Poros Tengah Harus Segera Diwujudkan

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Dua kader terbaik NU, Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa, hampir bisa dipastikan bakal berhadapan dalam gelaran Pilgub Jatim 2018. Kondisi demikian, NU dihadapkan dengan NU, oleh Kaukus Politik Cerdas Bermartabat dipandang justru dapat membawa kemunduran bagi Jawa Timur ke depannya. Pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W. Oetomo memandang bahwa perang statement antara para Kyai dan antar pendukung tersebut adalah pemicu dari kemunduran bagi Jawa Timur. Terlebih lagi, jika hal tersebut berkepanjangan dan tidak dikelola dengan dewasa. "Bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu hingga bisa memicu Perang Paregreg di Pilgub nanti. Perang sesama anak kandung NU," ungkap pria yang juga Direktur Surabaya Survey Centre tersebut pada acara "Diskusi Panel: "Perang Paregreg Di Pilgub Jatim" yang diselenggarakan oleh Kaukus Politik Cerdas Bermartabat, Jumat(17/11). Meski demikian, menurut Mochtar, polarisasi pada Pilgub Jatim 2018 bakal kecil kemungkinan menyentuh wilayah SARA. "Polarisasi yang terjadi mungkin hanya sebatas antara NU struktural dengan NU kultural dalam hal dukungan ke kedua kandidat. Tetapi, jika perang ujaran itu berlarut bisa saja pertentangan itu akan melebar ke polarisasi antar wilayah, antar banom NU, antar pondok dan Kyai yang pada gilirannya akan melebar ke santri sebagai akar rumput pendukung. Jika sudah begini potensi konflik horizantal bisa semakin memuncak," tegasnya. Pada kesempatan yang sama, pakar komunikasi politik asal Unitomo Redi Panuju juga memiliki anggapan yang tidak jauh berbeda. Menurutnya, pamer sumber dukungan ataupun legitimasi primordial merupakan dinamika kontestasi Pilkada yang tidak sehat. "Itu merupakan pengingkaran mutlak terhadap Bhineka Tunggal Ika. Sekarang sudah masuk ke Merit System. Ini dimana lebih dibutuhkan profesional, rasional, kritis, inovatif. Agak naif juga kalau Jatim yang dominan NU maka otomatis Gubernurnya juga harus NU. NU itu adalah identitas kultural. Identitas kultural ini sangat berbeda dengan identitas politik" jelas Redi. Dengan demikian, Redi berpendapat bahwa dua poros yang sudah ada terlalu menonjolkan kekuatan primordial. "Itu adalah bentuk kemunduran. Karena isu yang muncul pasti SARA dan soal agama. Seolah-olah agama adalah sumber legitimasi," jelasnya. Sehingga, menurut Redi, kondisi demikian menjadikan munculnya poros tengah pada Pilgub Jatim menjadi perlu. Hal tersebut sebagi parameter penguji untuk pola politik yang terjadi di Jawa Timur. "Poros tengah ini untuk menguji, apakah dengan dominasi NU lalu politik Jatim akan monoton atau tidak. Gerindra, PAN, dan PKS ini seharusnya pede dengan Poros Emas yang mereka gagas untuk kepentingan pluralisme. Kalau menyerah dan ikut arus, berarti dari segi perspektif politik Jatim bakal monoton," pungkas Redi. Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad mengatakan bahwa perang saudara yang terjadi antar sesama NU juga menjadi salah satu alasan munculnya gagasan Poros Emas. "Salah satunya berdasarkan dari keresahan masyarakat yang diutarakan oleh para akademisi tentang perang saudara antar NU," katanya. Di sisi lain, menurut Sadad, Poros Emas kelak akan menunjukkan bentuk politik yang berbeda. Ia menjamin, setelah menemukan formulasi Cagub-Cawagub, Poros Emas bakal menunjukkan gagasan yang akan ditawarkan. "Karena itu yang dibutuhkan oleh Jawa Timur. Bukan perang klaim dukungan yang menggunakan term agama seperti fardhu ain atau apa itu. Pilkada itu sejatinya adalah perang gagasan dan perang ide," pungkas Sadad. ifw

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru