SurabayaPagi, Surabaya - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) mengunjungi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam sebuah pertemuan formal di Gedung Negara Grahadi, Kamis (20/1/2022).
Dalam momen hangat itu, Ridwan Kamil meminta resep penurunan angka kemiskinan di Jatim kepada Khofifah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menempati peringkat pertama provinsi dengan penurunan angka kemiskinan tertinggi sebanyak 313.130 jiwa atau 30 persen dari total penurunan kemiskinan nasional.
Kemudian Jabar menduduki peringkat kedua dengan total penurunan 190.480 jiwa. Selanjutnya Jateng (175.740) Lampung (76.910), Sumatera Utara (70.790), DI Yogyakarta (31.960), Sumatera Barat (30.740), Maluku (26.840), Sulawesi Tengah (23.230) dan NTT (23.030). Secara nasional penurunan angka kemiskinan sejumlah 1.039.120 jiwa.
"Dalam berbagai hal kita ini saling belajar termasuk apresiasi saya, jumlah kemiskinan terbanyak (turun) paling cepat saya lihat provinsi Jatim. Kami juga lagi belajar kira-kira rumus-rumus apa sehingga akselerasi sehingga kemiskinan bisa cepat baik," kata RK.
Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya saling belajar di tengah pengendalian Covid-19. Terutama saling bertukar informasi terkait perdagangan dan pangan. Mereka juga menandatangani kesepakatan kerja sama dalam pengembangan potensi daerah dan peningkatan layanan publik pada hari ini.
RK melihat selama ini perjanjian antar provinsi kebanyakan business to business (B2B) antar pihak ketiga. Maka dengan adanya perjanjian antara government to government (G2G) tersebut diharapkan bisa merencanakan pertukaran informasi dan suplai perdagangan secara lebih akurat.
Ia mengatakan, lebih dari 80 persen ekonomi Jabar disokong oleh UMKM. "Kalau skala populasi dua provinsi ini adalah provinsi yang terbesar di Indonesia ini. Jabar sudah hampir 50 juta dan Jatim 40,6 juta. Kalau digabung ini adalah volume ekonomi untuk 90 juta manusia," jelasnya.
RK bersyukur bisa mewujudkan cita-cita meningkatkan volume perdagangan antar provinsi melalui kerja sama G2G tersebut dengan berbagai program konkret.
Dia merinci, penduduk Jabar berjumlah 50 juta oleh sebab itu swasembada pangan harus tetap terjaga. Selama ini Jabar masih melakukan impor sapi dan ingin belajar kepada Jatim yang telah lebih dulu swasembada daging melalui Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) di Singosari. Termasuk Rumah Potong Hewan (RPH) Halal.
Selain swasembada daging, RK juga melirik tawaran mineral dolomit bahan baku baterai mobil listrik. Jabar mempunyai kekuatan di sektor industri manufaktur. Dia melihat sumber daya mineral di Jatim bisa menjadi alternatif.
"Kita bisa kerja sama merakit mobilnya dari Jawa Barat, dan sumber baterai listriknya bisa dari Jawa Timur," ujarnya.
RK optimistis jika kedua provinsi ini saling bersinergi akan mampu menyumbangkan 30 persen kekuatan ekonomi nasional.
Pada momen tersebut, Khofifah berharap Jatim dan Jabar bisa bersama-sama menjadi bagian dari penopang swasembada daging. "Tadi saya sampaikan ada pusat inseminasi buatan di Singosari, ini potensi yang luar biasa," kata Gubernur Jatim Khofifah usai bertemu Gubernur Jabar Ridwan Kamil. By
Editor : Redaksi