Pengusaha Kuliner Optimis, Tahun 2020 Lebih Baik

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Bisnis kuliner makin hari makin tumbuh, mengingat gaya hidup masyarakat sekarang yang konsumtif. Tapi jangan salah, persainganpun kian ketat. Beberapa pelaku usaha harus pandai membaca pasar supaya tidak ketinggalan dan tetap didatangi konsumen. Hal ini dikatakan oleh Josavat Bambang selaku pemilik Frainchise Dum Dum Thai Drinks di Plasa Marina dan Apartemen Metropolis. "Kuliner di tahun 2020 masih agresif, tapi memang persaingan makin ketat karena makin banyak yang terjun ke bisnis ini," katanya. Sementara itu Ewin, pemilik restoran KamiKamu dikawasan Surabaya Barat ini mengaku optimis bisnisnya dibidang kuliner akan terus tumbuh. "Sebenarnya basic saya bukan kuliner tapi memang saya terjun dibisnis kuliner. Jadi kalau menurut saya ya...kita harus optimis bisa tumbuh untuk tahun ini dan tahun mendatang," ujarnya kepada Surabaya Pagi. Sementara untuk membuatnya terus bertahan dibidang kuliner, Ewin mencoba membaca pasar. Ketika orang-orang konsumtif ini mengkonsumsi menu-menu yang sama terus menerus maka mereka akan bosan. "Jadi kita membuat ada menu tambahan yang setiap bulannya selalu berbeda. Kita lihat, pelanggan suka yang mana itu nanti yang kita pertahankan," terang pemilik KamiKamu Resto ini. Selain memberikan menu yang berbeda, tentunya Ewin harus pandai menarik pelanggan dengan menyajikan citarasa. Jadi yang ia tonjolkan adalah rasa dari makananya. Menurutnya penilaian pertama bagi pelanggan adalah rasa. Ketika mereka mengatakan rasanya enak maka akan kembali lagi. Sedangkan untuk harga yang ia buat menyesuaikan, pasar mana yang akan dibidik. Ia juga mengatakan tempat pun dapat mempengaruhi pelanggan. "Kalau tempatnya nyaman, pelanggan akan betah," tuturnya. Begitulah strateginya dalam menjalankan bisnis kuliner. Di hari pertama tahun 2020 ini, salah satu food court yang berada di Cito Mall nampak ramai pengunjung. Bagi mereka makan adalah kebutuhan, apalagi seletah jalan-jalan tentunya membuat lapar. Mencari harga ekomonis, foodcourt menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Retno, pengunjung food court mengatakan ia sering mampir kesini, makan, nongkrong sehabis muter-muter Mall. "Kalau disini makanannya enak, harganya juga kompetitif dan tempatnya asik, nyaman lah buat makan," katanya. Tak dipungkiri dalam menjalankan bisnis tentu melibatkan karyawan di dalamnya. Untuk menghadapi tuntutan karyawan tentang UMK yang tinggi, para pelaku bisnis kuliner pun tak tinggal diam, mereka tentunya selalu memberikan kesejahteraan terhadap karyawannya. Seperti Josavat dan Ewin. "Kita punya standart sendiri soal gaji dan memang setiap tahun pasti asa kenaikan upah," Kata Josavat. "Karyawan pasti ada kenaikan upah lah kalo tidak sih namanya perbudakan/ora ngewongke wong," ujar Ewin. indra

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru