Batik merupakan salah satu peninggalan budaya lelu

Jadikan Batik Masa Depan

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.COM -Batik merupakan salah satu peninggalan budaya leluhur bangsa Indonesia yang luar biasa. Anggun, elegan, glamour dan mistis. Di penghujung Oktober yang dikukuhkan sebagai bulan Batik. Ada sedikit tulisan tentang batik. Batik menjadi budaya masa lalu dan masa depan. Pada jaman dahulu para pembuat batik (menurut saya belum disebut perajin batik) dilakukan oleh sebagian perempuan besar di suatu daerah karena momen tertentu. Misalnya saat anak mereka akan menikah, melahirkan, panen dan sebagainya. Seolah-olah batik merupakan wujud doa dan pengharapan bagi pembuatnya. Oleh karenanya ada motif sido luhur, sido mukti dan sebagainya saat ada pengantin. Bahkan ada beberapa pembuat batik yang melakukan sejenis ritual saat akan mulai membatik, agar didapatkan hasil yang sempurna dan tercapai apa yang diharapkan. Jadi batik bukanlah hanya sekedar seni yang biasa. Memiliki makna yang dalam bagi pembuat dan pemakainya. Itulah sebabnya batik jaman dahulu hanya dibuat dan dikenakan oleh kalangan tertentu terutama bangsawan dan raja-raja. Motif-motifnya pun demikian. Dalam perkembangannya saat ini batik salah satu penggerak perekonomian di suatu daerah. Batik tidak lagi dikerjakan secara monumental tapi dikerjakan sebagai pekerjaan menjadikan sebagai mata pencarian. Maka muncul banyak perajin di banyak daerah. Hal ini tentu sangat bagus mencegah batik dari kepunahan. Apalagi dengan pengajuan Indonesia kepada UNESCO agar menjadikan batik sebagai seni budaya asli Indonesia. Pengajuan ini diterima dengan syarat Iindonesia dapat menjaga kelestarian batik (batik tulis). Untuk melengkapi catatan ini saya menemui salah satu pemerhati batik dan juga desainer kondang Embran Nawawi. Saya menanyakan pendapatnya tentang batik dan masa depannya. Embran mengatakan, "Saat saya mendeklarasikan "Batik Budaya Masa Depan" di hari batik tahun pertama 2009.... Sejak saat itu saya berfikir tentang batik yang akan dan harusnya disukai oleh nereka-mereka di masa depan nanti. Saat itu saya berfikir bahwa, seharusnya generasi muda yang menyukai batik sebagai item fashion nya." Pulau Jawa dari Barat hingga Timur memiliki pusat-pusat pengembangan batik yang ditandai saat ini dengan adanya sentra-sentra niaga batik. Di Jawa Timur, memiliki banyak daerah perajin batik, selain itu ada Pulau Madura yang juga memiliki pusat-pusat perajin batik. Salah satu pilihan Embran adalah batik Pamekasan untuk melestarikan batik. "Saya melirik batik Madura secara umum dan batik Pamekasan secara khusua. Kenapa? Karena dengan keberanian mereka dalam mengeksplor warna itulah yang membuat saya berfikir bahwa batik bisa masuk dalam tren fashion setiap tahun nya. Walaupun itu hanya dari warnanya saja. Karena salah satu tren yang selalu diikuti dalam fashion adalah warna. Dan Batik Pamekasan kaya akan warna yang modern." "Batik Pamekasan di mata saya adalah batik yang ekspresif. Kalo dilihat dari cara mereka menuangkan ide dalam motif seperti bicara secara terbuka. Percampuran warnanya tidak memakai rumusan komposisi warna secara umum. Dan peruntukannya bukan pada hal-hal yang luar biasa. Batik Pamekasan adalah ekspresi kebahagiaan." Sejarah motif batik Madura sedikit sekali yang budaya dari luar. Motif yang paling umum adalah motif bunga rempah, bunga rerumputan, serangga, dan unggas. Karena itu yang memang ada di depan mata mereka setiap hari. Selain itu motif yang mewakili kerajaan seperti burung merak dan motif yang merunut kepada kekuatan iman islam. Motif hitam putih tanpa bentuk khusus yang di tampilkan. Batik di pameksan bukan hanya karya seni, tetapi juga penunjang perekonomian keluarga, maka perkembangannya sangat pesat. Perkembangan dari motif-motif yang diminati pasar menjadi alasan meningkatnya kreatifitas seni batik disana. Selain itu warna batik yang memang sudah terkenal, berkembang dengan komposisi warna yang mulai baik sesuai kebutuhan pasar modern. "Tetapi... Karena kebutuhan batik saat ini tidak lagi dalam bentuk kain, tetapi pada bentuk aplikatif seperti fashion dan craft, maka terjadi penurunan. Persaingannya bukan kepada karya batiknya tetapi pada bentuk akhirnya seperti fashion teraebut. Persaingan terjadi dengan industri retail yang gencar. Dengan demikian, peminat batik mulai memilih pada kebutuhan mereka atas fashion tersebut, dan akhirnya industri batik secara umum tersendat." Pungkas Embran. Lebih singkatnya kita menunggu karya anak bangsa yang bida memosisikan batik dalam strata fashion yang tinggi dan mendunia. Yang berdampak tidak hanya melestarikan budaya tradisional namun juga pertumbuhan ekonomi. (Sp/jul)

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru