Meski Rektor Ajak Tabayyun, tapi Gerakan Menolak G

UNAIR TERBELAH

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Gerakan menolak penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (Dr. DC) kepada Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, terus berlanjut. Meski Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof M. Nasih mengajak tabayyun atau damai dengan dosen-dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), tidak demikian dengan sikap mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unair menilai politisi yang akrab disapa Cak Imin itu tidak layak menerima gelar doktor kehormatan itu. Karena itu, mereka menuntut Rektor Unair agar menjelaskan sedetail-detailnya pemberian gelar tersebut. Laporan : Firman Rachman – Alqomar, Editor : Ali Mahfud Presiden BEM Unair Anang Fajrul menegaskan hingga detik ini BEM Unair masih bersikap menolak penganugerahan gelar Dr. DH kepada Muhaimin Iskandar. Menurut Anang, penolakan tersebut salah satunya terkait dengan bidang multikultural sebagai dasar penganugerahan gelar tersebut. “Jika menelisik siapa tokoh yang biasanya lekat dengan predikat bapak multikulturalisme, maka kita segera merujuk pada sosok almarhum Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, red). Muhaimin tidak bisa disamakan dengan Gus Dur,” ungkap Anang kepada Surabaya Pagi, Jumat Ia menjelaskan dalam dimensi pemikiran-pemikiran Gus Dur bisa dilihat dari pemaknaan keberagaman yang ditulis di banyak buku. Sebut saja “Tuhan Tidak Perlu Dibela” (1982), “The Wisdom of Tolerance: A Philosophy of Generosity and Peace” (2015) yang ditulis bersama Daisaku Ikeda, dan “Ilusi Negara Islam” (2009). “Gus Dur terbukti dalam aksinya membela kaum-kaum minoritas dalam kapasitasnya sebagai ulama intelektual dari kalangan NU,” ujar Anang. Sedang Cak Imin, menurut Anang, sangkat jauh dari kata multikulturasime. Meskipun, dalam beberapa kampanye politik Cak Imin, seringkali mengklaim meneruskan perjuangan Gus Dur pada sisi multikulturan. Namun fakta konflik antara Cak Imin dan Gus Dur juga tidak bisa diabaikan. Kita bisa melihat bagaimana konflik antara Cak Imin dan Gus Dur semasa hidup patut untuk diperhatikan. Selain dalam persoalan aksi nyata, sampai hari ini dalam hal gagasan, saya belum menemukan bagaimana pemikiran orisinilitas Cak Imin terkait multikultural. Meskipun, Cak Imin pernah menerbitkan buku,” tandasnya. Buku yang dimaksudkan Anang berjudul “Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur”. Menurut Anang, buku itu hanya refleksi dari pemikiran-pemikiran besar Gus Dur, bukan karya orisinil Cak Imin. “Ringkasnya, baik dari segi pemikiran dan tindakan, saya belum menemukan eksplanasi mengapa Muhaimin Iskandar dianggap Universitas Airlangga patut untuk menerima gelar kehormatan dalam bidang multikultural,” terang dia. Terkait penolakan tersebut, Anang mengatakan saat ini dirinya bersama pihak BEM Unair menunggu klarifikasi dari pihak Rektorat. “Dengan berbagai alasan tersebut, kami meminta penjelasan bagaimana kajian yang telah dilakukan oleh Universitas Airlangga sehingga menganggap Muhaimin patut untuk diberikan gelar kehormatan tersebut. Sebelum dapat memberikan klarifikasi yang jelas kami akan tetap menolak gelar tersebut bagi Cak Imin,” tegas Anang. Sebelumnya, Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Suko Widodo mengatakan penolakan yang dilakukan beberapa elemen civitas akademika FISIP menjadi perhatian khusus pihak Rektorat. “Kan ini ada beberapa dosen tidak sreg. Tentunya ini menjadi masukan bagi kita. Saat ini komunikasi intensif telah menjadi konsentrasi utama. Tabayyun