SurabayaPagi, Surabaya - Anggota Komisi XI DPR RI Indah Kurnia bersama Perkumpulan Lumbung Pelita Indonesia (LuPI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar penyuluhan Waspada Jerat Investasi Bodong.
Sosialisasi door to door atau mendatangi warga dari rumah ke rumah kali ini menyasar warga Jalan Ikan Kerapu, Krembangan, Surabaya, Sabtu (26/2/2022).
Kegiatan sosialisasi juga dilaksanakan di balai RW 3 Kelurahan Perak Barat. Selain memberikan edukasi mengenai bahayanya investasi bodong, tim juga memberikan paket sembako kepada warga.
Indah Kurnia semakin massif mengedukasi masyarakat agar tak terjebak investasi abal-abal tersebut. Iming-iming investasi dengan keuntungan fantastis memang cukup menggiurkan saat kondisi pandemi Covid-19. Mereka menjerat korban dengan berbagai modus meyakinkan.
Ade, mewakili tim Rumah Aspirasi Indah Kurnia pada kesempatan tersebut mengatakan, masa pandemi menimbulkan tantangan ekonomi bagi masyarakat. Banyak pinjaman online dan investasi ilegal bertebaran di media sosial. Namun tawaran menggiurkan ini bisa menjadi jerat apabila masyarakat tak teredukasi.
Oleh karena itu OJK dan Anggota Komisi XI DPR RI Indah Kurnia sebagai regulator dan pemangku kebijakan sengaja membidik lokasi ini sebagai tempat edukasi. Agar warga di perkampungan tidak terjerumus dalam iming-iming pinjaman online dan investasi bodong.
"Kami berharap kedatangan kami bisa memberikan edukasi dan mencegah," kata Ade.
Ia menambahkan, bila ada masyarakat menemukan kasus jerat pinjaman online dan investasi bodong bisa melaporkan ke OJK melalui nomor WhatsApp 081157157157.
Secara terpisah Indah Kurnia menjelaskan, bahwa penanganan pandemi dan ekonomi adalah dua sisi dari satu mata koin yang tidak terpisahkan.
Salah satu upaya untuk bisa mempertahankan kondisi keuangan keluarga adalah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan produktif seperti usaha maupun opsi lain yang lebih menantang dan menjanjikan keuntungan seperti investasi dengan tujuan agar uang tidak berhenti di tabungan.
"Karena kalau cuma uang ditaruh di rumah apalagi di bawah bantal tentu kenyamanan dan keamanan kita akan terusik karena ketakutan dan kekhawatiran kalau uang itu misalnya diambil, dicuri atau hilang dan lain sebagainya dan bahkan nilainya semakin turun karena tidak diproduktivitaskan," terang Indah.
Oleh sebab itu, Indah Kurnia mengapresiasi edukasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh OJK terhadap masyarakat secara rutin, periodik, dan konsisten.
"OJK melakukan bersama dengan kami Anggota Komisi XI DPR RI di seluruh daerah pemilihan kami masing-masing," ujar legislator dari daerah pemilihan Jatim 1 ini.
Sosialisasi dan edukasi dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia. Karena jika tingkat literasi keuangan tinggi, maka juga akan semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dengan demikian tidak akan banyak masyarakat yang terjerat pinjaman online.
Untuk itu Indah Kurnia berharap kegiatan penyuluhan dari OJK kali ini bisa benar-benar dicermati dengan seksama, menerapkan dan mengimplementasikan di dalam kehidupan sehari-hari tentang langkah mengelola keuangan dengan bijak di tengah kebutuhan yang terus meningkat dan tidak terprediksi.
Ada yang menarik pada acara ini, yaitu adanya kesaksian korban investasi bodong.
Leny Aprianti, seorang ibu rumah tangga di Kota Surabaya kehilangan uang belasan juta. Itu setelah ia menginvestasikan uangnya di salah satu website investasi online bernama Missionmake.money.
Leny mengaku, ia mau menginvestasikan uangnya lantaran tergiur keuntungan besar. Selain itu, ia yakin karena website yang mengatasnamakan bibit tersebut mencantumkan logo resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Website yang melakukan penipuan mengatasnamakan bibit dan ada izin OJK nya," katanya.
Leny bercerita, awal investasi dilakukan awal tahun ini. Pada tanggal 5 Januari 2022, ia masuk grup di telegram bernama 3M (Mission Make Money). Disana terdapat iming-iming investasi dengan profit 40% hingga 50%.
Tergiur untung yang gede, Leny kemudian mendaftarkan diri pada akun website missionmake (dot) money. "Setelah sukses saya diperintah untuk deposit saldo minimal Rp50 ribu," terangnya.
"Saya deposit saldo transfer ke akun E Wallet mereka. Yakni Dana dengan nomor 081391657672 sebesar Rp200 ribu. Saya kirim bukti transfer, saya dikirim kontrak dengan embel-embel nama Bibit Investment/Bibit Group dan OJK," bebernya.
Leny melanjutkan, setelah menjalani sejumlah tahapan pendaftaran, ia disuruh menjalankan sebuah misi. "Misi selesai dan benar, saya mendapatkan profit sebesar Rp60 ribu," ucapnya.
Selang beberapa menit, Leny pun ingin melakukan misi lagi dan disuruh deposit Rp600 ribu. Dia kemudian melakukan trasnfer via Bank BNI melalui e Walletnya dan menjalankan misi dengan profit Rp140 ribu.
"Jadi yang saya terima dalam kedua misi tersebut ada Rp200 ribu. Kemudian saya melakukan misi lagi dengan transfer sebesar Rp1.200.000," ungkapnya.
Ironisnya, penipuan yang seolah-olah investasi ini dijalankan dengan sangat cantik, hingga korban tidak menyadari. Leny menduga, penipuan dijalankan oleh tim. Kecurigaan itu ia sadari setelah berada dalam satu grup percakapan yang hanya beranggotakan 4 orang.
"Setelah masuk grup ini, saya diperintah deposit lagi sebesar Rp1 juta, kemudian Rp1.5 juta, Rp3.5 juta dan Rp 8 juta kemudian terakhir Rp4 juta," kata dia.
Iapun baru yakin bahwa investasi tersebut merupakan modus penipuan, saat gagal menarik investasi. Ketika bertanya kepada anggota grup lainnya, semua mengatakan bahwa uang bisa ditarik. Padahal Leny sendiri selalu gagal. Mereka berdalih, penarikan dengan saldo harus sama agar bia ditarik.
"Saya juga mencurigai, 3 anggota grup lainnya adalah komplotan. Karena mereka bertiga melaporkan bisa ditarik, dan saya tidak bisa. Mereka saya hubungi gak bisa," jelasnya.
Saat ini, Leny sudah melaporkan website missionmake (dot) money kepada bibit yang asli. Merasa dirugikan dan tidak ingin ada korban lainnya, Leny pun sudah membuat pengaduan ke website e-polri. Hanya saja belum ada respon. Ia juga membuat pengaduan ke OJK.
Selain mengadukan ke Bibit asli dan lapor ke e-polri, Leny juga berusaha menelusuri sepak terjang website melalui jejaring yang ahli IT.
Ini hasil penelurusannya:
1. 99,99% website abal2
2. Website baru dibuat tanggal 24/12/2021 (< 1 bulan) sehingga belum ada track record laporan penipuan.
3. Data-data website di private tidak jelas siapa pemilik, lokasi, kontak dsb.
4. Tampilan website tidak profesional
5. Website cuma dibikin pakai kode html biasa dan tidak terhubung dengan sistem perbankan langsung, kalaupun bisa dibobol untuk tarik dana maka sifatnya kamuflase, seolah-olah ada laporan berhasil ditarik, tapi tidak secara real transfer.
6. Masuk kategori HYIP, alias program investasi profit besar yang 99.9% SCAM, dapat korban langsung website ditelantarkan dan buat website baru lagu
7. Website tidak pakai TLD (Top Level Domain) seperti .com, .net, .co.id
8. Coba googling "apa itu SCAM", "apa itu HYIP", "ciri-ciri HYIP", "tanda tanda HYIP SCAM"
Oleh karena itu, Anggota Komisi XI DPR RI Indah Kurnia bersama Perkumpulan Lumbung Pelita Indonesia (LuPI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus gencar melakukan penyuluhan Waspada Jerat Investasi Bodong untuk mencegah jatuhnya korban baru. By
Editor : Redaksi