KPK Pindahkan Setnov ke Rutan

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Jakarta – Kabar mengejutkan datang lagi dari Ketua DPR Setya Novanto (Setnov). Tersangka dugaan korupsi e-KTP yang merugikan negara Rp 2,3 triliun akan dipindah ke rumah tahanan (rutan) gedung KPK, Jakarta Selatan. Bahkan, surat pemindahannya disebut-sebut telah diterbitkan. Sementara Minggu (19/11/2017) kemarin, Ketum Partai Golkar itu menjalani serangkaian tes kesehatan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). "Iya hari ini (kemarin), surat sudah ditandatangani," sebut sumber internal KPK, Minggu (19/11). Benarkah demikian? Wakil Ketua KPK Saut Situmorang angkat bicara. Namun ia tidak membantah atau membenarkan soal kabar pemindahan tersebut. Saut menyatakan, pihaknya sedang menunggu rekomendasi dari dokter RSCM. "Sabar dulu ya kita tunggu dulu KPK mengikuti apa rekomendasi dokter, kami percaya dokter RSCM profesional," kata Saut, tadi malam. Apabila dokter memberikan lampu hijau, lanjutnya, penyidik akan segera melakukan pemindahan. Namun apa bila sebaliknya, Novanto akan tetap berada di RSCM Kencana. Novanto merupakan tahanan KPK dalam kasus korupsi e-KTP. Dia dibantarkan ke RSCM Kencana lantaran mengalami kecelakaan pada Kamis malam. Kecelakaan yang menimpa Novanto terjadi setelah ia menghilang sekitar 20 jam pasca hendak dijemput paksa penyidik KPK. Sementara itu, tiga hari dirawat di RSCM, kondisi kesehatan Setnov dikabarkan belum stabil. Pengacara Setnov, Fredrich Yunadi, mengatakan kondisi kesehatan kliennya masih naik turun. Malah, dia menyebut kondisi kliennya tidak bisa dikatakan membaik. "(Membaik atau memburuk) saya belum tahu, tapi tidak stabil lah," sebut Fredrich sesaat sebelum meninggalkan RSCM, kemarin. Dia pun belum bisa memprediksi kelanjutan kesehatan Ketua DPR itu. Namun Fredrich menyebut, kondisi Setya Novanto saat ini seperti orang yang terkena diabetes. "Naik turunlah pokoknya, kayak orang kalau kena gula kan bisa naik bisa turun. Terus kalau kena darah tinggi kan bisa sore per 200 tahu-tahu malam per 250 kan bahaya," ujar dia. n jk

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru