Hanura Jatim: Kami Menunggu DPP

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pemilihan Cawagub bagi Khofifah, agaknya akan kembali mundur untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Padahal, sebelumnya para Kyai anggota Tim 9 berharap penentuan final bagi Cawagub Khofifah bisa dilakukan sebelum tanggal 13 November. Ketua DPD Partai Hanura Jawa Timur Kelana Aprilianto mengatakan bahwa pemilihan nama final untuk Cawagub bagi Khofifah secara mutlak merupakan kewenangan DPP. Akan tetapi, menurut Kelana, apapun keputusan DPP kelak akan dipatuhi oleh seluruh jajaran kader Partai Hanura di Jawa Timur. "Komunikasi antar bakal koalisi berlangsung intensif di DPP. Kami yang di Jatim menunggu itu. Tapi 100 persen siapapun Cawagubnya nanti kita akan dukung penuh Bu Khofifah. Mau dari Hanura apa bukan nanti Cawagubnya" kata Kelana. Senada, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Muzammil Syafii juga hanya mengatakan bahwa saat ini proses seleksi tersebut saat ini berada di ranah DPP. "Jadi itu belum, belum ada info lebih lanjut soal siapa Cawagub. Nanti dulu, sabar. Dalam waktu dekat, Insya Allah," jelasnya ketika dihubungi melalui sambungan telepon. Terkait hal tersebut, Pengamat politik asal Unesa Agus Mahfud menganggap bahwa selama ini Khofifah masih kalah dengan partai-partai yang berada di gerbong bakal koalisinya. Karena, masing-masing partai hingga saat ini masih menganggap layak untuk mengajukan kadernya sebagai Cawagub bagi Khofifah. "Demokrat misalnya, masih sangat ingin memasukkan internal kader maupun eksternal untuk posisi tersebut. Begitu juga dengan Golkar dan Nasdem. Ini Khofifah harus menunjukkan nilai tawarnya sebagai Cagub. Tidak boleh kalah," kata Agus Mahfud, Selasa(7/11). Khofifah, menurut Agus, seharusnya mampu memilih sendiri wakilnya dan tidak hanyut dalam desakan partai-partai yang berada di gerbong bakal koalisinya. "Pemilihan Cawagub, seharusnya berdasarkan figur yang turut mampu mengangkat namanya dan memperoleh kemenangan," jelasnya. Secara terpisah, Dekan Fisip Universitas Trunojoyo Madura(UTM) Surokim Abdussalam menganggap bahwa delay politik yang tengah dilakukan oleh Khofifah tidak akan selalu berdampak baik. Menurutnya, Khofifah selama ini selalu cenderung terlambat dalam melakukan langkah politik. "Jadi dengan begitu, kadang Khofifah ini kehilangan momentum. Jatim ini wilayah budayanya beragam dengan perilaku pemilih yang beragam pula. Membutuhkan strategi panjang dalam meraih suara. Semakin sering delay maka akan sering kehilangan waktu dan pesaing terus melaju," ujar Rokim. Lebih lanjut, Rokim juga menganggap wilayah rural di Jawa Timur juga sangat membutuhkan perhatian khusus. "Pemilih Jatim yang ada di wilayah rural itu butuh sentuhan khas dan lebih khusus yang membutuhkan waktu yang juga panjang untuk menyapa secara langsung," jelasnya. Penyusunan strategi untuk meraih dukungan di Jawa Timur juga dipandang oleh Rokim perlu mendapatkan perhatian yang sangat khusus. Sebab, demografi masyarakat di Jawa Timur sangat beragam. "Wilayah Jatim ini luas dan beragam ada masyarakat maju, ada masyarakat terbelakang, ada yang kritis, ada yang anut grubyuk. Semua ada di Jatim yang butuh penanganan berbeda. Itu butuh waktu serta kecepatan dalam strategi meraih dukungan," tegas Rokim. ifw

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru