Siswa SMA-SMK Raup Rp483 Juta dari Program Wirausaha, Ekonomi Kreatif Kian Menjanjikan

surabayapagi.com

SurabayaPagi, Jakarta – Sebanyak 1.173 siswa SMA dan SMK dari 45 sekolah di Indonesia membukukan pendapatan kolektif lebih dari Rp483 juta melalui program kewirausahaan berbasis sekolah.

Capaian ini menjadi indikator awal potensi ekonomi dari penguatan kewirausahaan sejak usia pelajar, terutama di sektor ekonomi kreatif yang terus tumbuh.

Program tersebut dijalankan oleh Prestasi Junior Indonesia melalui Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) dan Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program (SCYEP), dengan melibatkan dukungan sektor swasta.

Dalam program ini, para siswa membentuk 45 perusahaan siswa (student companies) yang beroperasi secara nyata, mulai dari riset pasar hingga penjualan produk.

Sepanjang program, peserta menjalankan fungsi bisnis secara menyeluruh, termasuk pengembangan produk, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan.

Aktivitas tersebut menghasilkan transaksi riil yang berkontribusi pada total pendapatan ratusan juta rupiah.

Kegiatan ini mencapai puncaknya dalam ajang kompetisi tahunan PJI Company of the Year (COY) 2026 di Jakarta, yang menampilkan perusahaan siswa dengan kinerja terbaik. Penilaian didasarkan pada aspek bisnis seperti inovasi, model usaha, keberlanjutan, serta capaian finansial.

Kontribusi ke Ekonomi Kreatif

Capaian tersebut sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi kreatif nasional yang semakin signifikan. Berdasarkan data Statistik Ekonomi Kreatif 2025, sektor ini menyumbang Rp1.757,87 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pertumbuhan 6,86 persen lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.

Selain itu, sektor ini menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja.

Konteks tersebut menempatkan program kewirausahaan pelajar sebagai bagian dari ekosistem pengembangan sumber daya manusia yang berpotensi memperkuat basis ekonomi kreatif di masa depan.

Ketua Pengurus Prestasi Junior Indonesia, Pribadi Setiyanto, menyatakan bahwa pendekatan berbasis praktik menjadi kunci dalam membangun kapasitas wirausaha generasi muda.

Menurutnya, program Student Company dirancang bukan sekadar simulasi, melainkan sebagai sarana pembelajaran langsung yang menghubungkan pelajar dengan dunia usaha.

Inovasi Produk dan Nilai Tambah

Sejumlah perusahaan siswa mengembangkan produk berbasis material lokal dan prinsip ekonomi sirkular. Di antaranya pemanfaatan pelepah pisang menjadi bioleather, serat daun nanas untuk produk rumah tangga, serta pengolahan limbah seperti tempurung kelapa dan plastik daur ulang menjadi barang bernilai jual.

Model bisnis tersebut dinilai memiliki potensi nilai tambah karena menggabungkan inovasi produk dengan isu keberlanjutan, yang saat ini menjadi salah satu faktor penting dalam daya saing pasar.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, menilai pengalaman berwirausaha sejak dini dapat membentuk ketahanan dan kapasitas adaptif generasi muda dalam menghadapi dinamika ekonomi.

Peran Dunia Usaha

Keterlibatan sektor swasta dalam program ini dinilai memperkuat relevansi pembelajaran dengan kebutuhan industri. Perusahaan memberikan dukungan dalam bentuk pendampingan, jejaring, serta transfer pengetahuan praktis terkait pengelolaan bisnis.

Perwakilan industri menyebut pendekatan tersebut membantu siswa memahami dinamika pasar sekaligus meningkatkan kesiapan mereka untuk masuk ke dunia kerja atau membangun usaha secara mandiri.

Peluang ke Tingkat Regional

Dua perusahaan siswa terbaik dalam kompetisi ini akan mewakili Indonesia pada ajang JA Asia Pacific Company of the Year Competition 2027 di Bali. Partisipasi ini membuka peluang bagi pelajar Indonesia untuk menguji daya saing produk dan model bisnis mereka di tingkat regional.

Keikutsertaan tersebut juga dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan talenta di sektor ekonomi kreatif Asia Pasifik.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru