Tuban Memulai dari Rumah: Gerakan Pemilahan Sampah di RT 8 RW 4 Kelurahan Latsari

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Warga bersama-sama memulai langkah kecil yang berdampak besar dengan melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga.
Warga bersama-sama memulai langkah kecil yang berdampak besar dengan melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga.

i

SURABAYA PAGI, Tuban – Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan kini mulai bertumbuh di berbagai sudut Indonesia. Semangat perubahan itu terlihat jelas di RT 8 RW 4, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban, di mana warga bersama-sama memulai langkah kecil yang berdampak besar dengan melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga.

Kawasan ini dipilih lokasi percontohan (pilot project) dari Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) melalui tim Penguatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM), yang bertugas mengkampanyekan agar masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.
Langkah ini sejalan dengan arahan sistem pengelolaan sampah nasional, yang menekankan pentingnya perubahan perilaku sejak dari tingkat rumah tangga.

Warga RT 8 RW 4 Latsari termasuk lingkungan yang berhasil membuktikan bahwa membangun budaya dalam pengelolaan sampah bukanlah sesuatu yang mustahil. Disini warga mampu menerapkan pemilahan sampah dengan disiplin, menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari.

Program ISWMP hadir di Kabupaten Tuban, tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membenahi sistem layanan dari hulu hingga hilir. Implementasi ISWMP fokus pada lima pilar utama:

- Penyusunan dan penetapan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS) serta penguatan regulasi lewat Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah.

- ​Peningkatan peran aktif masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah.

- Penguatan kelembagaan pengelolaan sampah agar lebih efektif.

- Pengembangan mekanisme pendanaan dan sistem penarikan retribusi pengelolaan sampah.

- ​Dukungan pendanaan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berteknologi tinggi.

Dari Sosialisasi ke Aksi

Keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada perubahan perilaku dan keterlibatan aktif masyarakat. Karena itu, ISWMP tidak hanya menekankan aspek teknis dan kelembagaan, tetapi juga mendorong transformasi sosial melalui edukasi dan aksi nyata di tingkat akar rumput.

Program ini diawali dengan serangkaian sosialisasi sejak bulan Desember 2024, yang melibatkan berbagai instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta mendapat dukungan penuh dari Kelurahan Latsari dan Kecamatan Tuban. Edukasi dilakukan secara langsung kepada warga, dengan fokus pada pentingnya memilah sampah dari sumber serta cara praktis penerapannya di rumah.

Melalui kerjasama kolaboratif antar stakeholder, warga di RT 08 RW 04 Kelurahan Latsari menerima fasilitas pendukung berupa tempat sampah terpilah, komposter, timbangan, hingga leaflet edukasi. Petugas dan kader lingkungan juga turut mendampingi warga dalam proses pemilahan, penimbangan, hingga pencatatan sampah setiap hari, untuk memastikan kebiasaan baru ini berjalan secara konsisten.

Metode pemilahan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: sampah organik (sisa makanan, daun, ranting), sampah anorganik (plastik, kertas, logam), dan sampah B3 (baterai, lampu, botol spray). Pemilahan yang telah dilakukan di rumah, selanjutnya diambil oleh petugas sesuai jadwal yang telah disepakati.

Seperti diberitakan Jawa Pos (2 Maret 2024), ISWMP memang menjadi program berskala nasional dalam meningkatkan kinerja pengelolaan sampah dengan berbagai kondisi perkotaan yang berbeda di Indonesia.

“Kami berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang, melibatkan lebih banyak komunitas guna menumbuhkan kepedulian masalah sampah,” ungkap Edi Sunarto, Sekretaris DLHP Tuban.

Hasil Nyata Upaya Masyarakat

Seluruh warga yang terdiri dari 37 kepala keluarga di RT 8 RW 4 Kelurahan Latsari telah aktif berpartisipasi dalam kegiatan pemilahan sampah dari rumah masing-masing. Upaya ini menghasilkan capaian yang cukup signifikan, di mana sebanyak 1.288 kg sampah terpilah berhasil dikumpulkan, terdiri dari 799 kg sampah organik dan 489 kg sampah anorganik.

Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa dengan komitmen para stakeholder dalam mendukung dan mendampingi masyarakat, mampu mendorong munculnya kebiasaan sehari-hari yang menjadi langkah konkrit untuk meningkatkan kebersihan lingkungan.

