SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Paket bom menjelang perayaan Natal dan tahun baru yang meledak tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, mengungkap fakta tak terduga. Semula bom rakitan yang dikemas layaknya paket ekspedisi itu dikhawatirkan terkait kelompok radikal, lantaran Polri baru saja menangkap terduga teroris di Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Namun nyatanya, peledakan bom berdaya ledak rendah (low explosive) itu bermotif asmara. Pelaku cemburu karena istrinya diselingkuhi korban. Meski begitu, Polri tetap waspada, mengingat bahan-bahan pembuatan bom mudah didapat di toko-toko bahan kimia di Surabaya.
------------
Teka teki siapa perakit dan pengirim bom yang meledak di Jalan Laksda M Nasir, Perak Surabaya, Senin (11/12/2017) lalu, akhirnya terkuak. Setelah Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya melakukan perburuan lebih dari 24 jam, pelaku berhasil ditangkap, Jumat (15/12/2017). Perakit dan pengirim bom rakitan itu Edy Wijanarko (42), pria asal Blitar yang sudah menetap di Jalan Dukuh Bulak Banteng II B/1, Kenjeran, Surabaya.
Sedangkan orang yang dikiriminya bom rakitan itu adalah Anton Warjono (AW), pria 34 tahun asal Sidobogem, Kec. Sugio Lamongan. Anton merupakan karyawan bagian operasional PT. Bahana Line Jalan Laksda M. Nasir No. 29 blok B 11 Perak Surabaya. Di warung depan kantornya itulah, Anton menjadi korban ledakan bom setelah dia menerima dan membuka paket kiriman dari Edy.
Kendati mendapat serangan berupa ledakan bom pada Senin (11/12/2017) malam sekitar pukul 22.30 Wib. Namun Anton baru melapor ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Rabu (13/12/2017) siang. Sebab Anton langsung shock dan tidak percaya akan mendapat serangan bom itu. Atas laporan itu, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya AKBP Ronny Suseno membentuk tim khusus. Sebab, dikhawatirkan paket bom itu berpotensi mengganggu keamanan jelang Natal dan Tahun Baru 2018.
"Tim khusus yang kami bentuk dipimpin oleh Kasatreskrim (AKP Ardian Satrio Utomo). Setelah bekerja kurang dari 2X24 jam, tim khusus kami berhasil menangkap pelakunya," cetus AKBP Ronny.
Perwira polisi asli Surabaya ini menambahkan, pelaku (Edy) pengeboman tersebut berhasil ditangkap di teras Indomaret Terminal Arjosari Malang, saat ketiduran. Diduga Edy sengaja kabur pasca meledakkan bom rakitannya itu, dari Surabaya menuju Blitar. Setelah digelandang ke Surabaya, Edy mengakui semua perbuatannya. Bersama Edy, diamankan 2 HP. Satu HP, untuk memesan ojek online dan satu HP lagi, dus book-nya digunakan sebagai pembungkus rakitan bom yang dibuatnya.
Belajar Otodidak
Pelaku Edy, lanjut AKBP Ronny, sudah merencanakan aksinya tersebut setahun lalu. Itu setelah Edy mengetahui bahwa Indah, istrinya diselingkuhi oleh Anton sejak 2014 silam. Sejak setahun, Edy belajar merakit bom dari internet. "Awalnya pelaku ingin merakit bom ikan. Karena rumit, akhirnya membuat rangkaian bom sederhana yang sudah dimodifikasi. Bahan-bahannya dia beli di toko kimia di Surabaya," bebernya.
Dari hasil pemeriksaan, Edy memang sudah mengenal dunia kelistrikan dan elektronik sejak dirinya mengenyam pendidikan di STM (sekarang SMK) jurusan mesin. Edy merakit, mengirim dan meledakkan bom rakitannya itu dengan tujuan memberi pelajaran buat Anton. Dengan harapan, aksinya tersebut tidak akan terendus oleh polisi.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKP Ardian Satrio Utomo mengungkapkan jika identitas pelaku Edy terkuak, setelah pihaknya memeriksa intensif Anton. Dari keterangan Anton itulah, sejumlah orang dia curigai. Namun akhirnya pelaku mengerucut pada sosok Edy. "Rencana pelaku ini begitu rapi," katanya.
Betapa tidak, lanjut AKP Ardian. Pelaku Edy menghilangkan tulisan nomor atau kode IMEI pada dus book HP yang dipakainya untuk membungkus rangkaian bom yang dirakitnya. Untuk memesan ojek online yang mengantar paketan bom itu, Edy bahkan membeli HP baru. Edy memesan ojek online dengan nama orang lain. Begitu dengan paket yang dikirimkan ke Anton tersebut, Edy juga memakai nama orang lain.
Pengakuan Pelaku
Sepanjang gelar kasus, mata Edy terlihat berkaca-kaca. Sesekali terlihat matanya meneteskan air mata. Berulangkali pula dia mengaku menyesal dengan apa yang dilakukannya. Di balik kerpus kepala, Edy sedikit bercerita mengapa dia nekat membuat bom tersebut. "Saya sangat dendam pada dia (Anton). Sejak 2014, istri saya diselingkuhinya. Sebenarnya saya ingin duel secara gentle. Tapi saya takut istri saya tahu dan malah akan meninggalkan saya," aku bapak dua anak ini.
Atas dasar itulah, Edy mulai belajar cara membuat bom. Selama setahun, Edy sudah mencoba meledakkan bom rakitannya sebanyak 6 kali. Setelah dirasa rangkaian yang dirakitnya sempurna, Edy pun membuat bom tersebut. "Saya hanya ingin memberi dia pelajaran. Agar tidak seenaknya berhubungan dengan istri orang," ujar tenaga mekanik mesin kapal ini.
"Saya menyesal Pak. Saya titip agar anak-anak saya dirawat dengan baik oleh istri saya. Saya tidak menyangka akhirnya hidup saya jadi begini," tutup Edy. Kendati menyesal, ancaman hukuman seumur hidup tetap saja menantinya. Sebab penyidik menjerat Edy dengan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat RI No 12 Tahun 1951 tentang penyalahgunaan bahan peledak dan Pasal 340 KUHP Jo Pasal 53 KUHP tentang percobaan pembunuhan.
Awasi Toko Kimia
Pasca kejadian itu, Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya akan memperketat pengawasan di toko-toko bahan kimia. Hal ini untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan bahan kimia tertentu sebagai bahan merakit bom. Namun penertiban itu bukan pada penjual, tapi pada pembeli potasium.
Caranya, mendatangi masing-masing toko kimia untuk disosialisasikan agar mencatat siapa saja yang membeli.
"Bahan yang digunakan tersangka memang potasium yang dibeli dari toko bahan kimia di seputaran Surabaya. Kalau untuk pencegahan, kami akan melakukan pengawasan pada pembeli bahan kimia berbahaya," kata AKBP Ronny Suseno.
Ronny mengatakan, cara merangkai bom berdaya ledak ringan seperti yang dirakit oleh tersangka mudah sekali dipelajari dari tutorial internet. Menurut Ronny, sangat mungkin ilmu merakit bom ini ditiru oleh orang lain. Sebab, di dalam tutorial di internet ada beberapa yang detail ada beberapa yang tidak.
Kejadian pengiriman paket bom ponsel itu berlangsung Senin (11/12) sekitar pukul 20.45 WIB. Ketika itu office boy PT Bahana Line bernama Lilo menerima paket dibungkus kresek warna hitam dari orang tak dikenal. Paketan itu ditujukan pada Anton Warjono. Lantas paket tersebut sekitar pukul 21.30 WIB.
Sewaktu dibuka di dalam kresek hitam itu terdapat dus book ponsel Samsung A5 dan secarik kertas yg bertuliskan "ANTON WARJONO, 081222777609". Curiga dengan kemasan itu, Anton kemudian mengocok dus book ponsel untuk mengetahui isi di dalamnya.
Anton kemudian membuka paket dengan perlahan-lahan dan terlihat isi paket berupa pecahan kaca. Dinilai mencurigakan, Anton menutup kembali dengan perlahan kemasan paket itu. Begitu ditutup langsung meledak. Paketan tersebut berserakan di meja warung dan tanah.
Dari sisa ledakan berupa dus book ponsel Samsung A5 warna biru, pecahan kaca, baterai kotak 9V merek Panasonic, rangkaian kabel warna hijau merah dan hitam, sisa serbuk warna hitam, jepitan baju dan sobekan kertas koran. n
Editor : Redaksi