Siapa sangka di tengah gemerlap hiburan kafe dan karaoke bernuansa pantai sekitar jembatan Suramadu, ada sebuah tempat bersejarah yang tak terjamah. Mendengar namanya saja asing, apalagi tahu dalamnya. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Benteng Kedung Cowek atau Benteng Gudang Peluru. Apakah benteng ini memiliki cerita sejarah perjuangan Arek-arek Suroboyo?
--------
Laporan: Firman Rachman, Editor: Ali Mahfud
Siang kemarin (9/11), cuaca Surabaya panas. Terik matahari terasa begitu menyengat di ubun-ubun. Namun ketika memasuki bibir pantai, embusan angin laut menyegarkan tubuh, membuat sedikit rasa nyaman untuk berlama-lama di sekitar lokasi.
Dengan mengendarai sepeda motor matic, kami lantas menuju benteng yang terletak sekitar 200 meter dari pintu keluar jembatan Suramadu dari arah Madura menuju Surabaya. Menurut warga sekitar, dulu, jika ingin masuk ke area benteng, harus menggunakan ijin resmi. Baik dari instansi ataupun surat yang ditujukan kepada kepala penjagaan. Maklum, area itu sempat menjadi area terbatas yang dijaga oleh TNI Angkatan Darat.
Namun saat Surabaya Pagi berkunjung, penjagaan tersebut sudah tak diberlakukan. Siapapun bisa masuk ke area benteng tanpa harus dikawal ataupun berkirim surat.
Sebelum masuk, beberapa pesan warga sekitar cukup membuat dada berdebar. Mulai cerita dari segi banyaknya binatang liar berbahaya, hingga cerita mistis yang kerap didengungkan. Maklum, Benteng ini berusia hampir seratus tahun. Tak ada artikel pasti tentang asal usul Benteng ini.
Saat Surabaya Pagi masuk melalui jalan belakang, terlihat vegetasi tumbuhan berakar besar menjadi atap area tersebut. Tanaman mangrove pun juga terlihat cukup banyak. Perjalanan pun cukup dekat, dari pintu masuk belakang, hanya butuh waktu lima menit berjalan, kita sudah bisa melihat satu bangunan beton kokoh yang beberapa bagiannya cacat karena runtuh. Selebihnya masih ada ruang yang masih kokoh berdiri. Tumbuhan rambat pun menutup beberapa bagian benteng menambah kesan lusuhnya benteng itu.
Surabaya Pagi pun mencoba menyusuri jalan setapak yang masih terlihat, maklum warga sekitar sering lewat areal itu lantaran mereka memiliki tambak ikan di sekitar lokasi. Namun sekitar 400 meter berjalan, jalan setapak tersebut terlihat tertutup tanaman rambat.
Kondisinya, jangan ditanya. Sangat sunyi, lusuh dan terkesan menyeramkan. Belum lagi, tambahan cerita-cerita masyarakat sekitar yang kerap melihat sosok hantu maupun suara-suara yang muncul dari dalam bunker-bunker gudang peluru itu.
Setidaknya ada 15 bangunan dengan desain yang berbeda. Benteng paling besar ada di tengah area, dan sebuah bangunan serupa kantor yang masih terlihat dalam kondisi bagus. Benteng Kedung Cowek, dibangun sekitar tahun 1900 oleh Hindia Belanda, sempat direbut Jepang dan menjadi benteng pertahanan darat dan penyimpanan amunisi pada agresi militer II.
Benteng Kedung Cowek juga turut andil dalam torehan sejarah perjuangan rakyat Surabaya pada aksi perlawanan menghadapi sekutu. Benteng tersebut digunakan sebagai basis pertahanan rakyat. Ketika melihat pasukan Inggris yang datang melalui selat Madura, militan Surabaya kemudian menggempurnya menggunakan meriam dan senjata artileri peninggalan Belanda dan Jepang. Setelah beberapa hari berperang di bibir pantai, arek-arek Suroboyo dipaksa mundur dan meninggalkan Benteng tersebut. Mereka mundur ke arah selatan dan bertarung di jalan-jalan kota Surabaya.
Setidaknya, itulah gambaran sekelumit tentang Benteng Kedung Cowek. Supinah salah seorang pedagang di sekitar lokasi menceritakan kondisi miris Benteng bersejarah tersebut kini. "Sering digunakan anak pacaran, mesum. Kadang juga kepergok sampai telanjang-telanjang. Belum lagi digunakan sama orang-orang pintar untuk mencari wangsit, sebab letaknya tak jauh dari lokasi makam wali," cerita Supinah.
Harapan warga kepada pemerintah agar Benteng bersejarah ini dipugar dan dibuka sebagai wisata edukasi. Namun sayang, jika nantinya bangunan bersejarah ini raib dan tak jelas fungsinya.
Purnawan Basundoro, dosen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair) menyebut kesadaran masyarakat terutama untuk melestarikan cagar budaya naik turun. Jika mendekati Hari Pahlawan, kesadaran sejarah masyarakat naik tinggi. "Kita warga Surabaya baru ingat berbagai gedung bersejarah itu setahun sekali. Ini yang harus jadi perhatian," cetus dia.
Menurut Purnawan, Kota Surabaya ini sudah tua, berbagai elemen pemerintahan dan masyarakat harus satu pemikiran terkait situs cagar budaya. Dalam Undang-undang cagar budaya sebenarnya disebutkan tanggung jawabnya bukan hanya dari pemerintah, tapi juga masyarakat. n
Editor : Redaksi