SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan, bulan Oktober 2017 nanti, pihaknya akan mengundang stakeholder di Surabaya mulai praktisi, pengusaha dan akademisi untuk membahas tentang trem Surabaya.
Pemerintah Kota Surabaya mulai menyusun sejumlah skenario rencana untuk realisasi trem Surabaya. Meski sudah ada rencana untuk pembiayaan dengan APBD, namun Pemkot juga mulai berpikir untuk percepatan dengan melibatkan investor agar bisa membantu realisasi angkutan massal cepat ini.
"Kita akan mengundang stakeholder di Surabaya untuk membahas lagi tentang trem ini. Semacam workshop yang membahas tentang trem," ucap Agus, yang ditemui gedung DPRD Kota Surabaya.
Ia menyebutkan, para ahli akan diminta pendapat termasuk akademisi untuk digali pandangannya tentang trem di Surabaya. Menurutnya kegiatan semacam ini sudah pernah dilakukan di tahun 2013.
Sebelum ada wacana bahwa trem Surabaya akan didanai oleh pemerintah pusat melalui APBN. Sedangkan sampai saat ini kemungkinan untuk pendanaan dari pusat semakin tidak jelas. Bahkan tender yang dijanjikan akan dilakukan September juga hingga kini tak jelas kabarnya.
"Intinya kita tidak bisa hanya mengandalkan satu perencanaan saja. Ya kita harus siap plan B lah, bahkan kalau diperlukan adalah plan C, D dan seterusnya," ucap Agus.
Sebab kalaupun dengan menggunakan APBD, dengan anggaran sekitar Rp 3 triliun maka berapa kekuatan yang bisa diandalkan. Bahkan untuk pendanaan proyek secara multiyears pun ada batasannya. Dimana multiyears hanya bisa dilakukan hanya di periode kepemimpinan kepala daerah. Di luar itu maka tidak bisa.
"Angka itu adalah hasil kajian atau hitungan tahun 2015, takutnya dengan inflasi dua tahun berselang tentu lebih mahal. Nah kalau begitu per tahun kita anggarkan berapa di APBD, masak Rp 1 triliun per tahun, kuat kah?" imbuh Agus.
Salah satu yang juga dipikirkan adalah menggaet investor melalui sistem built operation and transfer. Toh saat ini alignment sudah ada dan detail engineering and design dari trem juga sudah siap. Kalaupun nanti ada investor masuk, maka mereka harus banyak menerima perencanaan yang sudah ada. Tidak bisa jika perencanaan berubah hanya karena permintaan investor.
"Misalnya tiba-tiba investor meminta untuk pembangunan tremnya elevated dengan harga Rp 30 ribu sekali naik, kan ya tidak bisa," ucap Agus.
Sebab dari skema perencanaan Pemkot, trem akan dibuat sebagai angkutan massal yang murah. Dengan tarif di bawah Rp 10 ribu, bahkan kalau bisa hanya Rp 6 ribu sekali naik. Sehingga bisa meningkatkan minat warga untuk alih moda ke angkutan massal. yn/sry
Editor : Redaksi