SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Nasib petani tambak di Kabupaten Gresik kian tahun kian tak menentu. Banyak di antara mereka yang beralih pekerjaan menjadi buruh kasar, dan meninggalkan ladang tambaknya.
"Para petani ini dalam kondisi yang memprihatinkan dan jauh dari sejahtera," ujar senator RI Ahmad Nawardi, seusai kunjungannya di desa Tebaloan, Kecamatan Duduk Sampean Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Selasa, (24/10/2017).
Nawardi mengurai hingga tahun 2000 an, petani tambak di desa itu masih hidup sejahtera. Dalam sekali panen ladang seukuran satu ha, mampu menghasilkan ikan hingga satu ton. Namun bahtera mulai muncul setelah tahun itu, sejumlah pabrik bermunculan di antaranya pabrik pupuk dan anak perusahaan yang diduga limbah dan polusinya mengganggu roda penghasilan panen Ikan.
Limbah sejumlah pabrik itu mengalir di sungai Kemireng yang menjadi tumpuan petani tambak di Kecamatan Duduk Sampean untuk mengisi lahannya. "Akibatnya Ikan yang dihasilkan terus menyusut. Jika dulu lahan satu ha mampu menghasilkan satu ton, kini hanya dua kwintal saja," sambung senator yang juga ketua DPP HKTI Jatim itu.
Anggota Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Gresik Abdul Chalik yang turut mendampingi menambahkan persoalan ini telah berulangkali di utarakan, namun hingga saat ini masih belum menemukan solusinya. Malah lanjut dia, sejumlah lahan milik petani tambak itu telah di jual pada pengembang. "Jika 15 tahun yang lalu, tambak di sisi utara sungai Kemireng itu masuk great A, dan harganya mahal. Kini masuk great C. Harganya murah lantaran hasilnya sedikit," sambung lelaki yang juga dosen pasca sarjana di UINSA Sunan Ampel Surabaya itu.
Akibatnya, hasil pertanian yang tidak sesuai dengan modal tanamnya itupun membuat para petani frustasi. Mereka secara perlahan beralih pekerjaan menjadi buruh kasar. "Ini tak bisa dibiarkan, kita berharap DPD akan terus melakukan advokasi hingga para petani bisa kembali sejahtera,"tandasnya. arf
Editor : Redaksi