Praktek Dolly Masih Seperti Yang Dulu

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI, Surabaya - Masalah prostitusi seakan tidak pernah ada habisnya untuk diperbincangkan, pada lagi dikota metropolitan seperti Surabaya ini yang mempunyai ikon lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yaitu Dolly. Namun pada 2014 lalu wali kota Surabaya Tri Rismahari menutup tempat esek yang legal tersebut. Seperti apa sekarang potret lokalisasi Dolly pasca penutupan itu? Apakah sudah tidak adakah prakterk prostitusi di Surabaya khususnya kampung Dolly dan Jarak? Dalam buku kumpulan esai kriminal yang di tulis Noor Arief Prasetyo ini mengungkap kondisi lokalisasi prostitusi di Surabaya pasca ditutup oleh pemerintah kota setempat. "Seluruh esai yang saya terbitkan di buku ini tidak pernah dipublikasikan di surat kabar. Jadi saya menulisnya memang untuk tujuan membuat buku," ucap wartawan yang pulutahun ngepos di kriminal ini saat dikonfirmasi usai peluncuran bukunya di Surabaya, Sabtu 12/11 . Buku setebal 104 halaman itu diberi judul "Surabaya Butuh Lokalisasi", memuat sebanyak 16 esai krisminal yang semuanya berlatar belakang eks lokalisasi prostitusi yang pernah ada di Surabaya. "Lokalisasi prostitusi adalah hulu dan hilir dari tindak kriminal," kata wartawan berusia 43 tahun yang telah bekerja sebagai wartawan koran harian kriminal terbesar di Jawa Timur sejak tahun 1999 itu. Berdasarkan pengalamannya menjadi wartawan untuk koran kriminal, dia selalu menjumpai pelaku kejahatan yang selalu mengawali atau mengakhiri tindak kriminalnya dengan bermabukmabukan dan bahkan berpesta dengan wanita penghibur di kawasan lokalisasi prostitusi. "Pelaku kejahatan itu biasanya mabuk-mabukan dulu lokalisasi kemudian muncul inisiatif melakukan tindak kejahatan. Kalau tidak, ya, sebaliknya, melakukan tindak kejahatan dulu, lalu menghabiskan uangnya di lokalisasi," katanya. Latar belakang itulah yang membuat dia melakukan observasi pasca lokalisasi prostusi di Kota Surabaya ditutup di tahun 2014 oleh pemerintah kota setempat, yang kemudian dituangkannya dalam bentuk esai kriminal berwujud buku "Surabaya Butuh Lokalisasi". “Karena kondisi lokalisasi prostitusi pasca penutupan ternyata masih sama seperti yang dulu. Hanya saja sekarang lebih terselubung. Kondisi sekarang ini lebih menyulitkan pemerintah melakukan pengawasan," ujarnya. Dia mencontohkan, kalau dulu di lingkungan lokalisasi prostitusi ada sekat antara rumah bordil dengan yang bukan dengan tanda bertuliskan "rumah tangga", sekarang sudah sulit membedakannya lagi. "Sudah tidak ada lagi pemeriksaan penyakit menular seksual terhadap pekerja seks," katanya. alq

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru