Stok Mulai Menipis, Harga Cabai Rawit di Kota Batu Tembus Rp60 Ribu per Kg saat Kemarau

surabayapagi.com
Harga cabai rawit di tingkatan petani saat ini sudah tembus sekitar Rp60 per kilogram imbas dari kemarau panjang. SP/BTU

SURABAYAPAGI.com, Batu - Dipicu oleh makin terbatasnya pasokan dari tingkat produsen, mengakibatkan harga komoditas cabai rawit di tingkat petani kawasan Kota Batu kembali meroket. Bahkan, saat ini komoditas holtikultura yang identik dengan sensasi pedas tersebut telah menyentuh angka Rp60 ribu per kilogram (kg), memasuki puncak kemarau panjang.

Meski demikian, bagi kalangan petani yang masih mengolah lahan produktif, fluktuasi harga ini menjadi berkah tersendiri. Banderol di kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram dinilai cukup menguntungkan, terutama bagi tanaman yang tengah memasuki masa panen raya.

Baca juga: Terdampak Kekeringan, Pemkab Kediri Salurkan 15.000 Liter Air Bersih ke Desa Surat

Sutiani, seorang petani cabai di wilayah Lesti, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, menjadi salah satu petani yang mengecap manisnya lonjakan harga tersebut. Menurutnya, patokan harga di atas Rp50 ribu per kilogram amat membantu petani mengover biaya operasional produksi, mulai dari pemeliharaan tanaman, pembelian pupuk dan pestisida, hingga upah tenaga kerja pemetik saat panen.

Baca juga: Terdampak Kekeringan, Trenggalek Distribusikan 2,5 Juta Liter Air ke 52 Desa

“Apabila harganya di atas Rp50 ribu per kilogram, tentu sangat menguntungkan. Hasilnya mampu menutup operasional perawatan sekaligus membayar upah buruh pemetik yang membantu saat panen,” tutur Sutiani, Selasa (06/10/2026).

Meski demikian, melambungnya harga tidak lantas mencerminkan kondisi finansial seluruh petani sedang membaik. Pasalnya, tidak semua petani memiliki areal tanaman yang siap panen. Sebagian besar lahan warga belum dapat ditanami kembali akibat krisis pasokan air. “Jika pasokan terus terhambat, kemungkinan harga masih berpeluang melonjak. Saat ini saja pasokan dari petani lokal maupun kiriman luar kota sudah mulai langka,” imbuh Sutiani.

Baca juga: Krisis Kekeringan, Ponorogo Tambah Pasokan Air Bersih ke Daerah Terdampak

Disatu sisi, di tingkat konsumen akhir, kenaikan harga ini menjadi beban tersendiri. Cabai rawit merupakan salah satu komoditas bahan pangan pokok yang pergerakan harganya sangat sensitif terhadap gejolak pasokan (supply shock). bt-01/dsy

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru