan Beliau cerdas dan jeli untuk memilih sosok Cawagub yang bisa menghasilkan kemenangan bagi dirinya. Tidak boleh salah pilih Cawagub," tegasnya.
Riset analisis media yang dilakukan iPol Indonesia adalah menyaring nama-nama tokoh melalui situs-situs pemberitaan. Penyaringan dilakukan melalui media cetak dan elektronik maupun media online dan sosial media.
“Penggunaan IPOL berdasarkan permintaan klien jika membutuhkan terkait data perkembangan politik, bisnis atau apapun. Untuk biaya, rata-rata klien kami membayar sekitar Rp 100 juta per bulan dengan pilihan beberapa topik yang biasanya minimal 5 topik,” pungkas Petrus. ifw
Editor : Redaksi