akan kita lakukan,” kata Suko. Guru Besar Pro dan Kontra Sementara itu, Sementara itu, Prof. Dr. Mustain Mashud, M.Si selaku promotor pada gelar Dr HC Cak Imin menyatakan segala macam proses resmi telah dilakukan sebelum penganugerahan tersebut final. Menurutnya, juga tidak ada satu aturan pun yang dilanggar. “Forum untuk masyarakat sudah digelar. Selain itu, forum untuk internal dosen dan senat juga sudah. Kalaupun ada penolakan, itu adalah dinamika yang wajar di dalam Universitas,” ujar Mustain. Ia juga menepis tudingan yang beredar bahwa pihak Rektorat Unair ditekan seorang menteri yang masih keluarga dekat Cak Imin yang membidangi pendidikan tinggi. Kata Mustain, pemberian gelar Dr. DC itu atas usulan dari Unair. "Awalnya antara bulan Juni hingga Juli ada kontak dengan Cak Imin. Dan yang diminta untuk menjadi Promotor adalah Prof Kacung Marijan. Karena terkendala sakit, akhirnya saya diminta oleh rektor untuk mendampingi dalam mendiskusikan tentang beberapa materi dan persiapan lainnya," terang Mustain. Namun Guru Besar Unair lainnya, Prof Dr Hotman Siahaan punya pandangan berbeda. Menurut dia, Mustain tidak boleh mengatakan bersedia menjadi promotor karena mendapat mandat dari Rektor Unair untuk menggantikan Profesor Kacung Marijan yang sedang sakit. Mustain bisa menolak menjadi promotor jika memang dirasa Cak Imin belum layak menyandang gelar Dr. HC. “Kalau sudah mau menjadi promotor, dia harus tanggungjawab. Meyakinkan semua pihak bahwa Pak Muhaimin memang layak menyandang gelar Doktor HC. Atau sebaliknya, menyimpulkan yang dipromotori belum layak atau naskah akademiknya butuh perbaikan,” tandas Hotman. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, membantah adanya jual beli dalam pemberian gelar Dr. HC terhadap Cak Imin. Kemenristekdikti, lanjutnya, memberikan hak prerogatif kepada perguruan tinggi untuk menentukan siapa tokoh yang akan diusulkan untuk mendapat anugerah doktor HC. Kemudian nama si calon doktor diusulkan ke Kemenristekdikti untuk ditelaah lagi. Setelah clear, baru keluar surat penetapan Menristekdikti. “Jadi enggak ada itu obral doktor HC,” ujar Nasir. Henry Subiakto, Guru Besar Unair lainnya mengingatkan agar semua pihak untuk menahan diri agar tidak merasa paling benar. “Ingat, tidak ada yang perfect di dunia ini. Kalau saling mencoba mencari kesalahan, maka pasti ada kesalahan dari masing-masing pihak,” ujar dia. Pria yang juga merupakan staf ahli Menkominfo tersebut juga mewanti-wanti agar polemik ini jangan sampai terpolitisasi. “Misalkan sampai ada opini bahwa ada yang melakukan pelacuran akademik. Saya yakin ini tidak ada,” tandasnya Sikap Gusdurian Forum Pecinta Gus Dur (FPGD) juga melayangkan protes keras atas penganugerahan gelar doctor honoris causa yang diberikan Muhaimin Iskandar. “Kami sangat menyayangkan dan mengecam keras pada pihak Unair yang notabene sebagai kampus ternama di negeri ini yang telah memberi anugerah doctor honoris causa kepada saudara Muhaimin Iskandar,” tegas Ketua FPGD, Ahmad Arizal. Menurut Ahmad yang juga aktivis muda NU Jatim tersebut bahwa tampilnya Muhaimin ke pentas politik dilakukan dengan cara yang tidak elok. “Masih segar dalam ingatan kita bahwa keberhasilan Muhaimin Iskandar dalam bidang politik dilakukan dengan cara menghianati dan menzalimi seorang ulama besar, mantan Ketua Umum PBNU mantan presiden RI ke-4 tokoh pluralis dan duru bangsa yakni KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),” ungkapnya. Oleh sebab itu, ia minta agar Unair mencabut dan membatalkan gelar doctor HC kepada Muhaimin. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru