Hingga Kini, Azwar Anas Belum Jelaskan soal Foto S

ANAS DISEMANGATI RISMA

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Meski Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai calon wakil gubernur (Cawagub) pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018, bukan berarti persoalan selesei. Pasalnya, hingga kini Anas belum juga tampil ke publik, menjelaskan foto-foto syur yang diduga mirip dirinya dengan seorang perempuan. Sikap Anas yang juga kader PDI Perjuangan (PDIP) ini menimbulkan banyak tanda tanya. ------------- Azwar Anas telah dideklarasikan sebagai Cawagub, berpasangan dengan Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) pada 15 Oktober 2017 di Kantor DPP PDIP, Jakarta. Pasangan ini pun didukung parpol pemilik kursi terbanyak di DPRD Jatim, yakni PDIP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun menjelang pendaftaran pasangan calon (Paslon) di KPU mulai Senin (8/1/2018) hingga Rabu (10/1/2018), tiba-tiba saja beredar foto panas yang diduga mirip Anas. Bukannya menjelaskan foto panas itu, Azwar Anas justru mengembalikan mandatnya sebagai Cawagub ke PDIP dan PKB, Sabtu (6/1/2017) lalu. Kalangan akademisi pun menyesalkan sikap Anas. Apalagi serangan black campaign atau kampanye hitam, bukan lah fenomena baru di Pilkada maupun Pemilu. "Menurut saya harusnya Anas bersikap lebih teguh menghadapi serangan dari lawan politiknya. Sebagai politisi dengan prestasi membangun Banyuwangi sedemikian rupa, harusnya Anas ndak gampang mutung. Harusnya siap untuk hal yang demikian (diserang lawan politiknya, red). Ketika dia bisa membuktikan itu (foto syur diduga mirip Anas, red) tidak benar, ya kenapa mundur? Bagi saya dia (Azwar Anas, red) sudah dipahami sebagai calon yang siap maju sampai Pilgub selesei dengan pertaruhan prestasinya di Banyuwangi," ungkap Dr. Yayan Sakti Suryandaru, M.A, pakar komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Minggu (7/1/2018). Menurut Yayan, sebetulnya isu foto mesra dengan perempuan sudah tidak populer. Hal itu sudah biasa dalam politik, baik pada Pilkada maupun Pemilu. Hanya saja, lanjut dia, serangan seperti yang dialami Anas akan menjadi tren dalam kontestasi Pilkada. Bahkan pasca kasus Anas, Yayan memprediksi serangan dengan menggunakan isu-isu privasi atau kasus pribadi calon masih akan terjadi sepanjang Pilgub Jatim 2018, yang bakal dilangsungkan Juni mendatang. "Dari kacamata komunikasi politik yang saya amati, yang bersangkutan (Azwar Anas, red) harusnya siap mengakui. Kalau (foto) itu benar, katakan benar dan buktikan salah jika tidak benar," tandas Yayan. Hal senada diungkapkan peneliti senior LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Siti Zuhro. Ia bahkan memprediksi keputusan Azwar Anas mundur dari pencalonannya sebagai Cawagub pada Pilgub Jatim 2018, akan berdampak pada karir politik berikutnya. Anas yang mundur setelah beredarnya foto syur yang diduga mirip dirinya bersama seorang perempuan, bisa menjadi “langganan” ancaman bagi Anas. “Nanti setiap Pak Anas mau mencalonkan maka foto itu akan beredar lagi,” ujar Siti. Menurutnya, hal itu lantaran tidak adanya klarifikasi sehubungan dengan foto tersebut. “Pak Anas langsung mundur, ini bisa diterjemahkan benar adanya,” lanjutnya menegaskan. Seharusnya, lanjut Siti, Azwar Anas membuktikan jika foto itu bukanlah dirinya. Siti mengatakan yang terjadi pada Anas adalah kampanye negatif, bukan kampanye hitam. Karena foto-foto yang beredar itu belum tentu direkayasa. Menurut dia, kampanye hitam hanya berlaku jika foto yang beredar itu tidak berdasarkan fakta. Etika Politik Irfan Wahyudi, Phd, pakar psikologi komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menilai kasus foto syur yang menyeret nama Bupati Banyuwani Azwar Anas, mengindikasikan bahwa mereka yang ‘bermain’ di Pilgub Jatim 2018 menggunakan isu pribadi untuk menyerang. Bisa jadi nanti giliran calon lain yang diserang dengan isu yang serupa, entah isu korupsi maupun kasus pribadi lainnya. "Yang terjadi