Sampah organik kering kemudian dimanfaatkan oleh Bank Sampah Permata Sejahtera untuk diolah menjadi kompos. Sementara itu, sisa makanan basah diangkut ke TPS Gang PDI oleh petugas untuk pengelolaan lebih lanjut. Di sisi lain, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi disetorkan ke bank sampah, untuk kemudian didaur ulang oleh offtaker lokal.

Perubahan perilaku warga terlihat nyata. Mereka tidak hanya ikut serta dalam program ini, tetapi juga mulai memahami secara langsung manfaat ekonomi dan lingkungan dari pengelolaan sampah yang baik. Sebagai bentuk apresiasi sekaligus pengingat visual atas komitmen mereka, rumah-rumah yang telah konsisten memilah sampah diberikan stiker khusus. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi pemicu semangat bagi warga lain di sekitar Tuban untuk melakukan hal serupa.

Kisah di Balik Gerakan

Hery Kurniawan, Ketua RT 8, menjadi motor penggerak perubahan perilaku warganya. Memiliki latar belakang di bidang manajemen lingkungan dan pengalaman panjang bekerja di PT Semen Indonesia, Hery memahami betul tantangan sekaligus peluang dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Pengalamannya berinteraksi dengan berbagai komunitas lokal membentuk visi bahwa masalah sampah bukan hanya urusan teknis, tetapi persoalan edukasi dan budaya. Ia pun menerapkan pendekatan ekopedagogi—metode pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan lingkungan dengan praktik nyata—untuk memberdayakan warga di lingkungannya.

Di bawah kepemimpinannya, rapat bulanan RT bukan lagi sekadar forum administrasi, melainkan ruang belajar dan diskusi bersama. Hery rutin melakukan edukasi dari rumah ke rumah, membimbing warga memilah sampah, mengolah limbah organik menjadi kompos, dan memanfaatkan lahan sempit untuk menanam sayuran. Ia juga menggagas pembangunan fasilitas komunal seperti kolam ikan yang memanfaatkan air sisa rumah tangga, serta komposter skala RT untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk bagi kebun warga.

Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan penuh masyarakat. Warga mau membuka diri, belajar, dan ikut terlibat dalam setiap kegiatan—mulai dari pemilahan sampah, menjaga kebersihan lingkungan, hingga berbagi ide untuk pengembangan program. Sinergi antara pemimpin yang sadar akan pentingnya lingkungan dan masyarakat yang mau berkolaborasi menjadi bukti bahwa sistem pengelolaan sampah yang baik dan benar bisa diwujudkan tanpa harus menunggu program besar dari luar.

Harapannya, model seperti ini tidak berhenti di satu RT atau satu kelurahan saja. Jika diterapkan di tingkat yang lebih luas—bahkan hingga skala kota—dengan dukungan kebijakan dan fasilitas yang memadai, pola pengelolaan berbasis kolaborasi ini berpotensi menciptakan sistem persampahan yang lebih baik, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi lingkungan maupun kesejahteraan warga.

Tantangan dan Upaya Perbaikan
Sejumlah tantangan tetap ditemui di lapangan, antara lain karena sebagian warga pada awalnya masih belum terbiasa dengan kebiasaan memilah sampah dari rumah. Di sisi lain, ketersediaan infrastruktur daur ulang di wilayah tersebut juga masih terbatas, sehingga diperlukan strategi tambahan untuk memastikan sampah yang telah dipilah dapat dikelola secara optimal.

Namun, dengan keterlibatan aktif pengurus RT/RW, edukasi berulang, dan contoh nyata dari para kader lingkungan, turut membantu membangun kesadaran warga sehingga pemilahan sampah perlahan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Sebagai tindak lanjut, sejumlah langkah strategis telah dirancang untuk memperkuat dan memperluas dampak program ini. Di antaranya adalah replikasi kegiatan ke RT atau kelurahan lain, penguatan peran bank sampah, pengembangan fasilitas daur ulang yang lebih memadai, serta advokasi untuk mendorong lahirnya regulasi pemilahan sampah di tingkat kelurahan. Melalui langkah-langkah tersebut, diharapkan model pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini dapat terus berkembang dan memberi dampak jangka panjang bagi lingkungan.
Faktor-Faktor Kunci Keberhasilan

Keberhasilan proyek ini tentu tidak diraih dalam sekejap. Ada sejumlah faktor pendukung utama yang berperan penting dalam mendorong partisipasi warga dan memastikan program berjalan efektif, di antaranya:

- Dukungan pemerintah daerah dan lintas sektor, mulai dari dinas terkait, kelurahan, hingga RT/RW.

- Kepemimpinan yang kuat di tingkat lokal,pemimpin yang hadir dan berjuang konsisten dapat menggerakkan warga dan menjadi teladan.

- Fasilitas memadai, seperti tempat sampah terpilah, komposter, timbangan, mesin pencacah, dropbox, hingga ruang gudang bank sampah.

- Metode edukasi yang aplikatif, dengan pendekatan langsung dan pembinaan rutin.

- Pengelolaan berkelanjutan, melalui sistem pencatatan harian, monitoring, dan tindak lanjut door-to-door bagi rumah yang belum memilah.

Menuju Lingkungan Berkelanjutan
Kisah di RT 8 RW 4 menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar dapat dimulai dari unit sosial terkecil. Niat kolektif, dukungan fasilitas, serta pendampingan yang konsisten, dapat mendorong terjadinya kebiasaan baru dalam mengelola sampah dan memberi dampak positif.

Sehingga tidak salah jika dikatakan: Lebih dari sekadar mengurangi timbunan sampah, gerakan ini juga menumbuhkan kesadaran baru: bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari gaya hidup sehat dan tanggung jawab sosial setiap warga.

Plt. Kepala Satker Pelaksanaan Cipta Karya Wilayah 2 BPBPK Jawa Timur, Cahyani Ainin Azizah menjelaskan kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran aktif masyarakat. Program ini menekankan pada edukasi, sosialisasi, dan praktik nyata pengelolaan sampah.

“Dengan keterlibatan semua elemen, kita harap Tuban dapat menjadi contoh dalam penerapan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan,”ucapnya.tbn

Berita Terbaru

Berpotensi Roboh dan Dibakar, DLH Ponorogo Pangkas Sejumlah Pohon Terindikasi Mati

Berpotensi Roboh dan Dibakar, DLH Ponorogo Pangkas Sejumlah Pohon Terindikasi Mati

Rabu, 09 Sep 2026 11:10 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 11:10 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Sebagai upaya mengantisipasi pohon tumbang maupun ranting lapuk yang berpotensi roboh dan membahayakan pengguna jalan, Dinas…

Peternak Keluhkan Harga Kambing di Ponorogo Anjlok hingga Rp600 Ribu per Ekor

Peternak Keluhkan Harga Kambing di Ponorogo Anjlok hingga Rp600 Ribu per Ekor

Rabu, 09 Sep 2026 10:57 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 10:57 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah peternak kambing di Kabupaten Ponorogo mengeluhkan jatuhnya harga kambing. Sehingga,…

Dinkes P2KB Tuban Gencar Latih Tenaga Medis Deteksi Kelainan Bayi Sejak Dini

Dinkes P2KB Tuban Gencar Latih Tenaga Medis Deteksi Kelainan Bayi Sejak Dini

Rabu, 09 Sep 2026 10:33 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 10:33 WIB

SURABAYAPAGI.com, Tuban - Melalui pelatihan langsung atau On The Job Training (OJT) bagi tenaga medis di enam rumah sakit se-Kabupaten Tuban, Dinas Kesehatan,…

November Akan Ada Motorcycle Show (IMOS) 2026

November Akan Ada Motorcycle Show (IMOS) 2026

Rabu, 09 Sep 2026 08:02 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 08:02 WIB

SURABAYAPAGI.com - Pameran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2026 akan kembali digelar di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang. Rencananya IMOS 2026 bakal…

Setahun, Purbaya Klaim Uji Berbagai Teori Ekonomi

Setahun, Purbaya Klaim Uji Berbagai Teori Ekonomi

Rabu, 09 Sep 2026 08:01 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 08:01 WIB

SURABAYAPAGI.com - Purbaya Yudhi Sadewa genap setahun menjabat sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto. Ia pun membeberkan…

Elon Musk, Beradu Narasi dengan Chess.com

Elon Musk, Beradu Narasi dengan Chess.com

Rabu, 09 Sep 2026 07:58 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 07:58 WIB

SURABAYAPAGI.com - Elon Musk kembali beradu argumen dengan Chess.com, situs yang pernah membuat tulisan ‘Mengapa Elon Musk tidak, dan tidak bisa, bermain c…