Waktunya Para Pemuda Berkontribusi

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober kemarin berlangsung sangat meriah di beberapa wilayah Indonesia. Apakah para pemuda di era saat ini sudah mampu memahami falsafah dari Sumpah Pemuda? Pengamat sejarah asal Unair Adrian Perkasa memandang saat ini terjadi beberapa perbedaan yang signifikan antara para pemuda di era Sumpah Pemuda dan di era saat ini. Salah satu perbedaan yang sangat kentara, menurutnya adalah pada sektor literasi. "Jika kita bandingkan para pemuda yang terlibat dalam Kongres Pemuda hingga mampu berikrar untuk berbangsa dan bertanah air satu serta menjunjung bahasa persatuan dengan pemuda jaman now adalah bagaimana kesenjangan literasi yang begitu mengemuka. Padahal belajar dari sejarah, kesadaran akan satu nusa bangsa dan bahasa bisa tercapai melalui literasi," kata Adrian kepada Surabaya Pagi, (29/10). Adrian menjelaskan, bukti kesenjangan literasi yang ada pada saat ini telah banyak ditunjukkan oleh riset-riset yang dilakukan. "Data yang terkumpul dari PISA (lembaga penilai pendidikan di dunia) menunjukkan tingkat literasi pemuda Indonesia hari ini jauh tertinggal dibandingkan negara lain," jelasnya. Sehingga, dengan kondisi demikian, menurut Adrian, momen peringatan Sumpah Pemuda bisa menjadi titik balik bagi para pemuda untuk menghayati hal tersebut secara substansi. Menurutnya, substansi dari Sumpah Pemuda adalah bagaimana para pemuda menemukan kontribusinya bagi bangsa dan negara. "Bisa dengan berkontribusi lebih baik, atau paling tidak sama seperti generasi pemuda 1928. Saya melihatnya pada kontribusi itulah substansi utamanya. Mungkin yang lain melihat keberagaman, tapi kalo kita baca baik-baik dokumen terkait kongres itu, maka kontribusi merekalah yang mengemuka," tegas Adrian. Bukan hanya dari sisi pemuda saja, nampaknya momen peringatan Sumpah Pemuda juga dapat menjadi refleksi bagi Pemerintah. Menurut Ketua Karang Taruna Jawa Timur Agus Maimun, Pemerintah seharusnya lebih memberikan apresiasi kepada terobosan-terobosan baru yang dilakukan oleh para pemuda. "Karena apa? Para pemuda ini pada dasarnya selalu ingin mendapatkan apresiasi atau pengakuan atas apa yang mereka lakukan. Pengakuan dan apresiasi tersebut, tidak harus selalu berupa materi. Itu yang paling utama," kata Agus Maimun, dimintai pendapatnya secara terpisah. Tidak jauh berbeda dengan Adrian, pria yang juga merupakan anggota DPRD Jawa Timur juga mengatakan hal yang sama terkait Sumpah Pemuda. Momen peringatan Sumpah Pemuda saat ini merupakan saat bagi para pemuda untuk kembali memantapkan sikap untuk berkontribusi pada negara. "Tentunya berbeda dengan Sumpah Pemuda di era 1928. Kalau dulu kan sekelompok pemuda berkumpul untuk kemerdekaan. Tentunya form spirit kontribusinya akan terus berbeda di setiap jamannya. Yang terpenting adalah bagaimana menciptakan kondisi yang jauh lebih baik," tegas Agus Maimun. Karang Taruna Jawa Timur, menurut Agus Maimun, telah melakukan beberapa langkah strategis dalam mendorong para pemuda. "Saya sendiri, beberapa hari ini berkeliling ke Madiun, Blitar, dan Malang. Disana saya bertemu dengan beberapa organisasi kepemudaan dan karang taruna untuk mendorong agar para pemuda berkontribusi membawa bangsa dan negara ke arah yang lebih baik," pungkasnya. ifw

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru