Setelah Tuban dan Lamongan, Giliran Kyai di Kediri

Ulama Jatim Diteror

surabayapagi.com
SURABAYA PAGI, Surabaya – Aksi teror terhadap ulama di Jawa Timur benar-benar mengkhawatirkan. Meski pelaku diduga mengalami gangguan jiwa, tapi nyatanya serangan ke ulama terus terjadi. Setelah perusakan masjid di Tuban dan penyerangan Pengasuh Pondok Pesantren Karangasem, Paciran, Lamongan, KH Hakam Mubarok. Kali ini giliran Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kota Kediri didatangi tamu tak dikenal dan menodongkan senjata tajam. Polda Jatim dan Badan Intelijen Negara (BIN) pun turun tangan. BIN menyebut kasus penyerangan terhadap tokoh agama akhir-akhir ini bagian dari kampanye hitam yang dilancarkan menjelang Pilpres 2019. Sedang tokoh Nahdhatul Ulama (NU) di Jatim meyakini bahwa penyerangan itu ada kaitannya dengan Pilkada Serentak 2018, dengan memainkan isu SARA. --------- Penelusuran Surabaya Pagi, Selasa (20/2/2018), pelaku penyerangan di Tuban dan Lamongan telah ditangani Polda Jatim. Pelaku penyerangan KH Hakam Mubarok diketahui bernama Nandang Triyana bin Satibi (23) asal Cirebon, Jawa Barat. Tepatnya Desa Lemahabang Kulon RT 11 RW 3 Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Pelaku sudah meninggalkan keluarganya semenjak empat tahun yang lalu. Diakui keluarganya bahwa yang bersangkutan orang gila sejak kecil. Namun tidak ada surat keterangan gilanya. Karena itulah, pria ini dalam pemeriksaan fisik dan psikisnya di RS Bhayangkara Polda Jatim. Begitu juga dengan pelaku terduga penyerangan Masjid baiturrahim di Jalan Sumurgempol, Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Pelaku diketahui bernama M Zaenudin asal Karangharjo, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Semula pria ini diamankan ke Polres Tuban, yang kemudian dibawa ke Polda Jatim. Pelaku diidentifikasi mengidap Skizofrenia Paranoid, yakni semacam penyakit yang membuat pengidapnya sering mengalami ketakutan atau delusi. Terbaru, aksi teror terhadap ulama terjadi di Kediri. Tepatnya di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kota Kediri, Senin (19/2) malam sekitar pukul 20.00 WIB. Informasi yang dihimpun, kejadian bermula saat 3 orang tamu tak dikenal memaksa hendak bersilaturahmi dengan KH Zainuddin Jazuli, KH Nurul Huda Jazuli, serta pengasuh ponpes lainnya yakni Gus Robert dan Gus Thuba. Pria tersebut menemui Riyanto, seorang pendamping Gus Robert, pengasuh Ponpes Al Falah. Tiba - tiba, 2 orang tamu tersebut menodong pisau ke arah Riyanto dan meminta ditunjukkan rumah Gus Robert. Meski telah diminta dengan halus untuk pulang ke rumah, dua orang tersebut masih memaksa bertemu pengasuh ponpes. "Oleh santri 3 orang tersebut berhasil diamankan, tapi 1 orang dilepaskan karena tak terbukti. Saat ini 2 orang tersebut sudah diserahkan ke kepolisian," ujar Kapolres Kediri Kota, AKBP Anthon Haryadi. Pihaknya menambahkan saat ini dua orang terduga yang disinyalir berusia 45 tahun ini masih dalam pemeriksaan di Polres Kediri Kota. AKPB Anthon Haryadi juga meminta santri dan masyarakat tidak terprovokasi kabar burung dari media sosial dan mempercayakan ke pihak kepolisian untuk memeriksa kasus tersebut hingga tuntas. Sementara itu, pihak Ponpes Al Falah, Gus Abid menyatakan diamankannya 3 orang pelaku karena santri waspada dan khawatir terhadap keselamatan kyainya. "Pria tersebut diamankan oleh para santri dan diserahkan ke polisi guna proses lebih lanjut," kata Gus Abid. Terkait Tahun Politik Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jatim Akhmad Muzakki mengatakan pihaknya saat ini menyerahkan proses penyelidikan terkait serangan kepada sejumlah Masjid dan Kyai di Jawa Timur kepada pihak Kepolisian. Ia pun meminta agar segenap elemen masyarakat tidak gaduh dan panik terlebih dahulu. "Biarkan terlebih dahulu Kepolisian ini bekerja. Mereka pasti akan bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik ini. Jadi lebih baik apabila seperti itu," kata Muzakki kepada Surabaya Pagi, Selasa (20/2) kemarin. "Sembari menunggu itu(Kepolisian) bekerja, kita pun juga harus berhati-hati. Tapi, dalam kehati-hatian itu, jangan sampai kita membuat tindakan sendiri. Apalagi yang sampai menyalahi hukum yang berlaku di Indonesia," lanjutnya. Di sisi lain, pria yang juga Dekan Fisip UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut juga tidak memungkiri bahwa di Tahun Politik isu SARA akan selalu menjadi primadona. Terlebih lagi pada masa menjelang pelaksanaan Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 seperti saat ini. "Karena ya memang terror itu seringkali dimainkan oleh oknum yang ingin memancing kekeruhan melalui isu SARA. Terlebih lagi isu agama. Itu juga paling mudah untuk mobilisasi orang," jelas Muzakki. "Disamping isu SARA, ada lagi soal ketidakadilan. Itu juga paling mudah untuk memobilisasi orang. Apalagi kalau, ya itu tadi, dibumbui isu agama," tegasnya. Untuk itu, pria yang juga dikenal sebagai sosiolog tersebut menghimbau agar masyarakat senantiasa waspada dalam menyikapi berbagai macam hal di tengah Tahun Politik. "Jadi, tetap tenang. Semua hal dipikirkan matang-matang. Dan jangan mudah panik. Agar kondusi tetap damai," papar Muzakki. MUI Curiga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi mendesak aparat keamanan dan intelejen negara segera mengusut tuntas dan motif kekerasan terhadap tokoh agama. "MUI meminta kepada aparat keamanan dan intelijen negara untuk mengusut tuntas dan mengungkap motif kekerasan dan pembunuhan terhadap beberapa tokoh agama dan simbol-simbol agama yang terjadi di berbagai daerah akhir-akhir ini secara terencana, sporadis, dan sistemik," ujarnya, Selasa (20/2) kemarin. Ia khawatir jika tidak segera diusut bisa memunculkan prasangka-prasangka buruk di masyarakat, sehingga mengganggu ketertiban umum. Mengingat penyerangan terhadap tokoh agama memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi untuk mengeksploitasi emosional publik. "MUI menengarai ada pihak-pihak yang ingin membuat suasana ketakutan, saling curiga dan ketegangan dalam kehidupan bermasyarakat. MUI menduga ada rekayasa jahat yang bertujuan ingin membuat kekacauan dan konflik antar elemen masyarakat dengan memanfaatkan momentum tahun politik," tandasnya Polda Razia Orang Gila Jajaran di seluruh Polda Jatim dan Kodam V/Brawijaya serta Dinas Sosial akan merazia orang gila yang berkeliaran di jalanan seluruh Jatim. Langkah tersebut menyusul serangkaian teror terhadap tokoh agama oleh orang yang diduga gila. "Supaya tidak ada isu yang berkembang ada penyerangan dan penganiayaan terhadap ulama oleh orang gila. Sekali lagi tidak ada yang namanya penganiaayan dan penyerangan," tutur Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Selasa (20/2). Mantan Kabid Humas Polda Sulsel, menjelaskan Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin saat Rapim TNI di Kodam/V Brawijaya yang dihadiri seluruh Danrem, Dandim serta semua unsur TNI menyepakati Dandim bersama Kapolres bekerja sama dengan Dinsos di daerah untuk merazia orang gila. Selain merazia orang gila, polisi juga membuka diri untuk bekerja sama dengan perguruan silat untuk menjaga pesantren dan para kiai di daerah. "Yang jelas semua ini untuk menciptakan situasi yang aman, tertib, dan terkendali," tandasnya. Bentuk Kampanye Hitam Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan menyebut kasus penyerangan terhadap pemuka agama yang terjadi akhir-akhir ini sudah diprediksi dan dideteksi pihaknya. Menurut dia, kasus tersebut adalah salah satu bagian dari kampanye hitam yang dilancarkan menjelang Pilpres 2019. "Seluruh jajaran sudah mendeteksi dan memprediksi di tahun politik ini 2018-2019 akan marak kampanye hitam. Wujudnya isu-isu PKI, agama, SARA, politik identitas," kata Budi. Budi mengimbau agar masyarakat lebih waspada serta tak mudah dipolitisasi dan diprovokasi oknum-oknum yang punya kepentingan tersebut. "Masyarakat harus lebih waspada, lebih peka. Jangan mudah terpolitisasi, terprovokasi, terhasut sehingga terseret dalam permainan itu," ucap mantan Wakapolri ini. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru