Tradisi Serangan Fajar Harus Mulai Ditinggalkan

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Para peserta Pilgub Jatim 2018 sudah harus meninggalkan kebiasaan untuk melakukan serangan fajar di hari pemilihan. Serangan fajar yang biasanya berupa pembagian uang kepada masyarakat untuk mengarahkan pilihan mereka, ternyata sudah tidak lagi begitu efektif. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Centre(SSC), 43.6 persen responden saat ini mengaku bahwa mereka akan menerima uang dari Cagub-Cawagub, hanya saja pemberian tersebut sama sekali tidak akan merubah pilihan yang sudah mereka ambil sebelumnya. 34.8 persen responden lainnya juga menyatakan bahwa akan mengambil uang yang diberikan Cagub-Cawagub, tetapi si pemberi uang tersebut sama sekali tidak akan menjadi pilihan mereka. Hal tersebut dikarenakan 34.8 persen responden tersebut yakin bahwa si pemberi uang akan korupsi untuk balik modal apabila terpilih kelak. Di sisi lain, 8.7 persen responden mengaku bakal menerima uang dari seluruh Cagub-Cawagub yang melakukan serangan fajar. Bagaimana dengan pilihan mereka? Responden dari kategori ini memastikan bakal mengarahkan pilihan mereka kepada Cagub-Cawagub yang memberikan uang dengan nominal paling tinggi. Meskipun demikian, masih ada 12.1 persen responden yang menyatakan bakal langsung memilih siapapun yang kelak memberikan mereka uang. Terkait temuan tersebut, Peneliti Senior SSC Surokim Abdussalam memandang bahwa saat ini politik uang hanya akan efektif di kalangan masyarakat pedesaan dengan latar belakang pendidikan dari para pemilih yang bisa terbilang minim. Sehingga, ia menghimbau kepada para peserta pemilu agar sangat berhati-hati dan bijak untuk tidak menggunakan politik uang “Sekarang ini budaya bagi-bagi uang atau katakanlah sembako sudah semakin tidak populer. Masyarakat sudah mulai meningkat literasi politiknya. Budaya politik uang, justru malah bisa jadi bumerang, ”kata Rokim. Pria yang juga Dekan Fisip Universitas Trunojoyo Madura tersebut lebih lanjut menjelaskan bahwa bumerang yang ia maksud adalah pola politik uang justru bakal menjadi strategi yang kontra produktif bagi mereka yang menggunakan metode tersebut. “Terlebih lagi apabila diterapkan di daerah urban. Survey SSC periode lalu juga menunjukkan hal yang sama. Jika masih ada paslon yang meyakini bahwa politik uang masih sangat relevan, maka paslon tersebut sudah bisa dipastikan tidak update hasil survei. Patut dikasihani yang begitu itu,” jelasnya. Sebagai informasi, data-data tersebut diatas diperoleh melalui survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Centre di 38 Kab/Kota di Jawa Timur pada kurun waktu 25 November-8 Desember 2017. Survei tersebut dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan 940 responden. Tingkat kepercayaan dari hasil tersebut sebesar 95 persen dengan margin of error 3.2 persen. ifw

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru