SURABAYAPAGI.COM, Gresik - Sejumlah tempat pengumpulan dan pasar ikan di Kabupaten Gresik, mulai kehabisan stok ikan laut. Hal ini akibat dampak cuaca buruk yang terjadi belakangan terakhir. Keberadaan ikan laut menjadi langka. Bahkan nyaris menghilang akibat belum adanya pasokan ikan dari nelayan setempat. Kalaupun ada stok, jumlah sangat sedikit dan itupun dengan harga yang mahal. Seperti yang terpantau di Pasar Baru, Jalan Gubernur Suryo dan Pasar Sidomoro, Jalan Kapten Dulasim, Gresik. Dua pasar ini tampak ikam yang tersedia ikan air tawar jenis nila dan gurame ditambah ikan tambak berupa bandeng. Cuaca buruk berupa gelombang tinggi disertai angin kencang, membuat stok ikan di pasar setempat, nyaris menghilang.
Aktifitas jual beli tampak sepi. Dari puluhan pedagang ikan yang biasa mangkal di area Pasar Baru dan Pasar Sidomoro, hanya menyisakan dua hingga tiga pedagang saja yang masih bertahan. Itupun hanya menjual ikan jenis tertentu saja dengan jumlah terbatas, seperti udang, dan gurami, yang merupakan stok lama yang belum terjual.
Wati, salah seorang pedagang ikan mengaku sudah sepekan ini, tidak ada pasokan ikan sama sekali dari para nelayan setempat. Mereka masih berhenti melaut karena ombak besar dan angin kencang masih melanda perairan Gresik.
Keberadaan ikan laut yang semakin langka ini, membuat harga ikan yang tersisa menjadi sangat mahal. Harganya naik antara Rp 30 ribu hingga Rp 37 ribu perkilogram. Ikan gurami misalnya semula harganya Rp 20 ribu perkilogram naik menjadi Rp 37 ribu perkilogram. "Yang bikin mahal ini karena stok terbatas. Nelayan tidak mendistribusikan ikan lantaran mereka tidak melaut," ujar Wati kepada Surabaya Pagi, Kamis (28/12/2017).
Wati bersama pedagang ikan lainnya berharap, cuaca segera membaik sehingga pasokan ikan dari nelayan kembali normal seperti hari biasa. Kadis Perikanan Gresik Langu Pindingara yang dihubungi via telepon selulernya membenarkan stok ikan laut di pasar menipis. Ini terjadi akibat cuaca buruk sehingga nelayan tidak melaut menangkap ikan. "Mulai langka akibat nelayan istirahat melaut. Cuaca gelombang besar dan angin kencang menjadi alasan mereka istirahat," terang Langu. Mis
Editor : Redaksi