SURABAYAPAGI.com, Jombang - Di sela-sela musim kemarau panjang, ternyata tidak menjadi penghalang sejumlah petani untuk panen dengan cuan melimpah. Salah satunya, petani di Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang untuk menanam labu kuning mampu menghasilkan 15 ton di lahan seluas 2 hektare.
Keuntungan tersebut lantaran tanaman hortikultura ini menjadi komoditas alternatif yang menjanjikan di sela-sela musim kemarau sambil menunggu musim hujan turun, karena perawatannya mudah dan menghasilkan keuntungan lumayan. Namun, juga memerlukan perawatan khusus.
Untuk penyiraman rutin dilakukan pada pagi atau sore hari agar tanaman tidak stres kekeringan. Pemupukan susulan juga diberikan secara berkala sesuai fase pertumbuhan untuk menjaga produktivitas buah. Selain itu, penyemprotan spray buah secara rutin dilakukan untuk mendapatkan hasil maksimal.
"Cuaca panas ekstrem ini justru cocok untuk menanam labu kuning. Saya menanam di 2 hektare dengan biaya sekitar Rp 20 juta, mulai dari bibit, olahan lahan, hingga panen. Kami juga menggunakan sistem rambatan para-para atau membiarkan tanaman menjalar di tanah kering yang bersih dari gulma. Ini menghemat ruang dan menjaga kebersihan buah serta menggunakan spray buah agar terhindar dari hama" ujar Hadi Sucipto, Kepala Desa Jipurapah, Rabu (28/10/2026).
Sementara itu, untuk kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan air karena musim kemarau. Hama yang biasanya menyerang tanaman labu kuning adalah hama kresek. Namun, tahun ini hampir tidak ada serangan berarti berkat rutinnya penyemprotan obat buah. Hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Harga labu kuning tahun ini tergolong bagus dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sekarang harga per kilogramnya Rp 4.000, tahun sebelumnya hanya Rp 2.500. Dengan harga Rp 4.000, petani sudah untung. Dengan perawatan yang tepat, labu kuning bisa menjadi komoditas andalan petani di musim kemarau. Ini menjadi jeda yang menguntungkan di antara musim tanam padi," pungkas Hadi. jb-01/dsy
Editor : Redaksi