SURABAYAPAGI.com, Malang - Melihat fenomena kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengancam kantong para wisatawan. Pasalnya, adanya penutupan akses pintu masuk Jemplang, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang berlangsung jangka waktu lama dapat memicu kenaikan tarif jib.
Adanya kenaikan harga tersebut dipicu oleh membengkaknya biaya operasional dan jarak tempuh. Seluruh rombongan wisata dari arah Malang maupun Lumajang terpaksa memutar jauh melewati pintu masuk di wilayah Kabupaten Probolinggo atau Pasuruan. Namun, hingga saat ini patokan tarif trip sebenarnya masih berada di angka normal.
Meski demikian, para pelaku usaha kini mulai mengkalkulasi ulang biaya operasional jika akses Jemplang tidak kunjung dibuka. Sedangkan untuk rute memutar otomatis menambah konsumsi bahan bakar dan jarak tempuh kendaraan. Jika penutupan berlarut-larut, penyesuaian dari tarif normal sebesar Rp 1,5 juta per trip untuk kapasitas lima orang tidak bisa dihindari.
"Sekarang belum ada kenaikan tarif trip. Tapi jika penutupan akses Jemplang berlangsung lama, memungkinkan tarif transport naik sekitar 10 hingga 20 persen. Dan karena harus muter, mau nggak mau ketika berangsur lama akan ada kenaikan tarif dari harga awal Rp 1,5 juta per trip untuk kapasitas lima orang," jelas Muhammad Nizar Aditya, pemilik jasa penyewaan jip wisata Bromo, Kamis (06/08/2026).
Lebih lanjut, Nizar mengaku dampak penutupan jalur ini belum memicu gelombang pembatalan dari para calon wisatawan. Sebagian besar pengunjung memilih untuk memaklumi situasi darurat tersebut dan sepakat mengalihkan rute perjalanan. Dan saat ini juga terus berkoordinasi dengan para pelanggan yang sudah melakukan pemesanan jauh hari untuk mengatur ulang jadwal dan rute.
Ia memperkirakan dampak ekonomi secara menyeluruh baru akan terlihat jelas dalam sepekan ke depan jika jalur utama Malang tak kunjung dibuka kembali. Hingga saat ini, petugas gabungan masih berjibaku di lapangan untuk mengendalikan kobaran api agar tidak semakin meluas ke area savana dan vegetasi lainnya. "Untuk sementara ini belum terlihat dampaknya secara masif. Mungkin akan terlihat satu minggu ke depan," ujarnya. ml-01/dsy
Editor : Redaksi