Jembatan Petekan: Jaya di Masa Belanda, Hancur di Tangan Anak Bangsa

surabayapagi.com
Jembatan Petekan kini hancur di tangan anak bangsa. .SP/SAMMY MANTOLAS

SURABAYAPAGI,Surabaya -  Jembatan Petekan riwayatnya dulu. Tatkala kapal datang, geladaknya dengan gagah terangkat. Dengan santai, kapal berukuran besar dari laut Jawa dapat menyusuri sungai kalimas menuju Jembatan Merah hingga Mojokerto.

Adalah Ramze pria kelahiran Bangkalan tahun 1951. Memori akan kemegahan jembatan petekan masih membekas di kepala.

"Ramai sekali dulu di sini. Kan di sini pasar buah. Kapal dari Madura datang ya jualnya di sini. Ada yang jual di atas perahu," kata Ramze yang saat ini bekerja sebagai tukang parkir taman Petekan kepada Surabaya Pagi, Jumat (09/04/2021).

Dahulu geladak dapat digerakkan ke atas oleh baja pengungkit yang dijalankan oleh mesin penggerak yang berada di kedua sisi jembatan. Ketika ujung jari sang operator menekan tombol mekanik, sejurus kemudian geladaknya terangkat. Saat ditekan untuk kedua kalinya, geladaknya akan turun kembali dan warga dengan santai berjalan di atasnya.

Masyarakat saat itu menyebutkan petekan. Dalam bahasa Jawa petekan berarti tekan. Inilah asal muasal nama Jembatan buka tutup yang tercanggih di masanya.

"Waktu itu saya masih 7 tahun. Senang kalau ada kapal yang datang. Kalau jembatannya naik (terangkat_red) semua orang nonton," katanya mengingat.

jembatan-petekan_(1)

Ferwerda Brug Jaya Saat Belanda

Jembatan Petekan dibangun oleh NV. Machinefabriek Braat and Co. pada tahun 1900 dan mulai beroperasi pertama kali pada 16 Desember 1939. Pembangunan jembatan berukuran 150 meter ini menelan biaya 133.100 gulen Belanda atau setara dengan Rp 1.075.913.850, dengan acuan 1 gulden Belanda sebesar Rp 8.083,53.

Nama jembatan ini awalnya disebut dengan ferwerda brug. Namun karena sistem kerjanya yang ditekan (petekan) maka nama petekan dilabeli oleh masyarakat saat itu, untuk mempermudah pengucapan.

Dalam tulisan berjudul "De Admiraal Ferwerdaburg, de nieuwe ophaalbrug over de Kalimas to Soerabaja 1940" menyebutkan, penamaan ferwerdaburg diambil dari nama seorang panglima perang angkatan laut Hindia Belanda yakni Admiraal Ferwerda.

Pemerhati sejarah dan Direktur Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto, menjelaskan, jembatan petekan saat itu menjadi salah satu pusat perdagangan kapal-kapal tradisional.

"Jadi di tempat itu, perahu-perahu tradisional malang melintang di situ. Karena dulu Belanda membuat kanal-kanal. Jadi kapal yang akan berlayar dari laut Jawa harus melewati Jembatan Petekan," kata Freddy Istanto

Jembatan Petekan sendiri mempunyai ketinggian 1,70 meter di atas permukaan air sungai saat pasang dan 1,20 meter di bawah jalan raya. Di kedua sisi jembatan, sebelah timur dan barat terpasang pilar berukuran 11 meter x 50 meter.

Konstruksi geladaknya terdiri dari balok-balok gelagar yang  terpasang searah panjang konstruksinya dan diikat dengan baja siku yang posisinya menyilang di antara balok-balok gelagar. Balok dan baja siku merupakan tumpuan untuk papan kayu jati geladak yang kemudian diberi lapisan aspal sebagai jalur penyebrangan masyarakat.

Pada tempat mesin penggerak baja pengungkit sisi utara terdapat ruangan operator dengan atap dari papan jati. Jembatan ini memiliki lampu penerangan yang terpasang di bangunan menara dan kedua sisi ujung jembatan.

Kurang lebih setiap harinya ada sekitar 16 kapal tiang dengan ketinggian 17 meter yang lalu lalang melewati jembatan ini. Jumlah ini belum ditambah dengan kapal-kapal kecil lainnya yang dijadikan sebagai tempat bertransaksi bahan pangan.

"Iya, banyak perahu tradisional yang menjual bahan pangan di atas sungai kalimas dekat Jembatan Petekan itu. Mulai dari buah-buahan yang dibawa dari madura sampai bahan pokok kebutuhan masyarakat saat itu," katanya.

"Jembatan ini juga menjadi penghubung bagi kapal yang akan masuk ke pelabuhan Kalimas atau pun ke pusat kota dan jembatan Merah," tambahnya

Saat pertempuran yang terjadi pada 10 November 1945 pecah, Freddy menjelaskan Jembatan Petekan kala itu memiliki peran yang sangat penting. Arek-arek Suroboyo yang tak ingin kemerdekaan direbut kembali oleh Belanda, menjadikan Jembatan Petekan sebagai basis pertahanan timur Surabaya.

"Ada nilai sejarahnya, jembatan ini bahkan difungsikan sebagai titik kunci untuk menahan serangan tentara sekutu oleh arek-arek Suroboyo," kisah Freddy.

IMG20210407111128

Hancur di Tangan Anak Bangsa

Cerita-cerita akan kemegahan jembatan yang dapat terbuka dan tertutup secara otomatis kini tinggal kenangan. Kurangnya perawatan dan pemeriksaan secara berkala berakibat pada sistem mekanik jembatan. Sekitar tahun 1980-an, gelagak jembatan tidak dapat terangkat lagi. Bukannya memperbaiki jembatan, pemerintah justru membangun jembatan baru di sisi kiri dan kanan.

Ramze sebagai saksi sejarah megahnya jembatan Petekan pun ikut bersedih melihat itu. Bahkan menurutnya, akibat pembiayaran yang dilakukan oleh pemerintah, besi-besi jembatan secara perlahan dan konsisten dicuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Dicuri besi-besinya mas, sampai ambrol jembatannya," kata Ramze.

Tahun 2008, Bambang Dwi Hartono selaku Walikota Surabaya saat itu mengeluarkan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya 188.45/004/402.1.04/1998 nomor urut 47 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya menetapkan jembatan Petekan sebagai cagar budaya.

Kendati telah ditetapkan sebagai cagar budaya, pencurian besi-besi jembatan terus dilakukan. Hingga tahun 2010, jembatan bersejarah ini roboh.

Lucunya pelaku yang ditangkap saat itu mengaku besi hasil jarahan seberat 1,3 kuintal tersebut rencananya dijual kiloan ke seorang penadah besi tua di Surabaya dengan harga Rp 440 ribu.

Adalah Mat Neri (20), Abdul Rohim (25), dan Abdul Muin (40). Semuanya asal Madura yang menjadi pelaku pencurian besi jembatan.

Akibat kerusakan yang cukup parah, para investor Belanda yang ingin memperbaiki jembatan tersebut tak punya pilihan lain selain membatalkan niat mereka untuk memperbaiki.

"Lima tahun lalu ada investor dari Belanda mau memperbaiki, tapi karena kerusakannya parah maka mereka kembali ke Belanda," katanya.

IMG20210407110637

Perlu Penjagaan untuk Bangunan Heritage

Menurut Freddy, pemerintah harus konsisten dalam menjaga bangunan-bangunan bersejarah atau heritage.

Kekonsistenan tersebut bukan hanya sekedar mengeluarkan keputusan bahwa suatu bangunan merupakan cagar budaya.

"Ini kan tanggung jawab utamanya adalah pemerintah kota. Karena kalau sudah menetapkan sebagai cagar budaya ya seharusnya memperbaiki, mengawasi, memelihara. Jadi harus tetap menjaga, harus ada petugas yang patroli melihat dan merawat itu," katanya

"Jadi memang butuh political will dari pemerintah kota dalam hal ini ya walikota sih," ucapnya menambahkan

Dari pantauan Surabaya pagi di lapangan, ruang operator jembatan Petekan, nampaknya dijadikan tempat tinggal bagi masyarakat. Terlihat ada tumpukan koran dan pakaian yang tergantung dalam ruangan tersebut.

"Menurut saya selain tidak hanya pemerintah kota yang salah, tapi warga juga ikut bersalah. Kita punya monumen yang sebesar itu namun tidak dijaga dengan ketat," ucapnya

Karena posisinya yang berada di tengah jembatan baru yang di bangun, reporter Surabaya Pagi tak menemukan satu pun petugas yang menjaga jembatan tersebut.

"Gak ada mas, gak ada yang jaga," aku Ramze kepada Surabaya Pagi.sem

Editor : Mariana Setiawati

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru