Jadi Motor Berdirinya Bank Jatim

Melihat dari Dekat Market Intelligent Jatim di Batam (2 - habis)

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Terik mentari mulai menyusuri jalan ke arah barat, seolah memberikan tanda jika kota Industri di Kepri itu akan menjelang sore. Namun Toni Rahaju Toto staf ahli KPD Batam tetap bersemangat mengisahkan kinerja dan capaian KPD Batam. "Banyak hal yang sudah kita kerjakan selama beroperasi pada 2013. Bukan hanya promosi maupun menjadi market intelligent. Kami juga menjadi motor berdirinya cikal bakal bank Jatim cabang Batam," tutur pria berkulit hitam dan berkacamata itu. Berdirinya Bank Jatim di Batam itu tak sekedar membantu KPD, lebih dari itu Bank Jatim juga tengah mengincar nasabah dari daerah mitra dagang Jawa Timur. Diketahui kemudian volume perdagangan Jatim dengan Batam sangat tinggi. Bank Jatim mengambil peran sebagai pemberi pembiayaan supplier dan buyer dari Jatim maupun Batam. Pembiayaan menggunakan surat kredit berdokumen dalam negeri (SKBDN). Batam juga menjadi tempat persinggahan barang-barang dari Singapura dan Malaysia. Karena itu, potensi pembiayaan mencapai lebih dari Rp 10 triliun per tahun. Cabang Bank Jatim di Batam memanfaatkan Kantor Perwakilan Dagang Jatim di Batam. "Kita ketahui pada hari pertama misi dagang ke Batam, telah dibukukan transaksi senilai Rp 68 miliar," sambungnya. Tingginya pembukuan transaksi bank Jatim tak lepas dari banyaknya transaksi perdagangan dari Jatim. Setidaknya kata Toni 60 persen perdagangan kuliner di Batam ini berasal dari Provinsi Jawa Timur Bukan hanya makanan dan minuman (mamin) dalam kemasan Jatim saja yang banyak beredar di Batam, kuliner tradisional juga banyak mengiasi sepanjang kota Batam, seperti Pecel Madiun, Soto Lamongan, Rawon Surabaya dan Sate Madura. Perdagangan makanan dan minuman dari Jatim ke Batam menunjukkan peningkatan yang signifikan pada setiap bulannya, baik yang dikirim melalui Bandara Hang Nadim maupun Pelabuhan Batu Ampar Batam. Pada tahun 2017 ini, Triwulan III (Juli-September) perdagangan makanan dan minuman dari Jatim yang masuk ke Kepulauan Riau melalui Bandara Hang Nadim, senilai Rp 900.000.000. Ini meningkat dibanding Triwulan I (Januari-Maret) senilai Rp 750.000.000. Sedangkan terbesar untuk jenis makanan dari Jatim ke Kepri adalah Kepiting dengan tonase 40 ton atau senilai Rp 2 Miliar. Untuk jenis kepiting asal Jatim ini menunjukkan angka bertahan sejak Triwulan I hingga III. Melihat peluang yang sangat bagus ini, masih dimungkinkan pedagang asal Jatim memasok dagangannya ke Batam atau Kepulauan Riau secara umum. Untuk informasi dari Jatim bisa melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim Jl. Siwalankerto Utara II/42 Surabaya. “Kami siap, bilamana ada warga Jatim yang ingin memasok dagangannya ke Batam, nanti kami arahkan ke KPD Jawa Timur di Batam Kepulauan Riau,” ujar Henry, Kasie Bina Usaha dan Logistik Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag Provinsi Jatim yang turut hadir di KPD Batam. Meski banyak yang dilakukan anggaran KPD Batam terbilang minim. Ihwal itu diakui Henry, Kata dia, anggaran tiap KPD memang tak sama, tidak besar juga tak ada anggaran khusus. Anggaran KPD ini bisa berubah menyesuaikan kebutuhan, termasuk kebutuhan sewa kantor. Tak mengherankan jika KPD Batam sejak 2012 hingga 2017 telah berpindah tiga kali. Untuk semakin meningkatkan kontribusi perdagangan tersebut KPD Batam bermimpi untuk bisa meninggali kantor sendiri. "Kami harap pak Gubernur membangun kantor yang permanen disini untuk menunjang kinerja perdagangan yang semakin positif kedepan," pungkas, Masni, ketua KPD Batam. arf

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru