SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Melihat fenomena pasokan cabai rawit yang seret dan kualitas cabai yang banyak rusak, membuat sejumlah pedagang di Kabupaten Ponorogo mulai mengeluhkan kondisi tersebut. Pasalnya, hal itu membuat komoditas harga cabai rawit di wilayah tersebut melonjak hingga tembus Rp70 ribu per kilogram (kg), yang sudah dirasakan pedagang sejak Agustus 2026.
Suprihatin, pedagang bumbu dapur di Pasar Legi, mengatakan harga cabai rawit di lapaknya terus bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir. Padahal sebelumnya, harga cabai rawit masih berkisar Rp45 ribu-Rp50 ribu per kilogram. Kini pembeli harus merogoh kocek Rp70 ribu untuk mendapatkan satu kilogram cabai rawit.
"Ini mulai naik Agustus itu lho, Mbak. Terus naik, naik, naik terus," ujar Suprihatin saat ditemui di Pasar Legi, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Banyudono, Kecamatan Ponorogo, Selasa (15/09/2026).
Menurut Suprihatin, kenaikan harga berkaitan dengan menurunnya pasokan dari petani. Cuaca yang tidak menentu disebut membuat hasil panen tidak maksimal. Sebagian cabai yang dipasok ke pedagang juga mengalami kerusakan. Sehingga, pasokan cabai rawit di lapaknya didominasi kiriman dari luar Ponorogo, terutama Tulungagung dan Kediri. Sementara cabai dari petani lokal disebut belum mampu memenuhi kebutuhan pedagang.
"Banyak yang busuk. Kalau tidak percaya, njenengan (kamu) lihat sendiri. Pengaruhnya ya banyak yang busuk. Kemarin-kemarin hujan, dadi ora patek merah," jelas Suprihatin.
Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas daging ayam. Di Pasar Legi, harga daging ayam masih bertahan di angka Rp40 ribu per kilogram selama sekitar dua pekan. Harga tersebut naik dari sebelumnya Rp38 ribu-Rp39 ribu per kilogram. Ia belum mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga, yang dipengaruhi kenaikan harga pakan. pn-02/dsy
Editor : Redaksi