SURABAYA PAGI, Jakarta - Perpres 78 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa seluruh lembaga penelitian termasuk Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman harus diintegrasikan ke BRIN. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Wien Kusharyoto, menyatakan terdapat 113 tenaga honorer dan pegawai pemerintah non-pegawai negeri (PPNPN) yang diberhentikan kontraknya, 71 diantaranya adalah staff peneliti.
Ada lima lembaga penelitian yang resmi terintegrasi ke dalam BRIN per 1 September 2021, antara lain LAPAN, BATAN, LIPI, BPPT, dan Kemenristek/BRIN. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menawarkan sejumlah skema perekrutan para periset Eijkman sebagai peneliti BRIN. Pertama, PNS periset bakal dilanjutkan pengangkatannya menjadi PNS BRIN. Hal ini sekaligus mereka akan diangkat sebagai peneliti.Opsi berikutnya, untuk tenaga honorer periset usia di atas 40 tahun dan merupakan S3, dapat mengikuti penerimaan ASN jalur PPPK 2021. "
Yang sudah bergelar S3 dialihkan untuk menjadi ASN atau PPPK, sudah tiga orang yang diterima," tutur Wien. Sementara, bagi tenaga honorer peneliti S1 dan S2 dapat mendaftarkan diri sebagai mahasiswa S2 atau S3 berbasis riset atau by research. Tujuannya agar mereka dapat direkrut sebagai asisten riset di PRBM Eijkman.” Jelas Wien.
Wien menuturkan proses pendaftaran itu masih berlangsung pada tahun ini. Ia menegaskan, riset dan biaya kuliah para tenaga honorer itu bakal ditanggung oleh BRIN.
"Proses ini masih tetap berlangsung di tahun 2022, mengikuti mekanisme penerimaan di universitas yang dituju, dan mekanisme perekrutan sebagai asisten riset di BRIN. Yang masih S1 atau S2, perlu menjadi mahasiswa S2 atau S3 by research agar dapat direkrut sebagai asisten riset," ujar Wien.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPR, Abdul Muhaimin Iskandar menilai pencopotan peneliti LBM Eijkman kortraproduktif dengan keinginan pemerintah untuk melakukan penguatan di bidang riset. Walaupun alasannya adalah peleburan ke BRIN.
"Seharusnya kita malah menambah jumlah peneliti kita, bukan malah mengurangi. Salah satu kunci kemajuan sebuah negara adalah dengan penguatan riset dan teknologi," ujar Muhaimin lewat keterangan tertulisnya, Senin (3/1/2022).
Muhaimin menyatakan Indonesia membutuhkan banyak sekali peneliti untuk membangun peradaban yang maju. Pembentukan BRIN diharapkan bisa memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Tanah Air. Muhaimin mencontohkan dalam kasus Covid-19, Indonesia mengalami kegagapan pada awal pandemi. Salah satunya disebabkan karena rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
BRIN diharapkan Muhaimin dapat mengkaji ulang pencopotan para tenaga periset Eijkman. "Tenaga mereka tentu sangat kita butuhkan. Bila perlu, kita memperbanyak tenaga periset untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," ujar Muhaimin. jk
Editor : Redaksi