Menjamurnya Hotel di Surabaya Dikhawatirkan Jadi S

HOTEL TERSELUBUNG

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Membanjirnya hotel di kota Surabaya pasca Dolly ditutup, kian mengkhawatirkan terjadinya gaya hidup seks bebas (free sex). Fakta dari data Polrestabes Surabaya, sepanjang tahun 2017 ini kasus prostitusi online cenderung meningkat. Menariknya, kasus tersebut terbongkar saat mereka ‘bermain’ di hotel-hotel budget. Lantaran tarifnya relatif terjangkau, hotel-hotel tersebut diduga menjadi sarana prostitusi, lantaran lokalisasi Dolly sudah ditutup Walikota Surabaya Tri Rismaharini menjelang Pilkada 2015. Karena itu pula, saat pesta tahun baru 2018 nanti, hotel-hotel tersebut dikhawatirkan juga jadi tempat aman untuk free sex. ------- Laporan : Firman Rachman – Ibnu F Wibowo, Editor: Ali Mahfud ------- Dari data Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, jumlah kasus trafficking di Surabaya meningkat dari tahun sebelumnya. Jika di tahun 2016 tercatat 19 kasus, pada tahun 2017 ini terjadi 23 kasus. Padahal, sejak penutupan Lokalisasi Dolly dan Jarak di Surabaya pada 2014 silam, jumlah kasus trafficking yang ditangani Polrestabes Surabaya sempat menurun. Dari masing-masing sebanyak 24 kasus pada 2013 dan 2014, kasus yang diungkap Polrestabes Surabaya mengalami penurunan dan stabil di angka 19 kasus pada 2015 dan 2016. "Semuanya yang kami tangkap adalah prostitusi online. Kebanyakan berawal dari grup Facebook," tandas Kanit PPA Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni, Selasa (26/12/2017). Ruth menjelaskan, kemudahan akses internet yang membuat praktik prostitusi online makin marak. Dengan kemudahan ini, sekarang pelaku bisnis prostitusi online sudah tidak perlu etalase untuk pamer perempuan-perempuan seksi, seperti era Dolly masih hidup. Transaksi seksual bisa dilakukan menggunakan ponsel dan media sosial lainnya. Termasuk menentukan lokasi tempat "bermain". "Kebanyakan kami menggerebek mereka di hotel-hotel budget," ungkap Ruth Yeni. Fakta baru ditemukan oleh PPA Polrestabes Surabaya di balik setiap kasus prostitusi online yang ditangani. Bahwa para mucikari yang tertangkap adalah para pemain baru, bukan jebolan lokalisasi Dolly. Kecenderungannya, para mucikari ini selain menjajakan perempuan lain juga menjajakan dirinya sendiri. "Mereka ini jaringan freelance. Sesama PSK biasanya saling mempromosikan," ujarnya. Dibandingkan pemain lama, mereka punya inovasi dalam hal penawaran jasa layanan seksual. Mulai dari short time, long time, hingga layanan threesome. Fakta-fakta itu, lanjut Ruth Yeni, membuat miris. Sebab, salah satu pelaku penyedia layanan threesome itu merupakan pasangan suami istri. "Biasanya pelaku mengejar kepuasan. Bayaran nomor dua," lanjutnya. Unit PPA yang berada di bawah Satreskrim Polrestabes Surabaya kini punya Tim IT khusus untuk mengawasi aktivitas para pelaku prostitusi online ini di media sosial. "Kami akan terus mengawasi aktivitas mereka di internet," tandasnya. Grup Sosial Media Biasanya prostitusi online mudah ditemui di grup-grup media sosial. Dengan berbekal smartphone android, perempuan-perempuan ini memajang potret dirinya secara sensual di sebuah akun yang dijalankannya untuk bisnis esek-esek tersebut. Namun, tak tentu satu perempuan memiliki satu akun. Seperti temuan Surabaya Pagi di sosial media Twitter, misalnya. Mereka secara gamblang memamerkan lekuk tubuhnya yang menarik mata para pria. Berbekal pose foto itu, para perempuan penjaja seks komersial tersebut leluasa untuk bernegosiasi dengan user (pemakai) jasanya secara langsung tanpa melalui germo. Harga yang ditawarkan pun melonjak hingga lima 5-10 kali lipat dari harga prostitusi kelas Dolly. Rata-rata mereka mematok harga Rp 800 ribu hingga 2 juta rupiah sekali kencan. Aditya, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, menceritakan pengalaman bercintanya dengan para Angel (sebutan bagi PSK online) di Surabaya. Ia mengatakan jika tidak semua PSK tersebut secantik seperti foto yang diunggahnya di sosial media, lapak bagi mereka. "Tidak selalu cantik, kadang juga zonk, tapi mau gimana lagi, sudah DP (bayar di muka, red) dan sayang kalau tidak dipakai," cerita Adit kepada Surabaya Pagi, Selasa (26/12) sore di warung dekat kampusnya. Lebih lanjut, ia menerangkan jika harga yang tertera maupun yang sudah diberitahukan kepada user masih dapat dinego atau ditawar. "Itu tergantung angelnya mas. Kalau dia suka sama user, bisa jadi harga lebih murah dan waktunya bisa ditambah. Servicenya juga pasti enak, belum lagi bonus kalau dia mau diajak jalan-jalan. Biasanya sih saya rayu yang cakep-cakep mas," imbuhnya sambil tertawa. Expo di Hotel Tak hanya para perempuan asli Surabaya, Aditpun pernah menjajal PSK Bandung dan Manado yang singgah di Surabaya. Biasanya para PSK luar daerah itu mengumumkan jauh hari kedatangannya ke kota tujuan yang biasa disebut Expo. "Waktu itu sempat coba perempuan Sunda sama Manado, harganya lumayan sekitar 1,5 juta untuk dua kali main. Mereka ke Surabaya memang tujuannya untuk "buka lapak", tapi ada yang cewek Manado itu datang untuk keperluan keluarga, tapi sambil mengisi waktu, dia juga kerja gitu mas," tambahnya. Tempat eksekusi para angel online ini juga terbilang berkelas. Sebab dilakukan di hotel bintang tiga maupun hotel budget lainnya untuk "show time". Penasaran dengan pengakuan Adit, Surabaya Pagi pun mencoba berselancar ke dunia maya tempat para angel ini ramai diceritakan. Hasilnya, bisa kita temukan ratusan akun di Surabaya khususnya, dalam sekejap dengan mengetik tagar open BO Surabaya di Twitter. Dari sederet nama akun, ada beberapa akun yang bahkan dengan gamblang memajang fotonya tanpa sensor. Nitha misalnya, di akun tersebut Nitha bahkan menyediakan jasa threesome dengan temannya bernama Ana yang sudah berusia 18 tahun. Harganya, 1,5 juta untuk satu jam dua kali main. Sama dengan Nitha, sebuah akun bernama DitaRavinha juga menyediakan jasa threesome dengan partnernya sesama angel asal Bandung. Berbeda dengan Nitha, Dita lebih tidak vulgar menampakkan wajahnya. Rate harganya pun tidak dituliskan. Biasanya, angel dengan akun seperti ini lebih selektif dalam memilih usernya. Ditengah polemik penutupan lokalisasi, tentu ada banyak persoalan baru yang justru membuntuti pola kehidupan sosial masyarakat modern saat ini. Salah satunya, prostitusi online terselubung yang tak terpantau aktivitasnya karena merupakan aktivitas personal. Ujian Bagi Pemkot Sosiolog asal Unair Bagong Suyanto mengatakan maraknya praktik prostitusi terselubung yang terjadi di Kota Surabaya saat ini menjadi ujian bagi konsistensi Pemerintah Kota Surabaya. Terlebih lagi, ujian tersebut dikarenakan sikap Pemkot Surabaya yang sebelumnya menutup Dolly. "Kan waktu itu ketika Dolly ditutup banyak cibiran kenapa tebang pilih, hanya nutup yang kecil saja lalu yang besar gimana. Ini ujian bagi Pemkot Surabaya agar tidak hanya mendemonstrasikan hukum yang runcing kepada masyarakat bawah saja," jelas Bagong, ditemui terpisah. Di sisi lain, Bagong memandang bahwa prostitusi akan selalu ada sebagai bagian dari pembangunan kota. "Adanya juga di berbagai level. Di lokalisasi, wisma, spa, pijat, apartemen, maupun hotel berbintang. Akan selalu ada itu," jelasnya. Pemberantasannya pun, menurut Bagong akan selalu menjadi tantangan. Sebab, prostitusi akan selalu bertalian dengan beberapa aspek. "Bertalian bagaimana? Ya kaitannya dengan beking dan siapa yang berkepentingan di balik itu. Jadinya akan susah. Tidak terdapat dalam sejarah bahwa ada kota yang mampu memberantas prostitusi secara tuntas," tegas Bagong. Sehingga, saat ini, menurut Bagong Pemkot Surabaya seharusnya berusaha secara maksimal untuk meminimalkan penyebaran dari prostitusi tersebut. "Harus menjadi centre of gravity dan berdiri di depan publik untuk membatasi penyebarannya," pungkas Bagong. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru