SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Praktik black campaign atau ujaran kebencian saat ini sangat mudah ditemukan pada setiap praktik Pilkada. Meskipun demikian, nampaknya hampir seluruh partai politik yang ada di Jawa Timur tidak ambil pusing dengan potensi negatif tersebut.
Setelah sebelumnya parpol pendukung Gus Ipul dan Khofifah, kali ini Gerindra dan PAN yang disebut-sebut akan membentuk poros tengah juga mengaku tidak merisaukan tingginya potensi black campaign tersebut. Tidak jauh berbeda, parpol-parpol tersebut memandang bahwa saat ini masyarakat yang sudah semakin cerdas sudah jenuh dengan pola kampanye yang cenderung memecah belah.
Bendahara DPW PAN Jawa Timur Agus Maimun berpendapat bahwa masyarakat sudah jenuh dengan pola kampanye yang cenderung destruktif. Masyarakat, khususnya Jawa Timur, lebih suka hal-hal yang membangun.
"Jadi saya rasa tidak akan begitu efektif ya ke depannya. Masyarakat kita sudah semakin pintar. Lebih suka apa yang memiliki hasil positif. Analisis beberapa akademisi juga bisa dibilang ada benarnya. Semakin dikuyo-kuyo orang di Jawa Timur, semakin mudah mendapatkan simpati. Lagipula, untuk apa black campaign ini. Politik itu bagaimanapun harus menggunakan etika. Politik yang baik itu yang beretika, penggunaan black campaign ini sangat jauh dari beretika," jelas Agus Maimun, Selasa(5/12).
Akan tetapi, pria yang juga Ketua Fraksi PAN DPRD Jatim tersebut mewanti-wanti kepada para oknum dibalik black campaign untuk tidak sembarangan menyerang PAN pada Pilkada Serentak 2018 nanti. "Walaupun pada prinsipnya kami tidak akan menghiraukan hal-hal semacam itu, tetapi apabila ada yang secara nyata sudah diatur oleh koridor hukum maka sudah jelas akan kami proses. Bagaimanapun juga, marwah partai akan kami jaga," tegas Agus Maimun.
Bagaimana dengan pola kampanye yang bakal diterapkan oleh PAN pada Pilkada Serentak 2018? Agus Maimun menjelaskan bahwa PAN pada umumnya akan menggunakan pola-pola yang memang diinginkan oleh masyarakat.
"Karena masyarakat ini ingin hal-hal yang bersifat membangun, maka saya rasa secara umum kami akan berikan itu. Kami akan munculkan gagasan untuk pembangunan dan juga kinerja," pungkas Agus Maimun.
Secara terpisah, Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad juga memiliki pandangan yang sama. Ia menegaskan bahwa Partai Gerindra akan menggunakan pola pendidikan politik yang membangun dalam kaitan Pilkada Serentak 2018.
"Pola politik seperti di era kemerdekaan itu adalah politik yang menyenangkan. Itu yang akan kita bawa pada kaitan Pilkada. Politik di era tersebut adalah kondisi dimana banyak argumen seperti black campaign. Tapi bukan sembarang argumen, tetapi argumen yang dapat diuji dan sangat membangun. Jadi tidak secara total anti argumen atau anti debat," jelas Sadad.
Bagaimana dengan Black Campaign? Sadad juga memandang bahwa masyarakat Jawa Timur sudah cukup cerdas dalam memilah informasi. "Meskipun tidak bisa dibilang sangat spektakuler, tapi sudah cukup bisa untuk tidak termakan black campaign," katanya.
Hanya saja, Sadad menyayangkan bahwa dua kandidat Cagub yang sudah ada masih berusaha menggunakan pembenaran sepihak untuk menggaet pemilih. Terlebih lagi, menurutnya, cara yang digunakan sangat tidak etis dengan menggunakan isu agama.
"Apalagi kalau sudah menggunakan hukum-hukum agama seperti Fardhu Ain atau apalah itu. Sangat tidak elok ketika tidak ingin didebat dengan cara seperti itu. Apalagi kalau ditambahkan dengan kalimat yang berbunyi kalau tidak memilih ini bisa berdosa atau semacamnya," tegas Sadad. ifw
Editor : Redaksi