SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pemerintah saat libur lebaran tahun ini memang memberikan fleksibilitas tinggi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Ada ruang libur nasional dan cuti bersama pada tahun 2025-2026, yang kali bisa diartikan bentuk ASN seperti "dimanjakan".
Namun, kebijakan ini dibarengi dengan skema kerja khusus agar pelayanan publik tetap berjalan.
Baca juga: KPK Mulai Dicurigai
Setelah libur Idul Fitri 1447 H, ASN diberikan fleksibilitas WFA pada 25, 26, dan 27 Maret 2026, yang memungkinkan ASN tetap bekerja dari luar kantor setelah libur nasional.
Pesan moralnya, meskipun mendapatkan fleksibilitas kerja, instansi pemerintah diimbau tetap memperhatikan layanan publik esensial. Artinya, fleksibilitas kerja bukan berarti libur total.
Kebijakan ini ditekankan sebagai bentuk Flexible Working Arrangement (FWA), yang berarti gaji tetap penuh dan bukan merupakan hari libur tambahan, melainkan penyesuaian tempat kerja.
Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas kerja dengan fleksibilitas, serta mendukung pergerakan aktivitas ekonomi, namun tetap diwajibkan untuk mematuhi target kerja yang ditetapkan.
Ya! Libur panjang terjadi pada pertengahan Maret 2026, dengan potensi WFA pada 25-27 Maret 2026 setelah libur lebaran.
Berdasarkan SKB 3 Menteri, rangkaian libur dimulai dari 19 Maret (Nyepi), disusul cuti bersama Idul Fitri pada 20, 23, dan 24 Maret, serta hari H Lebaran pada 21-22 Maret.
Maknanya, mengacu keputusan resmi pemerintah melalui SKB 3 Menteri, libur dan cuti bersama Lebaran 2026 berakhir pada Selasa, 24 Maret 2026.
Sementara masa libur Lebaran untuk sekolah berakhir pada hari Jumat, 27 Maret 2026.
ASN akan menjalani WFA (Work From Anywhere) pada 25-27 Maret dan kembali masuk kantor normal pada Senin, 30 Maret 2026 hari ini. Kebijakan WFA bertujuan mengurai arus balik.
***
Secara psikologis, kembali bekerja setelah libur atau jeda panjang memerlukan penyesuaian mental dan fisik agar tetap produktif.
Beberapa psikolog menyarankan saat masuk hari pertama tentukan tujuan harian yang spesifik dan susun prioritas pekerjaan agar tidak kewalahan.
Pesannya, jangan memaksakan diri mengerjakan semua hal berat di hari pertama. Mulai dengan tugas-tugas ringan atau mengecek email/agenda.
Baca juga: Pemkab Jember Siapkan Skema WFH untuk ASN
Kini, libur akhir lebaran telah usai. Ini saatnya kembali ke kenyataan: bekerja.
Bagi psikolog, libur memang saat yang tepat untuk mengisi kembali energi fisik dan mental. Setelah libur, harapannya diri pun bisa lebih produktif.
Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Tidak sedikit orang yang merasa lebih berat memulai pekerjaan setelah pulang dari liburan. Stres, kelelahan mental, dan penurunan fokus lebih dirasakan setelah liburan usai.
Kondisi itu sebenarnya lumrah. Kondisi ini dikenal dengan post-holiday blues. Hal ini merupakan kondisi ketika terjadi tekanan kognitif dan emosional saat transisi dari masa liburan ke rutinitas harian.
Post-holiday blues adalah kondisi psikologis sementara berupa perasaan sedih, cemas, lelah, dan kehilangan motivasi yang muncul setelah masa liburan panjang berakhir. Ini adalah reaksi wajar saat beralih dari suasana santai ke rutinitas harian. Suasana ini sering menyebabkan penurunan produktivitas dan konsentrasi kerja.
Setelah berlibur sejenak dan menjauh dari kesibukan, harusnya kita merasa lebih bersemangat untuk bekerja. Namun, bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya? Hati-hati, ini pertanda kita mengalami post holiday blues atau vacation blues.
***
Baca juga: Mohon Maaf Lahir Bathin
Post holiday blues umumnya dialami pekerja di Amerika Serikat setelah libur musim dingin. Sementara itu, di Indonesia gejala ini lebih mungkin dialami seusai libur panjang seperti Lebaran dan Tahun Baru.
Ketika mengalami sindrom ini, kita, kata teman psikolog, akan cenderung tidak bersemangat ataupun produktif dalam bekerja. Akibatnya, pekerjaan menjadi terbengkalai.
Hal itu bisa bertambah buruk jika liburan yang dilalui juga berat. Banyak orang yang ketika berlibur malah merasa lelah.
Kewajiban sosial selama liburan kerap memicu perasaan lelah tersebut. Jika begitu, alih-alih memulihkan diri dan beristirahat, liburan justru membutuhkan lebih banyak energi.
Praktisi kesehatan mental di London, Ankita Guchait dalam tulisannya di Psychology Today menyampaikan, beban terbesar biasanya akan dirasakan pada minggu-minggu pertama setelah liburan. Tumpukan agenda yang mesti dimulai, banyak email yang belum terbaca, serta target baru awal tahun sudah menunggu untuk segera diselesaikan.
Padahal, pada saat yang sama, sistem kognitif dan emosional seseorang masih berada pada fase penyesuaian. Itu sebabnya, banyak orang yang merasa menjadi lebih lambat, kurang fokus, dan mudah kewalahan dibandingkan hari kerja sebelumnya.
“Fenomena ini umumnya disebut sebagai stres pascaliburan atau perasaan sedih pascaliburan. Ini bukan hanya pengalaman subjektif. Gangguan rutinitas dan kembali pada lingkungan dengan tuntutan tinggi akan memberikan tekanan pada kognitif dan emosional,” tutur Guchait.
Ia menyampaikan, rasa berat yang dirasakan saat kembali bekerja bisa terjadi karena seseorang telah kehilangan momentum. Jeda dari pekerjaan membuat dampak pada kesehatan mental menjadi menurun. Namun, ketika beban pekerjaan kembali datang dengan intensitas penuh dan otak dituntut untuk langsung bekerja keras, itu dapat memicu rasa stres dan ketidakefisienan dalam tubuh. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Moch Ilham