SURABAYAPAGI.com, Jakarta – "No results can define me, no failure can erase me, and no expectations can define who I am." Prinsip hidup mendalam ini menjadi pegangan bagi Angeline Virgina Wong sosok muda bertalenta asal Surabaya.
Angeline kembali mencuri perhatian publik melalui langkah besarnya menembus panggung bergengsi TEDx. Penampilannya di platform ide kelas dunia tersebut sekaligus menjadi momentum relaunch buku reflektifnya yang berjudul I'm a Trophy Kid.
Dalam sesi berbagi di panggung TEDx, Angeline menjadi simbol keberanian generasi muda dalam mengungkap cerita yang selama ini tersembunyi di balik sorotan prestasi. Di tengah citra "trophy kid" yang melekat, ia memilih berbicara jujur mengenai sisi gelap yang jarang terlihat, seperti tekanan batin dan perjuangan menemukan jati diri.
Angeline menjelaskan, buku I’m a Trophy Kid merupakan autobiografi reflektif yang mengangkat sisi lain dari sebuah pencapaian. "Di balik pencapaian yang terlihat sempurna, saya membagikan perjalanan emosional tentang tekanan, kehilangan arah, hingga proses menemukan kembali jati diri," ujar Angeline, beberapa waktu lalu.
Melalui buku setebal 130 halaman ini, Angeline mengajak pembaca untuk berdamai dengan diri sendiri. Judul I'm a Trophy Kid merepresentasikan seseorang yang tumbuh dengan label "prestasi", namun sering kali kehilangan ruang untuk menjadi manusia yang utuh. Menurutnya, menjadi Trophy Kid bukan sekadar tentang kemenangan, melainkan tentang beban untuk selalu terlihat sempurna.
Perjalanan Angeline dimulai dari dunia akademik hingga merambah ke ranah kreatif seperti menulis dan public speaking. Proses jatuh bangun itulah yang akhirnya membentuk identitas dan tujuan hidup perempuan yang akrab disapa Angel ini.
"Motivasi utama saya adalah ingin mengajak pembaca jujur pada diri mereka sendiri. Saya ingin membantu orang lain yang mungkin merasa sendirian dalam tekanan hidup. Buku ini menjadi ruang untuk berkata: kamu tidak sendirian," ucapnya.
Buku tersebut terdiri dari beberapa fase reflektif yang terbagi dalam 30 bab untuk program 30 hari healing. Karya ini tidak hanya menceritakan pencapaian, tetapi juga menyelami realita bahwa di balik setiap kemenangan terdapat pergulatan yang tidak terlihat.
"Melalui buku ini, pembaca bisa merasakan bahwa orang yang terlihat kuat pun bisa hancur, dan itu sangat manusiawi," tandasnya.
Selain sebagai penulis, Angeline dikenal sebagai desainer muda, penulis lagu, penyanyi, pelestari budaya, hingga pendiri grup teatrikal The Wonder of Indonesia (TWOI). Ia berharap kehadiran buku ini dapat memperkaya literasi bagi generasi muda. Bagi Angeline, literasi adalah jembatan untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Ia menekankan bahwa hal terpenting bagi remaja saat ini bukan hanya prestasi, melainkan karakter dan kesehatan mental.
"Penting bagi kita membangun fondasi mental health yang baik, agar pertumbuhan prestasi itu bisa teguh," jelasnya.Menutup keterangannya, Angeline menyatakan komitmennya untuk terus berkarya di bidang seni. "Saya ingin terus berkembang di bidang seni, karena saya percaya kesenian adalah salah satu jembatan untuk menginspirasi masyarakat," pungkasnya dengan optimis. n.tm.jk.nna
Editor : Redaksi