pada Anas sebagai indikasi bahwa pada Pilgub Jatim ini bakal dimainkan isu-isu yang berkaitan dengan pribadi calon. Jadi masyarakat harus siap-siap dengan kondisi ini untuk tidak mudah terpancing dengan agenda setting kampanye, yang mungkin sekali manfaatkan jalur digital seperti sebelum-sebelumnya," papar Irfan kepada Surabaya Pagi, Minggu (7/1) kemarin. Menurut Irfan, pola serangan terhadap lawan politik seperti itu berseberangan dengan etika dan moral politik. Sebab, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Hanya saja, lanjut dia, standar etika politik di era digital ini tidak punya ukuran yang jelas. “Di iklim politik praktis sekarang ini yang didukung oleh kemajuan teknologi digital, batas ‘lumrah’ akan punya standar baru. Pasca Pilkada DKI lalu sudah dikembangkan cara baru untuk menyerang lawan politik yang menjauh dari sekat etika dan moral," terang dia. Meski begitu, lanjut Irfan, serangan foto syur terhadap Anas, dinilai sebagai upaya efektif untuk menjatuhkan karakter dan kepercayaan publik terhadap pejabat publik yang sedang dalam proses berkompetisi meraih suara. Padahal Anas sebenarnya cukup baik dalam upaya publisitas menjelagang perhelatan Pilgub Jatim 2018 nanti. Ia termasuk bupati yang berhasil membangun Banyuwangi hingga gaungnya mendunia. "Saya rasa Anas sudah lakukan publisitas yang bagus, tapi karena ada disrupsi dari pihak lain maka dia tampak seperti gagal sebelum bertanding. Harusnya tim Gus Ipul bisa mengantisipasi," ujar dia. Soal Unsur Pidana Dilihat dari segi hukum, menurut Wayan Titip Sulaksana, pakar hukum Unair apa yang terjadi dalam kasus Anas ini belum dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. "Sepanjang fitnah, hoax, dan penistaan yg dilakukan oleh pihak lawan politik, tidak menyebutkan nama paslon yang jadi targetnya. Menurut saya, belum terjadi perbuatan pidana sebagai mana diatur dalam UU ITE," jawab Wayan. Sikap PDIP Sekjen PDIP Hasto Kristyanto menegaskan beredarnya foto-foto syur yang mirip Azwar Anas belakangan ini dibuat secara sengaja. Foto itu sengaja diutak-atik untuk kepentingan politik. “Contohnnya kalau dicermati masa di mobil bawa wine (minuman fermentasi anggur) yang sudah dibuka,” kata Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Minggu (7/1/2018) kemarin. Menurut Hasto, foto itu sengaja didesain untuk memecah belah Anas dengan keluarga Nahdliyin. Ada pesan terselubung yang ingin disampaikan foto tersebut kepada publik. “Terus di kamar juga ada wine-nya ya itu pesannya kan, ini sosok yang lahir dari keluarga Nahdliyin masa minum wine itu kan makna dari pesan itu,” terang Hasto. Ia menambahkan, tak ada sosok pemimpin yang sempurna. Masyarakat sebaiknya menilai personal seorang pemimpin dari kinerjanya dalam membenahi sebuah daerah. “Yang kita cari kan pemimpin yang memahami tata pemerintahan yang baik, jujur, amanah, kalau kita lihat dari kita ada kelemahan-kelemahan juga,” ungkapnya. Hasto optimistis kebenaran akan terungkap. Dia yakin, kebenaran akan muncul di waktu yang tepat. “Tanpa dilaporkan pun nanti ada yang menyampaikan ada yang bela, saya yakin namanya kebenaran itu akan ditegakkan. Maka ibu Mega tadi menggunakan baju hitam ini bukan hanya mencerminkan kerja keras tapi untuk mengingatkan bahwa ada yang menggunakan politik hitam saat ini,” tutup Hasto. Anas Disemangati Risma Terpisah, Azwar Anas mengucapkan terima kasih kepada Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Menurutnya, Risma telah menguatkan dirinya menghadapi dinamika politik belakangan ini. Hal itu seiring pengembalian mandat penugasan Anas sebagai Cawagub ke PDIP. Anas mengatakan, sebagai sesama kawan, Risma telah menghubunginya. Menurut Anas, Risma menyemangati dirinya untuk terus bersemangat membangun daerah lebih baik lagi. “Kami telah berkomunikasi lewat telepon, dan beliau memberikan dukungan moral kepada kami dalam merespons dinamika politik yang terjadi saat ini,” ucap Anas. n rko/fir/an/jk

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru