SURABAYA PAGI.COM, Mojokerto - Kota Mojokerto berkembang pesat di bawah kepemimpinan Walikota Ika Puspitasari. Kota kecil yang dulu hanya dikenal sebagai Kota Onde-onde, kini bertransformasi menjelma jadi Kota Pariwisata Berbasis Sejarah Budaya dan Kota Perdagangan.
Perlahan namun pasti, perwajahan kota mulai berubah. Hampir seluruh bangunan perkantoran Pemkot Mojokerto, ruang publik hingga pusat perdagangan kini bercorak khas Majapahitan.
Selain itu, sejumlah ikon baru berkonsep sejarah dan budaya juga bermunculan. Setelah menara Tribhuwana Tunggadewi, Pemandian Sekarsari dan tugu alun-alun, destinasi pariwisata makin lengkap dengan sentuhan pembangunan objek pariwisata buatan lainnya.
Termasuk yang tahun ini sedang berproses pembangunannya yakni Kawasan Wisata Bahari di Sungai Ngotok, Kota Mojokerto.
Proyek multiyears yang dibangun melalui sharing anggaran daerah dan pusat senilai Rp 57,9 miliar ini nantinya akan menyuguhkan kawasan dermaga beserta shelter-shelter Majapahitan, Monumen Gajah Mada, Camping Ground, Taman Budaya, Wisata Perahu, Food Court dan Wisata Petik Jeruk.
Walikota Ning Ita juga telah menjalin kerjasama dengan BBWS Brantas untuk mempercantik bantaran Sungai Ngotok dengan pohon tabebuya, pohon mojo dan agrowisata kota yang modern.
Tak hanya itu, kota yang pada bulan Juni nanti berusia 105 tahun ini juga memiliki daya tarik wisata malam. Sejumlah jembatan telah dipoles corak Majapahitan. Sehingga terlihat eksotis saat siang dan malam hari dengan gemerlap sorotan lampu penerangan cantik.
Kota berslogan 'Spirit Of Majapahit' ini juga telah membangun 11 taman dengan konsep ruang terbuka hijau berisi area vegetasi penghijauan serta taman bermain ramah anak yang disuguhkan gratis bagi masyarakat.
Juga di era Walikota Ning Ita, Kota Mojokerto telah menemukan identitas barunya sebagai 'Kota Soekarno Kecil'. Berbekal catatan sejarah Sang Proklamator pernah berdomisili dan menempuh pendidikan di Kota Mojokerto pada tahun 1907 hingga 1917.
Ning Ita lantas merias bangunan sekolah tempat Bung Karno menimba ilmu yakni SDN Purwotengah di Jalan Taman Siswa dan SMPN 2 Kota Mojokerto di Jalan Ahmad Yani agar tampak lebih 'Soekarnois' tanpa merubah bentuk aslinya.
Diantaranya dengan mendirikan patung Soekarno kecil mengenakan pakaian perpaduan gaya Belanda dan Jawa, membuat galeri Soekarno serta membuat Prasasti Tetenger sebagai napak tilas Soekarno.
Tak pelak, perubahan ini mengundang decak kagum sejumlah pihak. Salah satunya, dari Wakil Ketua DPRD Kota Mojokerto, Sonny Basoeki Rahardjo.
Politisi Partai Golkar ini menyebut manuver pembangunan yang dilakukan Walikota Ning Ita sangat luar biasa. Ide dan kreativitasnya tak terbatas meskipun dihadapkan pada kondisi luasan wilayah yang sempit dan minim sumber daya alam.
"Baru di era Ning Ita, identitas Kota Mojokerto menjadi jelas. Karakternya kuat dengan mengembalikan jati dirinya sebagai bagian dari Bumi Majapahit," tukasnya.
Selain mampu menghidupkan sektor wisata yang telah lama mati suri, Walikota Ning Ita juga dinilainya berhasil menghidupkan sektor perekonomian melalui pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
"Pusat perdagangan baru terus bertambah, sebut saja Pasar Tematik Ketidur, Pasar Loak, Pasar Hewan Sekarputih, Rest Area Gunung Gedangan dan Skywalk alun-alun. Ini sejalan dengan konsep perkotaan yang identik dengan jasa serta perdagangan," ungkapnya.
Untuk infrastruktur jalan, lanjut Sonny, Walikota Ning Ita telah membuktikan diri mampu menuntaskan proyek prestisius pelebaran Jalan Raya Empunala yang menelan anggaran fantastis senilai Rp 101 miliar. Bahkan, saat ini jalan-jalan kota dan lingkungan juga turut dipermaknya menjadi lebih lebar dan mulus.
"Infrastruktur jalan harus diperbaiki, karena ini menunjang kelangsungan hidup sektor pariwisata dan perdagangan. Jika jalannya bagus, pengunjung tak segan datang untuk belanja atau menikmati wisata kota," ungkapnya.
Sementara itu, Walikota Mojokerto, Ika Puspitasari mengakui perubahan wajah Kota Mojokerto mulai nampak jelas di periode akhir pengabdiannya. Sejumlah proyek pembangunan telah rampung dikerjakan dan bisa difungsikan tahun ini.
"Proyek rehabilitasi GOR dan Seni Mojopahit serta pembangunan Sentra IKM Batik di Kelurahan Gunung Gedangan dan Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (PLUT - KUMKM) di Kelurahan Blooto juga bakal tuntas dikerjakan tahun ini. Semuanya kita bangun dengan corak Majapahitan agar bisa difungsikan sebagai destinasi wisata pula," ujarnya.
Petinggi Pemkot ini berharap, dengan tumbuhnya sektor pariwisata akan mendongkrak sektor UMKM. Sehingga mampu mengangkat kesejahteraan warga yang mayoritas adalah pelaku usaha mikro tersebut.
"UMKM merupakan bagian tak terpisahkan dari pariwisata Kota Mojokerto. Sektor ini sengaja kita prioritaskan lantaran terbukti tangguh menghadapi pandemi dan mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi kota dari semula minus 3,69 persen kini naik level di atas 5 persen," pungkasnya. Dwi
Editor : Redaksi