SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Di tengah gempuran modernitas, Sederet toko barang antik di Jalan Padmosusastro, Surabaya, masih bertahan, meski sempat terdampak kebakaran hingga aktivitas jual beli barang lawas tidak seramai dulu. Namun meski demikian, toko barang antik tersebut masih tetap bertahan.
Tampak di atas meja kaca, berjajar perangkat minum teh dari porselen putih bersih dengan aksen teal pada tutup tekonya, dikelilingi oleh guci-guci dan keramik berwarna krem dengan lukisan tangan motif bunga mawar biru dan oranye. Nuansa mekanik masa lalu juga terpampang nyata lewat deretan kamera saku analog merek Fujifilm mulai dari seri Cometa hingga ZO, dengan warna hitam dan krem yang dulu kerap diburu.
Lebih lanjut, menurut Aldy, salah satu pengelola toko yang telah sepuluh tahun berkecimpung di dunia ini, mengungkapkan jika bisnis tersebut merupakan perpaduan antara warisan keluarga dan kegemaran pribadi. Sedangkan untuk koleksinya mencakup segala lini, termasuk mortir kecil dari kuningan yang mengkilap hingga bola dunia (globe) yang terperangkap dalam balok resin bening. Menurutnya, tidak ada satu jenis barang pun yang mendominasi etalasenya.
"Ini usaha turun-temurun, tapi dibilang hobi juga iya. Kalau jualan barang antik tidak ada yang dominan ya, soalnya tergantung konsumennya saja," ujarnya, Minggu (19/04/2026).
Untuk mendapatkan barang, Aldy mengaku aktif berburu ke berbagai daerah, baik melalui jaringan maupun informasi yang diperoleh. Sedangkan untuk harga barang yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp30 juta, tergantung jenis dan keunikan barang. Meski tetap bertahan, Aldy mengakui minat pembeli terhadap barang antik saat ini mengalami penurunan. Kendati demikian, tokonya tetap menjadi jujukan bagi konsumen yang tidak menentu, mulai dari kolektor kelas berat hingga anak muda yang mencari nilai estetika untuk mempercantik hunian. sb-04/dsy
Editor : Redaksi