SURABAYAPAGI.com, Mojokerto - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto memfungsikan 12 titik Sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sebagai langkah strategis menghadapi kekeringan ekstrem akibat fenomena kemarau berkepanjangan El Nino Godzilla.
Keberadaan Sumur JIAT ini berfungsi menjaga pasokan air untuk mengairi lahan persawahan produktif, sekaligus meminimalkan potensi gagal panen (puso) yang mengancam sektor pertanian.
Baca juga: Cegah Konflik, Bupati Gus Barraa Serahkan 242 Sertipikat Tanah Wakaf
Salah satu Sumur JIAT yang aktif dioperasikan berada di lahan pertanian Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Khamim Mutohari (38), seorang petani sekaligus Perangkat Desa Pagerejo, menuturkan bahwa musim kemarau ekstrem tahun ini membuat debit saluran irigasi dari Sungai Brantas menyusut drastis.
Akibatnya, pasokan air ke areal persawahan sempat berkurang jauh dari kondisi normal.
"Rumah pompa Sumur JIAT ini merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Sungai Brantas. Alhamdulillah, sekarang sangat dirasakan manfaatnya oleh petani di Desa Pagerejo untuk mengairi sawah di tengah sulitnya pasokan air sungai," ujar Khamim saat ditemui di lokasi, Senin (14/9/2026).
Menurut Khamim, rumah pompa berkapasitas 30 liter per detik tersebut dibangun pada tahun 2025 lalu dan telah aktif digunakan selama 8 bulan terakhir. Dalam penerapannya, pompa beroperasi 2 hingga 3 kali seminggu dengan durasi 6-8 jam per hari, bahkan hingga 24 jam penuh tergantung kebutuhan petani.
"Kapasitasnya besar, sehingga mampu menyuplai air ke seluruh lahan pertanian di desa kami yang luasnya mencapai 30 hingga 35 hektare," imbuhnya.
Ia menambahkan, dampak kekeringan saat ini merata di wilayah Kabupaten Mojokerto. Namun, para petani di desanya beruntung karena usulan Pemerintah Daerah ke Pemerintah Pusat untuk pengadaan Sumur JIAT ini terealisasi dengan baik. Sebagai langkah antisipasi tambahan, petani juga mulai beradaptasi dengan menanam komoditas yang minim konsumsi air, seperti jagung dan tebu.
"Kebutuhan air masih bisa tercukupi dan operasional pompa sejauh ini lancar. Kami optimistis bisa menghindari risiko puso dan tetap mengamankan hasil panen yang melimpah," papar Khamim.
Pengoperasian Sumur JIAT diatur berdasarkan permintaan para petani melalui Pemerintah Desa (Pemdes). Proses pembagian air di lapangan dikelola langsung oleh petugas pembagi air irigasi tradisional, atau yang lazim disebut warga setempat sebagai Mataulu.
Untuk biaya operasional, para petani menggunakan sistem patungan untuk membeli token listrik yang berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per jam.
Baca juga: Jelang Pengisian BPD Serentak, Bupati Gus Barra Tekankan Transparansi
"Petani iuran dengan rata-rata biaya Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per sesi pengairan, tergantung durasi pemakaian," jelasnya.
Sistem berbasis listrik ini dinilai jauh lebih ekonomis jika dibandingkan dengan penggunaan pompa bermesin diesel konvensional. Jika memakai diesel, petani harus merogoh kocek sekitar Rp 60.000-Rp 70.000 untuk BBM per sesi, belum termasuk biaya sewa mesin diesel yang mencapai lebih dari Rp 50.000. Jika ditotal, biaya pengairan mandiri lewat diesel bisa menyentuh angka Rp 110.000 hingga Rp 150.000 per sesi.
"Jauh lebih hemat lewat Sumur JIAT. Dalam sebulan, petani rata-rata butuh 2 hingga 3 kali pengairan, jadi total pengeluaran hanya sekitar Rp 120.000 per bulan," ungkapnya.
Lebih rinci ia menjelaskan, tanaman jagung pada fase awal membutuhkan pengairan sebanyak 3 kali dalam sebulan. Sementara saat memasuki usia dewasa atau 60-105 Hari Setelah Tanam (HST), intensitas pengairan bisa dikurangi menjadi setiap 14-15 hari sekali atau dua kali dalam sebulan. Lahan produktif di Desa Pagerejo sendiri saat ini digarap oleh sekitar 40 hingga 50 petani.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, Yuni Laili Faizah, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai lahan sawah produktif yang mengalami kekeringan total di bawah wilayah kewenangannya.
Kendati demikian, langkah antisipasi dini terus diperketat melalui perubahan pola operasional saluran irigasi.
Baca juga: Gus Bupati Serahkan Hadiah Undian Pajak, Ada Motor dan Tabungan
"Jika pada musim hujan pola pengairan dilakukan secara langsung (direct), maka di musim kemarau ini kami menerapkan sistem gilir," urai Yuni.
Teknis sistem gilir ini disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Saluran irigasi akan mengisi blok lahan bagian atas selama beberapa hari, kemudian dialihkan untuk mengisi blok bagian bawah secara bergantian agar seluruh luasan area persawahan dapat teraliri secara merata. Infrastruktur Sumur JIAT ini merupakan sumur bor dalam dengan kedalaman lebih dari 100 meter.
Proyek sarana air tanah ini dibangun oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air pada tahun anggaran 2025.
Melihat besarnya manfaat infrastruktur ini, Yuni menyebut Pemkab Mojokerto kembali mengusulkan penambahan titik baru ke Pemerintah Pusat.
"Sudah dua tahun ini kami usulkan. Setelah sukses membangun 12 titik pada tahun 2025 lalu, untuk tahun 2026 ini direncanakan ada tambahan 10 titik lagi yang siap dikerjakan," pungkas Yuni.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, Rois Arif Budiman menyebut sebaran lokasi 12 titik Sumur JIAT yang disiagakan, Kecamatan Bangsal: Desa Kedunguneng (2 titik), Desa Randugenengan, Kecamatan Dlanggu: Desa Sumberkarang, Desa Randugenengan, Desa Segunung Kecamatan Pungging: Desa Kembangringgit, Desa Sekargadung Kecamatan Mojosari: Desa Kedunggempol Kecamatan Gedeg: Desa Pagerejo, Kecamatan Puri: Desa Katemasdungus. dwi
Editor : Redaksi