Reklamasi Mengubah Nasib: Nelayan Mengare Gresik Kian Terhimpit, Dari Ratusan Ribu Kini Hanya Puluhan Ribu

author M. Aidid Koresponden Gresik

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Perahu nelayan Mengare di Bale Laok, Desa Kramat, Kecamatan Bungah, Gresik. SP/MAIDID
Perahu nelayan Mengare di Bale Laok, Desa Kramat, Kecamatan Bungah, Gresik. SP/MAIDID

i

SURABAYAPAGI.com, Gresik — Kehidupan nelayan di Pulau Mengare, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, kian terpuruk dalam beberapa tahun terakhir. Reklamasi pantai di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Manyar disebut menjadi salah satu faktor utama yang mengubah drastis sumber penghidupan mereka.

Sukhaeri dan anaknya, Wawan, adalah potret nyata dari kondisi tersebut. Keduanya merupakan nelayan asal Dusun Sawo, Desa Kramat, yang kini hanya bisa bertahan di tengah menurunnya hasil tangkapan laut.

Bagi mereka, melaut saat ini bukan lagi soal mencari keuntungan, melainkan sekadar bertahan hidup. Dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup, keduanya tetap harus menghidupi keluarga masing-masing. “Sekarang pulang melaut bawa uang Rp50 ribu saja sudah biasa. Kalau bisa sampai Rp100 ribu, kami sangat bersyukur,” ujar Sukhaeri saat ngobrol santai di balai nelayan Bale Laok, Desa Kramat, Mengare, Rabu (29/4/2026). 

Kondisi ini sangat kontras dibandingkan beberapa tahun lalu, sebelum kawasan KEK JIIPE beroperasi. Saat itu, Sukhaeri mengaku mampu menghidupi keluarganya dengan layak, bahkan menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus dari pesantren. “Alhamdulillah dulu cukup. Anak-anak bisa sekolah sampai selesai, sekarang mereka sudah berkeluarga,” tuturnya.

Wawan, yang mengikuti jejak ayahnya sebagai nelayan, juga merasakan perbedaan mencolok. Ia mengenang masa ketika hasil melaut bisa mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari, bahkan sesekali menembus Rp500 ribu saat tangkapan melimpah. “Dulu hasilnya bisa lebih besar dari gaji pekerja pabrik,” kenangnya.

Namun sejak KEK JIIPE mulai beroperasi pada 2022, hasil tangkapan nelayan perlahan menurun. Kondisi tersebut semakin memburuk ketika wilayah tangkapan di sekitar pesisir depan kawasan industri mulai direklamasi.

Di kawasan yang kini juga menjadi lokasi proyek smelter besar milik PT Freeport Indonesia itu, dulunya terdapat ekosistem laut yang kaya. Terumbu karang dan tumbuhan laut menjadi habitat berkembang biaknya berbagai jenis ikan, udang, hingga rajungan. “Di situ dulu tempat cari rajungan sama ikan bawal. Sehari bisa dapat minimal 10 kilogram,” ungkap Sukhaeri, diamini Wawan.

Kini, area tersebut telah berubah menjadi daratan hasil reklamasi. Dampaknya, nelayan harus melaut lebih jauh untuk mencari hasil tangkapan, dengan biaya operasional yang lebih besar dan hasil yang tidak menentu.

Sukhaeri juga menyoroti janji-janji yang pernah disampaikan pihak pengelola kawasan sebelum reklamasi dilakukan. Menurutnya, saat itu ada komitmen untuk memperhatikan keberlanjutan hidup nelayan. “Tapi kenyataannya tidak ada. Janji tinggal janji,” ujar Wawan dengan nada kecewa.

Keduanya mengaku tidak pernah menerima bantuan, baik berupa alat tangkap maupun bantuan kebutuhan pokok, sebagaimana kabar yang sempat beredar di kalangan masyarakat.

Fenomena yang dialami nelayan Mengare menunjukkan adanya dampak signifikan dari pembangunan kawasan industri berbasis reklamasi terhadap ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat lokal.

Secara ekologis, hilangnya terumbu karang dan vegetasi laut di wilayah pesisir menyebabkan rusaknya habitat alami biota laut. Akibatnya, populasi ikan, udang, dan rajungan menurun drastis. Nelayan yang sebelumnya mengandalkan perairan dangkal kini dipaksa melaut lebih jauh, yang tidak semua mampu dilakukan karena keterbatasan perahu dan modal.

Dari sisi ekonomi, penurunan hasil tangkapan berdampak langsung pada pendapatan nelayan. Ketimpangan antara biaya operasional dan hasil yang diperoleh semakin memperburuk kondisi mereka. Bahkan, profesi nelayan yang dulu menjanjikan kini berubah menjadi pekerjaan dengan tingkat ketidakpastian tinggi.

Secara sosial, kondisi ini juga memicu kerentanan baru. Nelayan yang kehilangan sumber penghasilan berisiko terjerat utang, beralih profesi tanpa keterampilan memadai, atau bahkan terpinggirkan di wilayahnya sendiri.

Kasus di Mengare menjadi pengingat bahwa pembangunan industri perlu diimbangi dengan perlindungan terhadap ekosistem dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat lokal. Tanpa itu, kemajuan ekonomi berpotensi meninggalkan dampak sosial yang mendalam bagi kelompok rentan seperti nelayan tradisional. did

Berita Terbaru

MUI Lamongan Sambangi PCNU, Bahas Tawuran Perguruan Silat hingga Peredaran Miras

MUI Lamongan Sambangi PCNU, Bahas Tawuran Perguruan Silat hingga Peredaran Miras

Sabtu, 17 Okt 2026 19:54 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 19:54 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan  – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lamongan melakukan silaturahmi dan audiensi dengan Pengurus Cabang Na…

Industri Perhiasan Bidik Tren 2027, Desain Ringan dan Batu Permata Buatan Jadi Alternatif

Industri Perhiasan Bidik Tren 2027, Desain Ringan dan Batu Permata Buatan Jadi Alternatif

Sabtu, 17 Okt 2026 19:51 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 19:51 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Industri perhiasan bersiap menghadapi perubahan tren pada 2027. Desain berukuran besar dengan bobot lebih ringan, pilihan warna yang s…

Favehotel Sidoarjo Hadirkan Family Room Akomodasi Spesial Untuk Tamu berkeluarga

Favehotel Sidoarjo Hadirkan Family Room Akomodasi Spesial Untuk Tamu berkeluarga

Sabtu, 17 Okt 2026 19:15 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 19:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Favehotel Sidoarjo selalu berinovasi untuk memberikan pengalaman menginap yang menarik dan menyenangkan bagi para tamu …

Polres Blitar Kota Ungkap Pelaku Pembuang Bayi Perempuan Terbungkus Plastik, Pelaku Berstatus Mahasiswi

Polres Blitar Kota Ungkap Pelaku Pembuang Bayi Perempuan Terbungkus Plastik, Pelaku Berstatus Mahasiswi

Sabtu, 17 Okt 2026 13:25 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 13:25 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Tak kurang waktu dari 24 Jam, Unit PPA Sat.Reskrim Polres Blitar Kota bersama dengan Polsek Srengat berhasil mengungkap pelaku…

Sambangi Media Center Mojokerto, AKBP Herdiawan Pamitan Mutasi ke Polda Jatim

Sambangi Media Center Mojokerto, AKBP Herdiawan Pamitan Mutasi ke Polda Jatim

Sabtu, 17 Okt 2026 12:27 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 12:27 WIB

  SURABAYA PAGI.com, Mojokerto, – Mantan Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Herdiawan Arifianto, S.H., S.I.K., M.H., berpamitan kepada wartawan yang tergabung da…

Penjaga Parkir di Surabaya Terima Bantuan Bedah Rumah, Nur Fadillah: Terima Kasih Pak Prabowo

Penjaga Parkir di Surabaya Terima Bantuan Bedah Rumah, Nur Fadillah: Terima Kasih Pak Prabowo

Sabtu, 17 Okt 2026 11:47 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 11:47 WIB

SurabayaPagi, Surabaya — Harapan Nur Fadillah untuk memiliki rumah yang layak huni mulai menemukan titik terang. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai p…